#30 tag 24jam
Sujud dalam Ayat-ayat Al-Qur'an, Mengandung Banyak Makna!
Al-Quran menjelaskan bahwa makna sujud tidak hanya sebatas gerakan meletakkan dahi ke bumi. Kata sujud memiliki beberapa makna sesuai konteks ayat yang digunakan.... | Halaman Lengkap [409] url asal
#sujud #jenis-sujud #gerakan-sujud #ayat-ayat-al-quran #tadabur-ayat-al-quran
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 01/07/26 16:20
v/265250/
Sujud merupakan salah satu bentuk ibadah yang memiliki kedudukan sangat istimewa dalam Islam. Selain menjadi rukun salat, sujud juga menjadi momen paling dekat antara seorang hamba dengan Allah SWT. Pada saat bersujud, seorang Muslim menunjukkan kerendahan dirinya di hadapan Sang Pencipta sekaligus mengakui kebesaran dan keagungan-Nya.Namun, ayat-ayat Al-Qur'anmenjelaskan bahwa makna sujud tidak hanya sebatas gerakan meletakkan dahi ke bumi. Kata sujud memiliki beberapa makna sesuai konteks ayat yang digunakan.
1. Sujud sebagai Bentuk Penghormatan
Salah satu makna sujud adalah bentuk penghormatan dan pengakuan terhadap kelebihan pihak lain. Hal ini tergambar dalam kisah para malaikat yang diperintahkan Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam AS.Allah SWT berfirman:
"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, 'Sujudlah kamu kepada Adam,' maka mereka pun bersujud kecuali Iblis. Ia enggan dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan orang-orang kafir." (QS Al-Baqarah: 34).
Sujud para malaikat kepada Adam bukanlah bentuk ibadah kepada manusia, melainkan penghormatan atas kemuliaan yang Allah berikan kepada Adam AS.
2. Sujud sebagai Pengakuan Kebenaran
Makna lain dari sujud adalah bentuk pengakuan terhadap kebenaran setelah sebelumnya berada dalam kekeliruan.Hal ini terlihat ketika para penyihir Fir'aun menyaksikan mukjizat Nabi Musa AS. Mereka langsung menyadari bahwa apa yang dibawa Nabi Musa bukanlah sihir, melainkan tanda kekuasaan Allah.
Allah SWT berfirman:
"Lalu para penyihir itu tersungkur bersujud seraya berkata, 'Kami beriman kepada Tuhan Harun dan Musa.'" (QS Thaha: 70).
Sujud dalam ayat tersebut menjadi simbol keimanan dan penyesalan atas kesalahan yang telah dilakukan.
3. Sujud sebagai Ketundukan kepada Ketetapan Allah
Al-Qur'an juga menggunakan kata sujud untuk menggambarkan seluruh makhluk yang tunduk kepada hukum dan ketetapan Allah SWT.Allah berfirman:
"Dan tumbuh-tumbuhan serta pohon-pohonan, keduanya tunduk kepada-Nya." (QS Ar-Rahman: 6).
Menurut para ulama, sujud dalam ayat ini bukan berarti tumbuhan dan pepohonan melakukan gerakan seperti manusia, melainkan tunduk sepenuhnya kepada sunnatullah atau hukum-hukum Allah yang mengatur alam semesta.
Penjelasan Quraish Shihab
Pakar tafsir Prof. M. Quraish Shihab menjelaskan dalam buku Wawasan Al-Qur'an bahwa kata masjid berasal dari akar kata sajada yang berarti tunduk, patuh, taat, dan merendahkan diri dengan penuh penghormatan.Karena itu, masjid bukan sekadar tempat melakukan gerakan sujud, tetapi menjadi tempat seorang Muslim menunjukkan kepatuhan total kepada Allah SWT.
Secara syariat, bentuk sujud diwujudkan dengan meletakkan dahi, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan ujung kaki di atas tanah. Gerakan inilah yang menjadi simbol paling nyata dari ketundukan seorang hamba kepada Rabb-nya.
Benarkah Islam Agama Perang? Simak Sejarah Turunnya Perintah Berperang dalam Al-Qur'an
Benarkah Islam agama perang? Adakah perintah atau ayat berperang dalam Al Quran? Pertanyaan tersebut menarik disimak dan penting diketahui terutama oleh kaum Muslim.... | Halaman Lengkap [807] url asal
#sejarah-islam #ayat-ayat-al-quran #ayat-perintah-berperang #perang-dalam-islam #sejarah-peperangan-islam
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 28/06/26 16:15
v/262079/
Benarkah Islam agama perang? Adakah perintah atau ayat berperangdalam Al Quran? Pertanyaan tersebut menarik disimak dan penting diketahui terutama oleh kaum Muslim. Berikut penjelasannya.Perang dalam Islam bukanlah hal yang diada-adakan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam melainkan ada sebab musababnya. Ulasan ini sekaligus meluruskan pandangan yang mengatakan Islam agama radikal dan suka perang.
Justru, Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW adalah agama rahmatan lil 'alamin , yaitu agama yang membawa rahmat dan kemaslahatan bagi semesta alam.
Untuk diketahui, sejak awal sejarah kehidupan manusia sebelum diturunkannya Kitab Injil dan Al-Qur'an, manusia sudah sering terlibat perang. Namun, perang dalam Islam prinsipnya adalah mempertahankan diri dan untuk menegakkan serta membela kalimat Allah. Islam tidak pernah menyerang musuh lebih dahulu.
Perang yang dilakukan Rasulullah SAW adalah perintah (wahyu) dari Allah 'Azza wa Jalla. Apa yang dilakukan beliau bukan kemauan hawa nafsunya. "Ucapannya (Rasulullah SAW) itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)." (QS An-Najm ayat 3-4)
Turunnya Perintah Perang
Dalam Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam diceritakan, sejarah perang dalam Islam bermula dari turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad SAW. Sebelum terjadinya Baiat Al-Aqabah, Rasulullah SAW tidak diizinkan berperang dan darah tidak dihalalkan bagi beliau.Beliau hanya diperintahkan berdakwah di jalan Allah, bersabar terhadap semua gangguan dan memaafkan orang-orang Jahiliyah. Ketika itu, orang-orang kafir Makkah menyiksa kaum muslim Muhajirin yang mengikuti Rasululah SAW hingga mengeluarkan mereka dari agama mereka dan mengusirnya dari negeri mereka.
Kaum Muslimin Makkah hidup dalam siksaan sehingga ada yang lari ke negeri-negeri lain. Di antara mereka ada yang lari ke Habasyah, ada yang ke Madinah dan ke negeri-negeri lainnya. Ketika orang-orang kafir Quraisy semakin membangkang, mendustakan Rasulullah SAW, menyiksa dan mengusir umat muslim, maka Allah mengizinkan Rasul-Nya berperang melawan orang-orang kafir yang menzalimi dan menindas kaum muslimin.
Ayat pertama yang turun kepada Rasulullah SAW terkait izin perang melawan kafir Makkah tersebut yaitu firman Allah berikut:
Artinya: "Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha kuasa menolong mereka itu. (Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, 'Tuhan kami hanyalah Allah.' Dan sekiranya Allah tidak menolak sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa." (QS Al-Hajj: 39-40).
Maksudnya, Allah menghalalkan perang kepada mereka, karena mereka telah dizalimi. Setelah itu, Allah menurunkan ayat yang artinya: "Dan perangilah mereka, sehingga tidak ada fitnah lagi." (QS Al-Baqarah ayat 193)
Selama 13 tahun di Makkah, Allah membela orang beriman dengan menguatkan hati mereka untuk bersabar menghadapi hinaan, boikot, pengusiran dan pembunuhan yang dilakukan orang-orang kafir. Ayat ini memperbolehkan kaum muslim berjihad memerangi orang-orang kafir kala itu.
Sebenarnya Allah Maha Kuasa membela dan memenangkan orang-orang beriman tanpa melakukan perang. Akan tetapi Allah hendak menguji hati hamba-Nya yang mukmin, sampai di mana ketabahan mereka menghadapi cobaan-cobaan Allah. Sampai di mana ketaatan dan kepatuhan mereka melaksanakan perintah-perintah Allah.
Kaum Muslimin Makkah Diizinkan Hijrah ke Madinah
Ibnu Ishaq berkata, ketika Allah mengizinkan Rasulullah SAW berperang, kaum Anshar Madinah masuk Islam dan menolong beliau dan pengikutnya serta melindungi kaum Muslimin yang datang ke Madinah. Ralulullah SAW pun memerintahkan sahabatnya di Mekkah untuk hijrah ke Madinah dan bergabung dengan kaum Anshar Madinah.Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla telah menjadikan untuk kalian saudara-saudara dan negeri yang kalian merasa aman di dalamnya."
Kemudian kaum Muslimin Mekkah hijrah ke Madinah kelompok per kelompok. Rasulullah SAW menetap di Mekkah menunggu izin (wahyu dari Allah) untuk berangkat Hijrah dari Mekkah ke Madinah. Akhirnya Rasulullah SAW dan para sahabat bersama-sama hijrah ke Madinah.
Perang Al-Abwa atau Waddan merupakan pertempuran pertama pasukan Muslim dan Nabi Muhammad SAW yang menyebabkan terjadinya Perang Badar pada 17 Ramadan Tahun ke-2 Hijriah. Perang ini bermula dari kesalahpahaman kafilah dagang kaum kafir Mekkah sehingga menyulut pertempuran dengan pasukan muslim.
Inilah perang besar pertama kaum muslimin dipimpin Rasulullah SAW melawan kaum kafir Mekkah. Allah 'Azz wa Jalla memberi kemenangan kepada kaum muslimin dan menguatkan hati mereka dalam menegakkan agama Allah.
Jadi kesimpulannya, perang yang dilakukan oleh Rasulullah SAW seperti Perang Badar, Perang Uhud dan lainnya merupakan respons terhadap apa yang dilakukan orang-orang kafir terhadap umat Islam.
Dalam berperang, kaum muslimin pun diikat dengan aturan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: "Pergilah kalian dengan nama Allah, dengan Allah dan atas agama Rasulullah, jangan kalian membunuh orang tua yang sudah tidak berdaya, anak kecil dan orang perempuan, dan janganlah kalian berkhianat, kumpulkan ghanimah-ghanimahmu, dan berbuatlah maslahat, serta berbuatlah yang baik, karena sesungguhnya Allah senang kepada orang-orang yang berbuat baik." (HR Abu Dawud)
Khasiat Surat Al Waqiah yang Jarang Diketahui: Rezeki Lancar, Hidup Berkah hingga Wajah Bercahaya di Akhirat
Khasiat membaca surat Al-Waqiah , maka Allah Taala akan memberikan banyak manfaat, salah satunya adalah kemudahan rezeki dan dihindari dari kesusahan. Khasiat... | Halaman Lengkap [254] url asal
#surat-al-waqiah #surat-surat-al-quran #fadhilah-al-waqiah #fadhilah-ayat-ayat-al-quran
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 27/06/26 16:45
v/261674/
Khasiat membaca surat Al-Waqiah, maka Allah Ta'ala akan memberikan banyak manfaat, salah satunya adalah kemudahan rezeki dan dihindari dari kesusahan.Seperti diketahui, surat Al-Waqiah memiliki keutamaan yang paling masyhur yakni sebagai pembuka pintu rezeki. Surat ini adalah surat ke 56 di dalam Al-Quran, memiliki 96 ayat dan tergolong ke dalam surat Makkiyah alias yang diturunkan di kota Makkkah.
Dalam buku 'Multi Perspektif Surat Al-Waqiah', penulis Zakia Machdi menyebutkan, bahwa membaca surat Al-Waqiah merupakan amalan terbaik bagi perempuan, karena bisa menjadi pelindung bagi dirinya dari segala kemudharatan yang ada di dunia dan juga agar terhindar dari kemiskinan.
Dijauhkan dari Marabahaya Dunia
Dalam kitab Tsawabul A’mal disebutkan Abi Abdullah berkata bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda, “Barangsiapa yang membaca surat Surat Al-Waqi’ah di setiap malam Jumat. Maka Allah mencintainya dan menjadikan seluruh umat manusia mencintainya.""Ia (pembaca Surat Al-Waqi’ah) tidak tertimpa kesengsaraan, kefakiran, kemiskinan dan marabahaya dunia. Dan ia termasuk golongan teman amirul mukminin. Surat ini dikhususkan untuk amirul mukminin, dan tiada seorang pun yang bersekutu di dalamnya.”
Muhammad bin Hamzah berkata, Ash-Shidiq berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang merindukan surga dan sifatnya, maka bacalah Surat Al-Waqi’ah. Dan barangsiapa yang suka melihat sifat neraka, maka bacalah ayat sajadah dan Surat Luqman."
Abu Ja’far berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Barangsiapa yang membaca Surat Al-Waqi’ah setiap malam sebelum tidur, maka ia akan bertemu Allah (di akhirat) dengan wajah bersinar seperti bulan di malam bulan purnama.”
Kaitan Hari Kiamat dan Rezeki dalam Surat Al Waqiah, Ternyata Ini Rahasianya
Surat Al Waqiah kerap dijadikan sebagai bacaan rutin di pagi dan malam hari, dan diyakini sebagai surat Al Quran yang dapat memudahkan datangnya rezeki dan menolak... | Halaman Lengkap [457] url asal
#surat-al-waqiah #fadhilah-al-waqiah #al-waqiah-pelancar-rezeki #surat-surat-al-quran #hari-kiamat
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 27/06/26 15:02
v/261611/
Al-Waqiah (Hari Kiamat) , salah satu surat dalam Al-Qur’anyang sudah tidak asing lagi bagi sebagian besar kaum muslimin. Surat ini kerap dijadikan sebagai bacaan rutin di pagi dan malam hari, dan diyakini sebagai surat Al Qur'an yang dapat memudahkan datangnya rezeki dan menolak kemiskinan.Seorang Muslim yang membaca Surat Al Waqiahjuga tidak akan digolongkan sebagai orang-orang lalai. Karena di dalamnya terdapat peringatan di antaranya tentang betapa ngerinya Hari Kebangkitan atau Hari Kiamatkelak, dan Hari Penghitungan.
Surat Al Waqiah dapat dibaca pada waktu melaksanakan salat malam atau di sepertiga malam, atau di antara waktu salat Subuh sampai terbitnya matahari. Boleh juga membaca surat tersebut pada setiap Jumat.
Lantas, kaitannya dengan kelancaran rezeki apa? Pertanyaan serupa dilontarkan oleh Muhammad Makhdlori dalam bukunya yang berjudul 'Bacalah Surat Al-Waqiah, Maka Engkau akan Kaya! (2007)'. Ia mencoba menguraikan kaitan antara surat Al-Waqiah yang membahas tentang peristiwa hari kiamat dan keutamaannya sebagai penangkal kemiskinan.
Dari penjelasan di bukunya, setidaknya ada tiga pokok utama yang mendasari keterkaitan antara surat Al-Waqiah yang membahas terkait hari kiamat dengan fadhilahnya sebagai pemudah datangnya rezeki.
1. Segala yang terjadi di muka bumi ini merupakan ketentuan Allah, demikian halnya dengan rezeki.
Selain itu, pengertian rezeki tak melulu harus kekayaan, uang, ataupun harta semata. Dalam Islam, pengertian rezeki memiliki makna yang lebih luas dari sekadar materi, seperti kesehatan, hujan, keluarga yang salih, hingga ketenangan hati pun sebuah rezeki dari Allah.2. Mengetahui cara memanfaatkan rezeki lebih penting dibanding cara mendapatkannya.
Ini adalah poin yang hendak ditekankan dalam surat Al-Waqiah. Dalam surat tersebut disebutkan tentang nasib orang-orang yang mendustakan nikmat Allah, serta nasib orang-orang yang mensyukuri nikmat Allah.Orang yang salah memanfaatkan rezeki yang diberikan oleh Allah hanya akan berakhir dengan azab yang pedih dari Allah di neraka. Sebaliknya orang yang benar dalam memanfaatkan rezekinya, bersyukur atas rezeki yang didapatnya, maka Allah akan menambah rezeki itu di dunia, lalu di surga kelak akan ditambah lagi dengan balasan surga.
Selain penggolongan umat manusia di hari kiamat dan balasannya, dalam surat Al-Waqiah diberitakan pula tentang penghitungan amal manusia. Dari sini, kita juga bisa belajar, bahwa rezeki itu sudah pasti dijamin oleh Allah, sedangkan status kependudukan kita di surga masih belum pasti.
3. Adalah tentang ketenangan jiwa terkait masalah rezeki.
Tenang karena rezeki tak akan tertukar dan semua telah ditetapkan oleh Allah. Tenang pula karena jika kita dapat memanfaatkan rezeki dari Allah dengan benar maka akan ditambah serta dapat berbalas surga.Dari ketiga poin ini, menurut Muhammad Makhdlori, surat Al-Waqiah memang dapat menghindarkan kita dari kemiskinan, jika kita benar dalam memahami dan menerapkannya dalam kehidupan. Selain itu, selain rutin membaca surat Al-Waqiah, penting pula untuk selalu berdoa dan berusaha semaksimal mungkin, agar hajat kita dapat terkabul. Wallahu A'lam
Surat Al Waqiah, Amalan Istimewa bagi Muslimah untuk Memohon Rezeki dan Keberkahan Hidup
Membaca surat Al Waqiah, merupakan amalan istimewa dan terbaik bagi kaum wanita yang dianjurkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. Begini penjelasannya: Membaca... | Halaman Lengkap [546] url asal
#amalan-muslimah #keutamaan-surat-al-waqiah #fadhilah-al-quran #faedah-surat-al-waqiah #surat-al-waqiah
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 27/06/26 13:43
v/261541/
Membaca surat Al Waqiah, merupakan amalan istimewa dan terbaik bagi kaum wanita yang dianjurkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. Begini penjelasannya:Surat Al Waqiah adalah salah satu surat yang dikenal sebagai surat penuh berkah. Keberkahannya mampu melenyapkan kemiskinan dan mendatangkan rezekibagi siapa saja yang rutin membacanya setiap hari.
Surat Al Waqiah merupakan surat ke 56 pada juz ke 27 yang terdiri dari 96 ayat dan termasuk golongan surat Makiyyah. Surat ini dinamai Al-Waqiah (Hari Kiamat), yang diambil dari perkataan Al-Waaqi’ah dalam ayat pertama. Keutamaan Surat Al Waqiahini sebagaimana dirasakan oleh sebagian sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.
Rasulullah mengajarkan mereka untuk konsisten membaca surat Al-Waqiah supaya dimudahkan rezeki dan dihindari dari kesusahan. Karena itu, bila seorang muslimah mengamalkannya setiap hari, maka banyak manfaat yang akan diterimnya.
Pelindung dari Kemudharatan
Dalam buku 'Multi Perspektif Surat Al-Waqiah', penulis Zakia Machdi menyebutkan, bahwa membaca Surat Al Waqiah merupakan amalan terbaik bagi perempuan, karena bisa menjadi pelindung bagi dirinya dari segala kemudharatan yang ada di dunia dan juga agar terhindar dari kemiskinan.Dalam sebuah riwayat dikisahkan Abdullah bin Mas’ud tengah sakit parah. Sahabat Rasulullah, Utsman bin Affan menjeguknya dan bertanya kepadanya:
“Apa yang engkau keluhkan?” “Dosa-dosaku” Jawab Abdullah. “Lalu apa yang engkau inginkan?” Tanya Utsman. “Rahmat tuhanku” Jawab Abdullah. “Apa aku perlu menyuruh dokter untukmu?” “Dokter membuatku sakit.” “Apa aku perlu mengumpulkan sumbangan untukmu?” “Aku tidak butuh.” “Bisa untuk anak-anak perempuanmu, sepeninggalmu”
“Apa engkau khawatir anak-anak perempuanku mengalami kefakiran? Aku memerintahkan anak-anak perempuanku agar mereka membaca surat Al-Waqi’ah setiap malam. Aku mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa membaca surat Al-Waqi’ah setiap malam, maka ia tidak akan mengalami kesulitan selamanya.’”
Kisah ini juga dinukil Imam al-Qurthubi, Imam al-Alusi, Imam al-Suyuthi, dan beberapa ahli tafsir lainnya di dalam karya mereka. Selain kitab tafsir, riwayat ini juga dikutip Imam al-Nawawi dalam al-Adzkar dan Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin. Kendati riwayat ini dianggap dhaif, tetapi tetap boleh diamalkan, karena tidak semua hadis dhaif tidak boleh diamalkan. Hadis dhaif boleh diamalkan selama kedhaifannya tidak terlalu parah.
Begitu juga dengan hadis riwayat Abdullah bin Mas’ud, Imam al-Suyuthi dalam al-Durrul Mantsur juga mengutip riwayat dari Anas bin Malik tentang keutamaan surat Al-Waqi’ah. Riwayatnya sebagai berikut:
“Surat al-Waqi’ah adalah surat yang membuat kaya. Maka bacalah ia dan ajarkanlah kepada anak-anak kalian.”
“Ajarkanlah surat Al-Waqi’ah pada perempuan-perempuan kalian. Sesungguhnya surat Al-Waqi’ah adalah surat yang membuat kaya.”
Selain itu, keutamaan lainnya dari surat Al-Waqi'ah, merupakan doa wirid, menghindarkan dari kemiskinan (kesulitan hidup), dan melancarkan rezeki. Bagi siapa saja yang membaca surat Al-Waqi'ah secara rutin setiap hari dan menjadikannya sebagai suatu kebiasaan serta membacanya pada satu malam, maka dirinya akan dihindarkan dari kemiskinan.
Bahkan bila membaca surat Al-Waqi'ah selama 40 hari dan 40 malam, maka selama itupun rezeki kita akan dimudahkan dan mengalir deras dari berbagai penjuru.
Namun demikian yang perlu diingat bahwa jalan keluar dari kesulitan hidup tidak selalu dalam bentuk materi yang banyak. Apa gunanya uang banyak kalau tubuh tidak sehat. Apa gunanya harta banyak kalau keluarga selalu bermasalah. Solusi kesulitan hidup bentuknya bisa bermacam-macam. Bisa dalam bentuk uang, kesehatan, dan keberkahan keluarga. Wallahu A'lam
Surat Al Ankabut Ayat 2-3, Mengingatkan Bahayanya Fitnah Akhir Zaman
Surat Al-Ankabut ayat 2 dan 3 ini tentang bahayanya fitnah akhir zaman. Kemunculan fitnah akhir zaman ini sangat berbahaya dan menimbulkan kekacauan. Begini penjelasannya.... | Halaman Lengkap [256] url asal
#ayat-ayat-al-quran #surat-surat-al-quran #fitnah-akhir-zaman #asbabun-nuzul-surat-al-ankabut #tanda-akhir-zaman
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 06/06/26 17:45
v/242220/
Surat Al-Ankabut ayat 2 dan 3 ini tentang bahayanya fitnah akhir zaman. Kemunculan fitnah akhir zamanini sangat berbahaya dan menimbulkan kekacauan. Dan Surat Al Ankabut ayat 2-3 telah mengingatkan hal tersebut 1.500 tahun yang lalu.Pada zaman ini, maraknya berbagai fenomena kegundahan dengan fitnah yang merajalela. Menyebarnya segala macam fitnah dunia menjadi pertanda bahaya dari perbuatan.
Allah Ta'ala berfirman :
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS Al Ankabut : 2-3)
Sementara hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah RA. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam (SAW) bersabda yang artinya: “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan tipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur didustakan.
Berbagai tipu daya yang tertutupi oleh sikap hasut, menjadikan muslihat itu menggenggam akhir zaman ini. Dengan berbagai cara, zaman ini sudah terpengaruh oleh banyaknya fitnah dunia dengan mengesampingkan resiko yang ada.
Menurut Ustaz Dr. Syafiq Basalamah, MA, fitnah akhir zaman yang mencakupi nafsu dan syahwat. "Ada orang yang siap menggadaikan imannya demi kekuasaan. Mengorbankan macam-macam (pergi ke dukun, tumbal) itu fitnah. (akhir zaman)," ujarnya pada Youtube Yufid TV dikutip pada Jumat (18/12/2020).
Nikmat dunia hanyalah sementara, ketakwaan hamba-Nya yang terus memikirkan amalan tak mudah terpengaruh akan segala fitnah dunia. Keimanan seseorang dapat menjadikan acuan utama dalam diri untuk menjauhkan dari perbuatan tercela dari fitnah akhir zaman.
Surat Al Hajj Ayat 37 : Rahasia dan Makna Sejati Ibadah Kurban
Tadabbur Al Quran tentang surat Al-Hajj ayat 37 mengajarkan tentang makna sejati dari ibadah kurban. Ibadah kurban adalah sarana untuk menguji dan memperkuat ketakwaan,... | Halaman Lengkap [724] url asal
#ayat-ayat-al-quran #keutamaan-surat-al-hajj #surat-al-hajj #keutamaan-kurban-idul-adha #ibadah-kurban
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 21/05/26 13:20
v/202069/
Tadabbur Al Quran tentang surat Al-Hajj ayat 37 mengajarkan tentang makna sejati dari ibadah kurban. Tujuanibadah kurban tidak pada aspek fisik dari kurban itu, melainkan makna ketakwaan, keikhlasan, dan kepatuhan yang ada di dalam hati orang yang berkurban.Ibadah kurban adalah sarana untuk menguji dan memperkuat ketakwaan, serta menunjukkan ketaatan kita kepada Allah. Daging dan darah hewan kurban hanyalah sarana untuk mengantarkan ketakwaan dan rasa syukur tersebut kepada Allah SWT.
Allah Ta'ala berfirman dalam Surat al-Hajjayat 37 :
Lan yanālallāha luḥūmuhā wa lā dimā'uhā wa lākin yanāluhut-taqwā minkum, każālika sakhkharahā lakum litukabbirullāha ‘alā mā hadākum, wa basysyiril-muḥsinīn(a).
Artinya: "Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang muhsin,".
Tafsir Munir Syekh Zuhaili dalam kitab Tafsir Munir, menjelaskan bahwa maksud ayat ke-37 dari Surat al-Hajj ini menegaskan bahwa daging dan darah hewan kurban tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang diterima oleh-Nya adalah ketakwaan dari umat manusia.
Hal ini menunjukkan bahwa ibadah kurban bukan semata-mata tentang aspek fisik atau material, melainkan tentang niat, keikhlasan, dan ketakwaan yang terkandung di dalamnya. Allah SWT mensyariatkan penyembelihan hewan sebagai bentuk pengingat untuk selalu mengingat dan menyebut nama-Nya dalam setiap ibadah dan tindakan.
Oleh karena itu, esensi dari ibadah kurban terletak pada niat yang tulus dan ketakwaan yang mengiringi tindakan tersebut.
Asbabun Nuzul Ayat 37
Pada masa jahiliyyah, praktik penyembelihan hewan kurban dilakukan dengan cara yang berbeda. Masyarakat pada masa itu menyembelih hewan untuk dipersembahkan kepada berhala-berhala mereka, dengan sebagian dagingnya diletakkan di berhala-berhala tersebut dan darahnya digunakan untuk melumuri berhala-berhala itu.Ketika kaum Muslimin ingin melakukan hal yang serupa terhadap Kakbah, Allah SWT menurunkan ayat 37 Surat Al Hajj ini untuk meluruskan niat dan cara berkurban yang benar. Ayat ini menjadi penegasan bahwa tujuan dari ibadah kurban adalah untuk menunjukkan ketakwaan dan ketaatan kepada Allah swt, bukan sekadar ritual fisik semata. Allah swt kemudian mengingatkan kembali tentang penundukan binatang ternak untuk manusia, yang merupakan salah satu bentuk nikmat dari-Nya.
Pengulangan ini bertujuan untuk menyadarkan manusia akan besarnya nikmat yang diberikan oleh Allah, sehingga mendorong mereka untuk selalu bersyukur dan memuji-Nya. Dengan menyadari dan mengingat nikmat-nikmat ini, umat manusia diharapkan dapat meningkatkan ketakwaan mereka serta melaksanakan kewajiban-kewajiban yang diperintahkan oleh Allah dengan penuh kesadaran dan rasa syukur.
Sementara itu, ayat
[كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ]
Menegaskan bahwa Allah swt menundukkan hewan-hewan kurban (al-Budn) untuk kepentingan manusia agar mereka dapat mengagungkan Allah dan bersyukur atas petunjuk-Nya.
Menurut tafsir Syekh Zuhaili, kalimat ayat di atas mengingatkan kita bahwa segala nikmat dan kemudahan yang diberikan Allah swt bertujuan agar kita selalu mengingat-Nya dan mengucapkan rasa syukur. Petunjuk dan bimbingan Allah dalam agama dan syariat-Nya merupakan anugerah besar yang harus kita syukuri dengan penuh ketaatan dan keikhlasan.
"Allah swt memberikan petunjuk kepada umat-Nya tentang hal-hal yang dicintai dan diridhai-Nya serta menjauhkan merekaSy dari segala sesuatu yang dibenci dan tidak bermanfaat. Dengan petunjuk tersebut, Allah membimbing kita agar selalu berada di jalan yang benar dan terhindar dari kerugian. Ketaatan pada syariat Allah adalah bentuk syukur yang paling utama, karena di dalamnya terkandung segala kebaikan dan keberkahan yang Allah janjikan kepada hamba-hamba-Nya,"jelas Syekh Zuhaili.
Ayat ini juga menjanjikan pahala yang besar bagi mereka yang mendapatkan petunjuk dan berpegang teguh pada jalan yang lurus. Orang-orang yang mengikuti bimbingan Allah akan mendapatkan balasan yang baik di dunia dan akhirat.
Mereka yang menjadikan syariat Allah sebagai pedoman hidupnya akan selalu berada dalam lindungan dan rahmat-Nya, sehingga hidup mereka akan dipenuhi dengan ketenangan dan kebahagiaan. Dalam lanjutan ayat ini [وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ], Allah swt memerintahkan Nabi Muhammad saw untuk menyampaikan berita gembira kepada orang-orang yang Muhsin, yaitu mereka yang berbuat baik dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Orang-orang yang menjaga hukum-hukum Allah, mematuhi segala perintah-Nya, dan membenarkan risalah yang dibawa oleh Rasulullah saw, dijanjikan surga sebagai balasan atas kebaikan dan keikhlasan mereka dalam beramal. Berita gembira ini menjadi motivasi bagi umat Islam untuk terus berusaha memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ibadah mereka. [Syekh DR. Zuhaili, Tafsir Munir, Jilid XVII, [Beirut: Darul Fikr Mu'ashir, 1991], halaman 219].
Memperbanyak Baca Al Quran di Bulan Mulia Zulhijjah, Pahalanya Berlipat-lipat!
Sama seperti bulan Ramadan, membaca Al-Quran di Bulan Zulhijjah akan diganjar dengan pahala yang berlipat-lipat. Ketahuilah bahwa Al-Quran bisa menjadi penolong... | Halaman Lengkap [636] url asal
#baca-al-quran #tadarus-alquran #keutamaan-bulan-zulhijjah #amalan-bulan-zulhijjah
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 16/05/26 17:42
v/222509/
Sama seperti bulan Ramadan, membaca Al-Qur'andi Bulan Zulhijjahakan diganjar dengan pahala yang berlipat-lipat. Ketahuilah bahwa Al-Qur'an bisa menjadi penolong atau penerang kuburan kita kelak.Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam hadis Qudsi:
”Barangsiapa yang disibukkan oleh Al-Qur'an sehingga tidak sempat meminta kepada-Ku, akan Aku berikan kepadanya sesuatu yang paling baik yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta, dan keutamaan kalam Allah terhadap seluruh kalam selainnya adalah seperti keutamaan Allah terhadap seluruh makhluk-Nya.” (HR Ahmad dan Thabrani).
Selain itu, sibuk dengan Al-Qur'an akan memperoleh ketentraman (sakinah), rahmat, naungan malaikat, dan Allah Ta'ala akan senantiasa menyebutnya.
Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
“Tiada suatu kaum berkumpul di suatu rumah Allah, membaca kitab Allah, dan mempelajarinya di antara mereka, kecuali ketenangan akan diturunkan kepada mereka, dan mereka akan diliputi oleh rahmat Allah, dikelilingi para malaikat, dan Allah akan menyebut mereka kepada yang hadir di majelis itu.” (HR Muslim).
Inilah manfaat 'kesibukan' membaca Al-Qur'an :
1. Sibuk dalam membaca Al-Qur'an
Allah Subhanahu Wa Ta'ala menjanjikan pahala dan balasan besar bagi orang yang membaca Al-Quran. Seperti Allah firmankan dalam surah ini :"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi." (QS Fathir: 29)
dan surah :
"Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri." (QS Fathir : 30)
Orang yang mahir membaca Al-Quran, akan bersama para malaikat yang mulia, sedangkan bagi yang kesulitan membacanya, tetap mendapatkan dua pahala , ia diberi pahala dengan membacanya dan mendapatkan pahala dengan kesulitan yang ia rasakan dalam membaca yang menunjukkan kesungguhannya untuk membaca Al-Quran dan kekuatan semangatnya, meskipun sulit ia rasakan.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda;
“Orang yang membaca Al-Qur'an dan pandai dalam membacanya, ia bersama para malaikat yang mulia. Dan yang membaca Al-Qur'an dengan mengeja dan ia membacanya dengan sulit ia mendapatkan dua pahala.” (HR Muttafaq alaih)
2. Sibuk dalam men-tadabburi Al-Qur'an.
Al-Quran akan menjadi ruh (penggerak) bagi kemajuan kehidupan manusia manakala selalu dibaca dan di-tadabburi makna yang terkandung dalam setiap ayatnya. Allah Ta'ala berfirman:“Sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu dengan berkah agar mereka mentadabburkan ayat-ayatnya dan agar menjadi peringatan bagi orang-orang yang berakal.” (QS: Shad : 29).
3. Sibuk dalam menghafalkan Al-Qur'an
Al-Quran selain dibaca dan direnungkan juga perlu dihafalkan, dipindahkan dari tulisan ke dalam dada, karena hal itu merupakan ciri khas orang-orang yang diberi ilmu. Allah Ta'ala berfirman:”Sebenarnya Al-Quran itu adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada-dada orang-orang yang diberi ilmu, dan tidaklah mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang dzolim.” (QS al-Ankabut : 49).
4. Sibuk dalam mengamal Al-Qur'an
Allah Ta'ala berfirman:“Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.” (QS al-An’am : 155).
5.Sibuk dalam mengajarkan Al-Qur'an
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya.” (HR Bukhari)
Kesibukan muslimah dengan Al-Qur'an ini akan menjamin Allah semakin mencintai hamba-Nya. Bahkan dalam sebuah hadis disebutkan, Allah mempunyai keluarga dari kalangan manusia. “Para sahabat bertanya, Siapakah mereka ya Rasulullah? Nabi menjawab, Ahli Al-Qur'an, mereka adalah keluarga Allah SWT dan orang-orang dekat-Nya.” (HR Ahmad dan an-Nasa’i).
Semoga Allah Ta'ala membimbing kita perempuan muslimah agar dapat menyibukkan diri dengan Al-Qur'an ini, serta istiqamah dalam menyibukkan dengan Al-Qur'an hingga akhir hayat, sehingga layak disebut sebagai keluarga Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Mengintip Isi Tulisan Ayat-ayat Al Quran di Kiswah Kakbah
Apa saja isi tulisan ayat-ayat Al Quran yang ada pada Kiswah Kakbah? Menarik untuk diketahui. Yuk, simak ulasan dan penjelasannya berikut ini. Apa saja isi tulisan... | Halaman Lengkap [816] url asal
#kakbah #ayat-ayat-al-quran #kiswah-kakbah #kain-kiswah-kakbah
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 07/05/26 16:13
v/214476/
Apa saja isi tulisan ayat-ayat Al Quranyang ada pada Kiswah Kakbah? menarik untuk diketahui. Yuk, simak ulasan dan penjelasannya berikut ini.Dalam buku 'Sejarah Mekah' karya Dr Muhammad Ilyas Abdul Ghani dijelaskan bahwa sabuk kiswah terdapat di sepertiga bagian atas yang mengelilingi sisi-sisi Kakbah dengan panjang 45 m dan lebar 90 cm. Sabuk ini dihiasi dengan ayat-ayat Al-Quranbercorak tsulusi (salah satu model kaligrafi).
Di bagian atas, ada tulisan Allahu Rabbi, Hasbiyallah, dan Allahu Rabbi. Pada bagian lain, tertera tulisan ayat Qad naraa taqalluba wajhika fis-samaa'. Sementara pada bagian pinggir, ada tulisan surat Al Fatihah .
Muhammad Ilyas Abdul Ghani menjelaskan tentang bagian sabuk dan ayat- ayat Al-Quran yang tertera di dalamnya.
Pertama, Sisi Pintu Multazam. Ayat-ayat yang tertulis disana adalah QS Al- Baqarah : 125:
Wa iz ja'alnal Baita masaabatal linnassi wa amnanw wattakhizuu mim Maqoomi Ibraahiima musallaaa; wa 'ahidnaaa ilaaa Ibraahiima wa Ismaa'iila an tahhiraa Baitiya littaaa'ifiina wal'aakifiina warrukka'is sujuud
Artinya: Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah (Kakbah) tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia. Dan jadikanlah maqam Ibrahim itu tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, orang yang iktikaf, orang yang rukuk dan orang yang sujud!"
Selanjutnya QS Al- Baqarah 2:127 yang berbunyi:
Wa iz yarfa'u Ibraahiimul qawaa'ida minal Baitiwa Ismaa'iilu Rabbanaa taqabbal minnaa innaka Antas Samii'ul Aliim
Artinya: Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail, (seraya berdoa), "Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.
Dilanjutkan dengan QS Al-Baqarah ayat 128:
Rabbanaa waj'alnaa muslimaini laka wa min zurriyyatinaaa ummatam muslimatal laka wa arinaa manaasikanaa wa tub 'alainaa innaka antat Tawwaabur Rahiim
Artinya: Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan ibadah (haji) kami, dan terimalah tobat kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.
Kedua: Sisi Hijir Ismail. Ayat-ayat yang tertulis di sana adalah sebagai berikut:
Al-Hajju ashhurum ma'-luumaat; faman farada fiiinnal hajja falaa rafasa wa laa fusuuqa wa laa jidaala fil Hajj; wa maa taf'aluu min khairiny ya'lamhul laah; wa tazawwaduu fa inna khairaz zaadit taqwaa; wattaquuni yaaa ulil albaab
Artinya: (Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barangsiapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat! (QS. Al- Baqarah :197).
Dilanjutkan dengan QS Al-Baqarah :198:
Laisa 'alaikum junaahun an tabtaghuu fad lam mir rabbikum; fa izaaa afadtum min 'Arafaatin fazkurul laaha 'indal-Mash'aril Haraami waz kuruuhu kamaa hadaakum wa in kuntum min qablihii laminad daaaliin
Artinya: Bukanlah suatu dosa bagimu mencari karunia dari Tuhanmu. Maka apabila kamu bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam. Dan berdzikirlah kepada-Nya sebagaimana Dia telah memberi petunjuk kepadamu, sekalipun sebelumnya kamu benar-benar termasuk orang yang tidak tahu.
Lalu QS Al-Baqarah ayat 199:
Summa afiiduu min haisu afaadan naasu wastagh firullaah; innnal laaha Ghafuu rur-Rahiim
Artinya: Kemudian bertolaklah kamu dari tem-pat orang banyak bertolak (Arafah) dan mohonlah ampunan kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
Ketiga: Sisi Belakang Pintu Kakbah. Ayat- ayat yang tertulis di sana adalah:
Wa iz bawwaanaa li Ibraahiima makaanal Baiti allaa tushrik bii shai'anw wa tahhir Baitiya litaaa'ifiina walqooa' imiina warrukka 'is sujuud
Artinya: Dan (ingatlah), ketika Kami tempatkan Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), "Janganlah engkau mempersekutukan Aku dengan apa pun dan sucikanlah rumah-Ku bagi orang-orang yang tawaf, dan orang yang beribadah dan orang yang rukuk dan sujud. (QS Al-Hajj :26).
Wa azzin fin naasi bil Hajji yaatuuka rijaalanw wa 'alaa kulli daamiriny yaatiina min kulli fajjin 'amiiq
Artinya: Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh. (QS Al-Hajj :27).
Li yashhaduu manaafi'a lahum wa yazkurus mal laahi fiii ayyaamimma'luumaatin 'alaa maa razaqahum mim bahiimatil an'aami fakuluu minhaa wa at'imul baaa'isal faqiir
Artinya: Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mere-ka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang diberikan Dia kepada mereka berupa hewan ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir. (QS Al- Hajj :28).
Summal yaqduu tafasahum wal yuufuu nuzuurahum wal yattawwafuu bil Baitil 'Atiiq
Artinya: Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran (yang ada di badan) mereka, menyempurnakan nazar-nazar mereka dan melakukan tawaf sekeliling rumah tua (Baitullah). (QS Al-Hajj : 29).
Ayat-ayat Al Quran Tentang Perintah Haji, Beserta Hukum dan Tafsirnya
Ayat-ayat Al Quran tentang perintah ibadah haji, hukum serta tafsirnya ini penting diketahui umat Islam. Simak ulasan dan penjelasannya berikut ini. Ayat-ayat Al... | Halaman Lengkap [1,195] url asal
#haji #ibadah-haji #hukum-islam #ayat-ayat-al-quran #haji-2026
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 05/05/26 05:15
v/211045/
Ayat-ayat Al Quran tentang perintah ibadah haji, hukum serta tafsirnya ini penting diketahui umat Islam. Simak ulasan dan penjelasannya berikut ini.Perintah ibadah hajidalam Al Quran banyak tersebar dalam beberapa surat dan ayat-ayatnya. Berikut beberapa surat dan ayat Al Quran yang menjelaskan perintah haji dan umrah serta hikmahnya.
1. Surat Ali Imran ayat 97
Allah SWT memerintahkan ibadah haji kepada umat Islam dalam Surah Ali Imran. Ibadah ini diwajibkan bagi yang mampu, sebagaimana firman-Nya:“Dan (diwajibkan) bagi Allah atas manusia untuk melaksanakan haji ke Baitullah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barangsiapa kafir (ingkar), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.” (QS. Ali Imran: 97)
Ayat ini menunjukkan bahwa haji adalah kewajiban yang harus ditunaikan sekali dalam seumur hidup oleh orang yang memiliki kemampuan. Tidak hanya ibadah fisik, haji juga merupakan manifestasi ketaatan dan pengorbanan seorang hamba kepada Tuhannya.
2. Surat Al-Baqarah ayat 196
Allah juga memerintahkan umat Islam untuk menyempurnakan ibadah haji dan umrah dengan penuh keikhlasan. Hal ini disebutkan dalam Surah Al-Baqarah:“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah. Tetapi jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) korban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antara kamu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu bercukur), maka wajib atasnya berpuasa, bersedekah, atau berkurban. Apabila kamu telah merasa aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), wajiblah ia menyembelih korban yang mudah didapat. Tetapi jika tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang. Itulah sepuluh hari yang sempurna. Demikianlah (kewajiban itu) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidilharam. Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 196)
Ayat ini menjelaskan tata cara dan ketentuan pelaksanaan haji dan umrah, termasuk dalam kondisi tertentu seperti sakit atau halangan lainnya.
3. Surat Al-Hajj ayat 27-28
Haji bukan hanya sekadar ritual fisik, tetapi juga sebuah perjalanan spiritual yang mendekatkan seorang Muslim kepada Allah. Dalam Surah Al-Hajj, Allah menyebutkan tujuan dan hikmah dari haji:“Dan serukanlah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai unta yang kurus, yang datang dari segenap penjuru yang jauh, agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah berikan kepada mereka berupa hewan ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.” (QS. Al-Hajj: 27-28)
Dari ayat ini, kita memahami bahwa haji memiliki hikmah sosial, ekonomi, dan spiritual. Selain mendekatkan diri kepada Allah, haji juga menjadi momen persaudaraan dan kebersamaan umat Islam dari seluruh dunia.
4. Surat Al-Baqarah Ayat 197
“(Musim) haji itu terjadi pada bulan-bulan yang telah diketahui, yaitu Syawal, Zulkaidah, dan Zulhijah. Barangsiapa berniat untuk menunaikan ibadah haji di bulan-bulan tersebut, maka ia diwajibkan menjaga etika dalam berhaji. Di antara etika tersebut adalah larangan berkata jorok (rafats), berbuat maksiat, serta bertengkar. Apa pun kebaikan yang kalian lakukan, Allah Maha Mengetahui. Hendaklah kalian membawa bekal, dan sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada Allah, wahai orang-orang yang berakal.”
Tafsir Quraish Shihab menjelaskan bahwa haji dilaksanakan pada waktu yang sudah diketahui sejak masa Nabi Ibrahim a.s., yaitu Syawal, Zulkaidah, dan Zulhijah. Dalam pelaksanaannya, seorang yang berhaji diwajibkan menjaga etika dengan menghindari maksiat, perselisihan, atau tindakan yang dapat menimbulkan permusuhan. Larangan ini bertujuan agar ibadah haji dapat menjadi momen penyucian jiwa.
5. Surat Al-Baqarah Ayat 158
“Sesungguhnya Safa dan Marwah adalah bagian dari syiar agama Allah. Maka, barangsiapa menunaikan ibadah haji ke Baitullah atau umrah, tidak ada dosa baginya untuk melakukan sa’i (berjalan atau berlari kecil) antara kedua bukit tersebut. Dan barangsiapa dengan ikhlas melakukan kebajikan, maka Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui.”
Tafsir Quraish Shihab menjelaskan bahwa Safa dan Marwah merupakan dua bukit yang dimuliakan oleh Allah sebagai bagian dari manasik haji, sebagaimana Ka’bah dimuliakan sebagai kiblat umat Islam. Oleh karena itu, pelaksanaan sa’i antara kedua bukit selama tujuh kali merupakan kewajiban dalam ibadah haji. Selain itu, Allah mengapresiasi setiap kebaikan yang dilakukan hamba-Nya dengan penuh keikhlasan.
Definisi dan Hukum Haji
Secara bahasa (etimologi), haji berasal dari kata yang bermakna “bermaksud, menghendaki, atau menyengaja (qasdu)”. Adapun secara istilah (terminologi), haji adalah bermaksud menuju Baitullah al-Haram (Ka’bah) untuk melaksanakan ibadah tertentu sesuai dengan ketentuan syariat.Hukum melaksanakan ibadah haji secara umum adalah fardhu ‘ain bagi setiap muslim yang telah memenuhi syarat wajibnya. Namun, hukum ini bisa berbeda tergantung pada situasi tertentu, sebagaimana dijelaskan oleh Habib Hasan bin Ahmad dalam Taqrirat as-Sadidah:
1. Fardhu ‘Ain, berlaku ketika semua syarat wajib haji terpenuhi, yaitu: beragama Islam, baligh, berakal, merdeka, dan mampu (istitha’ah).
2. Fardhu Kifayah, jika haji bertujuan untuk meramaikan Ka’bah setiap tahunnya.
Sunnah, seperti hajinya anak kecil, budak, atau orang yang mampu berjalan kaki lebih dari dua marhalah (±89 km) dari Makkah.
3. Makruh, jika perjalanan menuju Makkah berpotensi membahayakan keselamatan jiwa.
Haram, misalnya, hajinya seorang perempuan tanpa mahram yang kondisi perjalanannya tidak aman, atau perempuan yang pergi haji tanpa izin dari suaminya. (Taqrirat as-Sadidah, Habib Hasan bin Ahmad bin Muhammad al-Kaf, h. 470-472.)
Hikmah Disyariatkannya Haji
Hikmah dari ibadah haji sangat mendalam dan mencerminkan nilai-nilai luhur Islam. Salah satu hikmahnya adalah menciptakan persatuan umat Islam. Syekh Ali Ahmad al-Jarjawi dalam Hikmatut Tasyri’ wa Falsafatuh menyatakan bahwa Allah ﷻ mensyariatkan haji untuk menyatukan umat Islam dari berbagai penjuru dunia dalam satu tempat, tanpa memandang perbedaan suku, budaya, atau mazhab. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:Artinya: “(Wahai Ibrahim), serulah manusia untuk (mengerjakan) haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh” (QS Al-Hajj: 27).
Ketika umat Islam berkumpul di Makkah, akan terjalin hubungan persaudaraan yang erat. Orang-orang dari berbagai belahan dunia, seperti Indonesia, Arab, Turki, India, bahkan Barat dan Timur, saling mengenal dan berbagi kisah. Hal ini mencerminkan kesatuan mereka sebagai umat Islam, tanpa memandang perbedaan identitas duniawi.
Syekh Ali Ahmad al-Jarjawi menambahkan:
Artinya: “Oleh karenanya, sesungguhnya mereka bisa bertukar pendapat tentang kebaikan dunia dan akhirat. Dan inilah maksud dari persatuan Islam yang ditakuti (oleh musuh-musuh Islam).” (Hikmatut Tasyri’ wa Falsafatuh, juz 1, h. 123).
Keistimewaan Makkah sebagai Tempat Haji
Syekh al-Jarjawi menyebut beberapa keistimewaan Makkah:- Kota kelahiran Nabi Muhammad.
- Makkah adalah kota suci dan awal munculnya cahaya Islam.
- Ibadah haji mengingatkan perjuangan Nabi Ibrahim saat membangun Ka’bah.
- Makkah disucikan dan dijaga dari agama selain Islam, sebagaimana sabda Rasulullah :
Artinya: “Tidak akan berkumpul dua agama di Jazirah Arab.”
Ibadah haji bukan sekadar kewajiban individu, tetapi juga simbol persatuan dan kejayaan Islam. Selain menjadi ajang untuk mendekatkan diri kepada Allah, haji adalah sarana tukar wawasan, pengenalan budaya, serta pengikat ukhuwah Islamiyah. Di hadapan Baitullah, semua umat Islam setara, hanya sebagai hamba Allah dengan tujuan yang sama: meraih ridha-Nya.
Sangat disayangkan jika umat Islam melupakan hikmah besar ini dan menjadikan haji sekadar ritual wajib, tanpa menyadari manfaat spiritual dan sosialnya.
Inilah Dalil Naqli Ibadah Haji dalam Beberapa Surat Al Quran dan Hadis Nabi SAW
Sebagai salah satu ibadah wajib yang termasuk ke dalam Rukun Islam, terdapat beberapa dalil yang mengharuskan umat Islam menjalankan ibadah Haji. Sebagai salah... | Halaman Lengkap [323] url asal
#ayat-ayat-al-quran #surat-surat-al-quran #hadis-nabi #ibadah-haji #haji-2026
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 27/04/26 09:45
v/203568/
Sebagai salah satu ibadah wajib yang termasuk ke dalam Rukun Islam, terdapat beberapa dalil yang mengharuskan umat Islam menjalankan ibadah Haji.Dalil Naqli Ibadah Haji tercantum dalam Al Quran dan Hadis :
1. Surat Ali Imran ayat 97,
Allah SWT berfirman :Artinya : "Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barangsiapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam." (QS Ali-Imran : 27)
Dalam tafsir Al-Muyassar, disebutkan bahwa pada Baitullah ini terdapat bukti-bukti nyata bahwa ia dibangun oleh tangan Ibrahim dan sesungguhnya Allah telah mengagungkan dan memuliakannya. Sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas orang yang mampu dari kalangan manusia dimanapun berada untuk mendatangi Baitullah ini untuk melaksanakan manasik haji.
Sehingga bagi siapapun yang mengingkari kewajiban haji, maka dia dinyatakan kafir. Sesungguhnya Allah Maha kaya tidak membutuhkannya.
2. Surat Al Hajj ayat 27
Perintah haji juga disebutkan dalam Al Qur'an surat Al Hajj ayat 27. Sebagaimana Allah SWT Berfirman :Artinya : "Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh." (QS Al-Hajj : 27)
3. Hadis Nabi SAW
Selain dalam Al Qur'an terdapat pula hadits yang mengandung perintah untuk haji. Dari Ibnu Umar, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:"Islam itu didirikan atas lima perkara, yaitu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya, mendirikan salat, menunaikan zakat, puasa pada bulan Ramadan, menunaikan ibadah haji ke Baitullah bagi yang mampu melakukannya." (HR. Muttafaq 'alaih)
Dalam rangkaian ibadahnya sendiri, haji memiliki rukun haji dan wajib haji. Jika rukun haji ditinggalkan, ibadahnya dianggap tidak sah. Dan jika jemaah tidak melaksanakan wajib haji, ibadahnya tetap sah, tapi ia harus membayar dam atau denda.
Dalil Perintah Kurban dan Aqiqah dalam Al Quran serta Hadis
Dalil diperintahkannya ibadah kurban tersebar di beberapa ayat Al Quran. Sedangkan Aqiqah terdapat dalam beberapa hadis Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. Berikut... | Halaman Lengkap [745] url asal
#hadis-nabi #ayat-ayat-al-quran #perbedaan-aqiqah-dan-qurban #dalil-aqiqah-dan-qurban #dalil-berkurban
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 23/04/26 10:49
v/200177/
Dalil diperintahkannya ibadah kurbantersebar di beberapa ayat Al Quran. SedangkanAqiqahterdapat dalam beberapa hadis Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. Berikut ulasan tentang dalil-dalil perintah ibadah kurban dan aqiqah tersebut dalamayat-ayat Al Qurandan hadis Nabi SAW.Ayat-ayat Al Quran yang menjelaskan Perintah Ibadah Kurban:
1. Surat Al-Kautsar, ayat 1-3:
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).”Surat Al-Kautsar adalah surat pendek yang memiliki makna mendalam. Surat ini diturunkan di Mekah dan terdiri dari tiga ayat. Ayat kedua dari surat ini adalah yang memuat perintah untuk berkurban. Kata (wanhar) dalam ayat tersebut diterjemahkan sebagai "dan berkurbanlah".
Dalam konteks ayat ini, Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW dan umat Muslim untuk mendirikan salat dan berkurban sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang diberikan. Nikmat yang dimaksud dalam ayat ini bisa mencakup berbagai aspek, termasuk keimanan, kesejahteraan, dan kehidupan yang baik.
2. Surah Al Hajj ayat 28
Artinya: "Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang diberikan Dia kepada mereka berupa hewan ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir."3. Surah Al Hajj ayat 34-35
Artinya: " Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban), agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka berupa hewan ternak. Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserahdirilah kamu kepada-Nya. Dan sampaikanlah (Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah hati mereka bergetar, orang yang sabar atas apa yang menimpa mereka, dan orang yang melaksanakan salat dan orang yang menginfakkan sebagian rezeki yang Kami karuniakan kepada mereka."4. Surah As Saffat ayat 102
Artinya: "Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, "Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!" Dia (Ismail) menjawab, "Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar."Ayat-ayat Al Quran yang berisi perintah berkurban ini adalah dalil yang mengandung banyak hikmah dan pelajaran bagi umat Muslim. Oleh karena itu, berkurban menjadi salah satu ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam, terutama pada Hari Raya Iduladha.
Dalil Hadis Perintah Aqiqah
Dasar Hukum Aqiqah
Dari Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia berkata: Rasulullah bersabda. “Aqiqah dilaksanakan karena kelahiran bayi, maka sembelihlah hewan dan hilangkanlah semua gangguan darinya”. [Shahih Hadits Riwayat Bukhari (5472). Untuk lebih lengkapnya lihat Fathul Bari (9/590-592), dan Irwaul Ghalil (1171), Syaikh Albani].
Makna menghilangkan gangguan adalah mencukur rambut bayi atau menghilangkan semua gangguan yang ada [Fathul Bari (9/593) dan Nailul Authar (5/35), Cetakan Darul Kutub Al-‘Ilmiyah, pent].
Dari Samurah bin Jundab dia berkata: Rasulullah bersabda: “Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing). Diberi nama dan dicukur rambutnya”. [Shahih, Hadits Riwayat Abu Dawud 2838, Tirmidzi 1552, Nasa’I 7/166, Ibnu Majah 3165, Ahmad 5/7-8, 17-18, 22, Ad Darimi 2/81, dan lain-lainnya].
Dari Aisyah dia berkata : Rasulullah bersabda. “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing yang sama dan bayi perempuan satu kambing”. [Shahih, Hadits Riwayat Ahmad (2/31, 158, 251), Tirmidzi (1513), Ibnu Majah (3163), dengan sanad hasan].
Dari Ibnu Abbas bahwasannya Rasulullah bersabda, “Mengaqiqahi Hasan dan Husain dengan satu kambing dan satu kambing”. [HR Abu Dawud (2841) Ibnu Jarud dalam kitab al-Muntaqa (912) Thabrani (11/316) dengan sanadnya shahih sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Daqiqiel ‘Ied].
Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah bersabda. “Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing). Karena kelahiran bayi maka hendaklah ia lakukan untuk laki-laki dua kambing yang sama dan untuk perempuan satu kambing. [Sanadnya Hasan, Hadits Riwayat Abu Dawud (2843), Nasa’I (7/162-163), Ahmad (2286, 3176) dan Abdurrazaq (4/330), dan dishahihkan oleh al-Hakim (4/238)].
Dari Fatimah binti Muhammad ketika melahirkan Hasan. Dia berkata: Rasulullah bersabda: “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak kepada orang miskin seberat timbangan rambutnya. [Sanadnya Hasan, Hadits riwayat Ahmad (6/390), Thabrani dalam “Mu’jamul Kabir” 1/121/2, dan al-Baihaqi (9/304) dari Syuraiq dari Abdullah bin Muhammad bin Uqail].
Dari dalil-dalil yang diterangkan di atas maka dapat diambil hukum-hukum mengenai seputar aqiqah. Hal ini dicontohkan oleh Rasulullah para sahabat serta para ulama salafus shalih.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56