Arsari Group Milik Hashim Djojohadikusumo Mulai Alirkan Gas West Natuna ke Batam pada 2027
Arsari Group akan mulai alirkan gas West Natuna ke Batam pada 2027, mengatasi penurunan pasokan dari Blok Corridor dan menekan biaya energi industri di Batam.
(Bisnis.Com) 15/01/26 14:16 104386
Bisnis.com (BATAM) - Arsari Group milik Hashim Djojohadikusumo, melalui anak usahanya PT Nations Natuna Barat yang menguasai Cekungan West Natuna diperkirakan baru akan mengalirkan gas ke Batam pada 2027 mendatang.
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kepulauan Riau Muhammad Darwin mengatakan saat ini proyek pipa West Natuna Transportation System (WNTS)–Pulau Pemping masih berada pada tahap penyelesaian dokumen lingkungan oleh PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI). Tahapan ini merupakan bagian dari perencanaan teknis sebelum konstruksi bisa dimaksimalkan.
“Terakhir yang kami ikuti, PLN EPI masih menyusun dokumen lingkungannya. Harapannya tahun ini bisa selesai, karena panjang pipanya relatif pendek, sekitar 4,5 kilometer,” kata Darwin, Kamis, 15 Januari 2026.
Dia menyebut pasokan gas dari blok ini bukan hanya soal pipa. Lapangan gas ini ditargetkan mulai berproduksi pada kuartal pertama 2027.
“Tahun ini belum bisa disalurkan. Gasnya memang dari lapangan Natuna, dan target produksinya baru mulai 2027,” ujar Darwin.
Sementara itu, pasokan gas dari Blok Corridor milik Medco dari Sumatra Selatan dan Jambi yang selama ini menopang kebutuhan Batam terus menurun. Darwin menyebut penurunan ini terjadi secara alamiah karena lapangan gas yang kian menua. Akibatnya, volume gas yang tersedia semakin terbatas dan diprioritaskan untuk industri tertentu sesuai kebijakan pemerintah.
“Gasnya memang makin sedikit. Lapangan-lapangan lama sudah menurun produksinya, jadi tidak banyak yang bisa dibagi ke konsumen,” katanya.
Kondisi ini berdampak langsung ke dunia usaha. Sejumlah industri di Batam terpaksa menanggung biaya energi lebih tinggi, mulai dari harga gas hingga tarif listrik, sambil menunggu pasokan baru dari Natuna.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam, Rafki Rasyid, menilai tekanan energi sudah mulai menggerus arus kas perusahaan. “Kenaikan harga gas langsung menaikkan biaya produksi. Efeknya berantai, karena tarif listrik ikut terdorong,” ujarnya.
Menurut Rafki, situasi ini membuat posisi Batam semakin sulit bersaing dengan kawasan industri di negara tetangga yang menawarkan harga energi lebih murah. “Kalau dibiarkan, investor bisa menilai Batam sudah tidak kompetitif lagi,” kata dia.
Pemerintah pusat sebenarnya mendorong berbagai solusi, mulai dari pengembangan jaringan gas rumah tangga hingga pembangunan pipa Natuna–Batam. Namun bagi pelaku usaha, langkah-langkah tersebut belum cukup meredam tekanan jangka pendek.
“Pasokan gas baru harus benar-benar direalisasikan. Jalur Natuna–Batam jangan terus jadi wacana,” ujar Rafki. Ia juga meminta pemerintah memprioritaskan kebutuhan dalam negeri ketimbang ekspor. “Kalau pasokan domestik terganggu, dampaknya ke ekonomi bisa sistemik.”
#arsari-group #hashim-djojohadikusumo #west-natuna-gas #batam-gas-supply #pt-nations-natuna-barat #west-natuna-transportation-system #pipa-gas-batam #pln-energi-primer-indonesia #gas-produksi-2027 #blo