OPINI: Fondasi Kokoh Perjanjian Dagang EAEU-Indonesia
Perjanjian Perdagangan Bebas EAEU-Indonesia ditandatangani pada 21 Desember 2025 di St. Petersburg, memperkuat kerja sama ekonomi dan perdagangan.
(Bisnis.Com) 19/01/26 08:45 106781
Bisnis.com, JAKARTA - Pada 21 Desember 2025 di St. Petersburg, telah dilaksanakan penandatanganan Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) antara Uni Ekonomi Eurasia (EAEU), negara-negara anggotanya dan Republik Indonesia.
Momen bersejarah bagi semua pihak yang tergabung dalam perjanjian ini merupakan wujud nyata dari keinginan tulus dan wajar dari para pemimpin politik, pimpinan bidang ekonomi pemerintah, serta pelaku usaha untuk memperkuat kerja sama yang saling menguntungkan, demi percepatan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kemakmuran rakyat negara-negara EAEU dan Indonesia.
Kegiatan EAEU (Rusia, Kazakhstan, Belarus, Armenia dan Kyrgyzstan) senantiasa berpijak pada prinsip saling menghormati dan mempertimbangkan kepentingan negara-negara anggotanya. Pendekatan seperti ini menciptakan fondasi yang kokoh untuk interaksi penuh kepercayaan di wilayah luas ruang Eurasia dengan populasi lebih dari 185 juta jiwa.
Menurut perkiraan Komisi Ekonomi Eurasia pada tahun 2024, total volume PDB mencapai lebih dari 2,5 triliun dolar AS dengan rata-rata laju pertumbuhan ekonomi lebih dari 4,4% per tahun.
Kerja sama perdagangan dan ekonomi antara EAEU dengan negara-negara CIS dan anggota BRICS terus berkembang secara bertahap dan berkelanjutan.
Koordinasi yang erat telah terjalin dengan China, Vietnam, Serbia, Iran sesuai dengan perjan jian perdagangan yang ada; sedangkan dengan Uni Emi rat Arab berdasarkan per janjian kemitraan ekonomi; dengan Mongolia melalui perjanjian perdagangan sementara; serta dengan negara-negara lain yang menunjukkan ketertarikan dalam menjalin dialog.
Perhatian khusus diberikan pada peningkatan keterhubungan EAEU dengan pasar negara-negara ketiga melalui pengembangan koridor transportasi Eurasia dan penyelarasan koridor tersebut dengan proyek-proyek internasional multilateral. Sejak berdirinya EAEU, volume perdagangan dengan negara-negara ketiga telah meningkat lebih dari 40% dan saat ini melebihi 800 miliar dolar AS.
Proses penyusunan Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) dengan Indonesia dimulai pada Desember 2022. Dalam kurun waktu tiga ta hun, para pihak berhasil merumuskan dokumen yang memiliki cakupan luas. Diharapkan, penghapusan hambatan tarif dan teknis, termasuk penurunan tarif menjadi nol untuk 90,5% barang dari Indonesia dan 90% pos tarif dari Rusia dan negara-negara anggota Uni lainnya akan memberikan dorongan tambahan bagi peningkatan perdagangan timbal balik.
Dari sisi komoditas, akses preferensial akan diberikan ke pasar Indonesia bagi produk pertanian (biji-bijian, jenis tepung tertentu, ikan dan daging, serta produk susu), produk metalurgi, produk minyak bumi, batu bara dan antrasit, pupuk, alat berat dan mesin konstruksi, peralatan, serta komoditas lainnya. Sementara itu, ke pasar EAEU dari Indonesia akan mendapatkan akses preferensial produk komponen otomotif, elektronik, pakaian, dan alas kaki.
Dampak perjanjian ini jauh melampaui daripada hanya sekadar penurunan tarif. Perjanjian ini juga mencakup penyederhanaan prosedur di bidang standar teknis dan ketentuan sanitasi, administrasi kepabeanan dan aturan asal barang, serta pembentukan kerangka hukum bagi penerapan instrumen kerja sama sektoral pada bidang-bidang pembangunan ekonomi yang akan menentukan masa depan perekonomian negara-negara penandatangan perjanjian tersebut.
Dalam kondisi terfragmentasinya sistem perdagangan internasional, ketidakpastian dan tidak sistematisnya kebijakan ekonomi beberapa negara, serta “agresi tarif”, pengembangan kerja sama antara anggota EAEU dan Indonesia akan menguntungkan semua peserta FTA. Hal ini akan memungkinkan di versifikasi hubungan perdagangan luar negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap guncangan global.
Menurut Menteri Perdagangan Komisi Ekonomi Eurasia, Andrey Slepnev, dengan mempertimbangkan potensi perkembangan perdagangan timbal balik dan tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang signifikan, “dalam kurun waktu 3—5 tahun ke depan setelah perjanjian berlaku, volume perdagangan kita berpotensi meningkat hingga dua kali lipat”
Di sisi lain, Menteri Pembangunan Ekonomi Federasi Rusia, Maksim Reshetnikov, mencatat bahwa “perjanjian ini juga meletakkan dasar untuk diversifikasi perdagangan, pengembangan kerja sama dan kooperasi di bidang industri, pertanian, ekonomi digital, dan sektor-sektor lain yang menjadi kepentingan bersama para pihak.”
Sebagai hasil implementasinya, tingkat tarif rata-rata Indonesia akan berkurang lebih dari dua kali lipat dari 8% menjadi 3,2%, dan sebagian besar ekspor Rusia akan dibebaskan dari pembayaran bea masuk.
Bagi Federasi Rusia, penandatanganan Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) tersebut menjadi penutup penting bagi tahun 2025, yang bertepatan dengan peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Rusia—Indonesia. Dokumen ini memperluas instrumen kerja sama yang dapat dimanfaatkan oleh Moskwa dan Jakarta dalam pelaksanaan ketentuan perdagangan dan ekonomi Deklarasi Kemitraan Strategis yang telah disetujui Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin dan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto di St. Petersburg pada tanggal 19 Juni 2025. Dalam rangkaian intensifikasi hubungan tingkat tinggi Presiden Prabowo Subianto tercatat dua kali berkunjung ke Rusia sepanjang 2025 para pemimpin kedua negara secara konsisten menegaskan pentingnya merealisasikan potensi besar kerja sama ekonomi bilateral.
Saya meyakini bahwa dalam beberapa bulan ke depan, prioritas utama kementerian dan lembaga ekonomi kedua negara, Kamar Dagang dan Industri Rusia dan Indonesia, serta perwakilan diplomatik dan dagang di Moskwa dan Jakarta adalah menyebarluaskan informasi mengenai peluang yang dibuka oleh FTA EAEU Indonesia, khususnya manfaat konkret bagi dunia usaha, terutama pelaku usaha kecil dan menengah (UKM).
Langkah ini penting agar setelah proses ratifikasi di lima negara anggota EAEU dan di Indonesia rampung serta perjanjian mulai berlaku, para pelaku usaha sektor publik maupun swasta dapat segera memanfaatkan peluang yang tersedia secara optimal.
#eaeu-indonesia #perjanjian-dagang #perdagangan-bebas #fta-eaeu #kerja-sama-ekonomi #pertumbuhan-ekonomi #pasar-indonesia #tarif-perdagangan #produk-pertanian #produk-metalurgi #komoditas-indonesia #ak