Pengusaha Sebut Impor Alat Kesehatan Turun Drastis, Ini Pemicunya
Impor alat kesehatan Indonesia turun dari 90% menjadi 45% pada 2024 seiring pertumbuhan pasar domestik dan kebijakan TKDN yang mendorong produksi lokal.
(Bisnis.Com) 26/01/26 19:19 114800
Bisnis.com, JAKARTA — Himpunan Produsen Alat Kesehatan Indonesia (Hipelki) menyebut, ketergantungan Indonesia terhadap impor alat kesehatan (alkes) turun tajam dalam beberapa tahun terakhir, utamanya alkes berteknologi menengah dan rendah.
Dalam catatan Hipelki, sebelum pandemi Covid-19, impor alkes tembus 90%. Namun, kini menyusut hingga sekitar 45% pada 2024. Penurunan impor tersebut terjadi seiring dengan pertumbuhan pasar alat kesehatan nasional yang terus membesar.
Ketua Umum Himpunan Produsen Alat Kesehatan Indonesia (Hipelki) Randy H. Teguh mengatakan, secara historis pasar alat kesehatan Indonesia memang memiliki tren pertumbuhan yang konsisten dari tahun ke tahun.
“Ya, kalau sebenarnya secara umum kan potensi pasar alat kesehatan itu dari tahun ke tahun biasanya bertumbuh. Apalagi program dengan transformasi kesehatannya pemerintah," kata Randy saat ditemui Bisnis, Senin (26/1/2026).
Meski demikian, Hipelki menilai struktur pasar alat kesehatan nasional masih sangat dipengaruhi oleh belanja pemerintah. Transformasi sistem kesehatan, peningkatan jumlah fasilitas layanan kesehatan, serta program prioritas pemerintah menjadi pendorong utama meningkatnya permintaan alat kesehatan di dalam negeri.
Sekitar 70% atau hampir dua pertiga permintaan alat kesehatan Indonesia masih berasal dari pengadaan pemerintah melalui APBN dan APBD, khususnya untuk rumah sakit milik pemerintah daerah.
Kondisi tersebut membuat arah kebijakan fiskal menjadi faktor penting dalam menentukan laju pertumbuhan industri. Misalnya, efisiensi anggaran atau penyesuaian transfer dana ke daerah yang justru berpotensi menekan belanja alat kesehatan rumah sakit daerah.
“Tapi kan kita pahami juga sekarang Indonesia tergantung nih spendingbudget-nya ke arah mana. Karena memang mau enggak mau 70% atau 2 per 3 pasar alat kesehatan kan masih pasar pemerintah, dan APBN dan APBD,” ujarnya.
Di tengah dinamika tersebut, kebijakan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) dinilai menjadi katalis utama percepatan substitusi impor. Program ini mendorong penggunaan produk lokal sekaligus menarik investasi produsen global untuk membangun basis produksi di Indonesia, baik melalui pendirian pabrik, kerja sama manufaktur, maupun skema alih teknologi.
Masuknya perusahaan multinasional ke dalam ekosistem industri alat kesehatan nasional memperkuat rantai pasok domestik dan mempercepat pendalaman industri. Selain meningkatkan kapasitas produksi, kebijakan ini juga membuka peluang pengembangan bahan baku dan komponen lokal.
“Sebenarnya program TKDN itu kan bagus ya untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi, untuk pembentukan ekosistem kedalaman industri. Buktinya ini sekarang perusahaan besar seperti Philips mulai masuk ke Indonesia, sebelumnya kita tahu GE sudah,” ujarnya.
Hipelki mencatat dampak kebijakan substitusi impor kini semakin nyata. Selain penurunan porsi impor, jumlah pelaku industri alat kesehatan dalam negeri melonjak signifikan.
Jika sebelum pandemi hanya terdapat sekitar 150 pabrikan yang memiliki izin produksi, saat ini jumlahnya telah meningkat menjadi sekitar 800 perusahaan.
Lonjakan jumlah industri tersebut menjadi indikator bahwa pasar alat kesehatan nasional tidak hanya tumbuh dari sisi permintaan, tetapi juga dari sisi penawaran dan kapasitas produksi.