Dolar AS Ambruk ke Level Terendah dalam 4 Tahun, Trump: Ini Bagus!

Dolar AS Ambruk ke Level Terendah dalam 4 Tahun, Trump: Ini Bagus!

Dolar AS jatuh ke level terendah 4 tahun, Trump menyatakan ini menguntungkan. Pelemahan ini dipicu kebijakan Trump yang tak terduga dan penguatan yen.

(Bisnis.Com) 28/01/26 11:34 116799

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terperosok ke level terendah sejak awal 2022 setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan dirinya nyaman dengan pelemahan mata uang tersebut dalam beberapa waktu terakhir.

“Tidak, menurut saya ini bagus. Saya melihat nilai dolar—lihat saja aktivitas bisnis yang kami lakukan. Dolar baik-baik saja," kata Trump dikutip dari Bloomberg pada Rabu (28/1/2026) ketika ditanya apakah dia khawatir terhadap penurunan dolar.

Pernyataan Trump semakin memperdalam tekanan terhadap dolar AS, yang sebelumnya telah mencatat penurunan terdalam sejak kebijakan tarif Trump tahun lalu memicu gejolak pasar global. Situasi tersebut kembali menimbulkan kekhawatiran bahwa perubahan kebijakan Trump yang kerap tak terduga dapat mendorong investor asing mengurangi eksposur mereka terhadap aset AS.

Setelah komentar tersebut, Bloomberg Dollar Spot Index memperpanjang pelemahannya hingga mencapai 1,2%. Indeks tersebut turun sejalan dengan pelemahan dolar AS terhadap seluruh mata uang utama sebelum pergerakannya sedikit stabil pada perdagangan Asia, Rabu (28/1/2026).

Berdasarkan data Bloomberg, indeks dolar AS melemah tipis 0,1 poin atau 0,1% ke posisi 96,11 pada hari ini hingga pukul 11.20 WIB.

Selama ini Trump kerap menuding negara lain sengaja melemahkan mata uangnya demi mendongkrak ekspor. Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga pernah menekankan perbedaan antara harga dolar dan perannya sebagai mata uang cadangan global. Oleh karena itu, pernyataan terbaru Trump dipandang pasar sebagai sinyal lampu hijau bagi pelaku pasar untuk menjual dolar.

“Banyak pihak di kabinet Trump menginginkan dolar yang lebih lemah agar ekspor menjadi lebih kompetitif,” ujar Win Thin, kepala ekonom Bank of Nassau.

Namun, menurut Thin langkah tersebut merupakan risiko yang diperhitungkan. Menurutnya, mata uang yang lebih lemah memang menguntungkan, hingga situasinya menjadi tidak terkendali.

Sebagian pelemahan dolar AS dipicu oleh penguatan yen Jepang secara tiba-tiba sejak pekan lalu, seiring dengan meningkatnya spekulasi bahwa otoritas Jepang dapat melakukan intervensi untuk menopang mata uang tersebut.

Di luar faktor itu, tekanan terhadap dolar juga dipicu oleh kebijakan Trump yang sulit diprediksi dan mengguncang kepercayaan sekutu serta investor global, mulai dari ancaman mengambil alih Greenland, tekanan terhadap independensi Federal Reserve (The Fed), pemotongan pajak yang memperlebar defisit, hingga gaya kepemimpinan yang memperdalam polarisasi politik di AS.

Menariknya, pelemahan dolar terjadi di tengah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan ekspektasi bahwa The Fed akan menahan laju pemangkasan suku bunga pada pertemuan Rabu—dua faktor yang secara tradisional justru menopang nilai mata uang. Trump sendiri secara terbuka menginginkan suku bunga yang jauh lebih rendah, yang berpotensi semakin menekan dolar.

Kondisi ini mendorong investor beralih ke aset lindung nilai seperti emas, yang harganya melonjak ke rekor tertinggi, dalam tren yang dikenal sebagai debasement trade. Aliran dana juga mengalir deras ke aset berisiko lain seperti dana pasar negara berkembang, mencerminkan rotasi investasi keluar dari aset AS yang oleh sebagian pelaku pasar disebut sebagai fenomena quiet quitting.

Selama bertahun-tahun, Trump menunjukkan pandangan yang saling bertolak belakang mengenai dolar—di satu sisi memuji dolar kuat sebagai alat tawar dalam negosiasi bilateral, namun di sisi lain menyoroti manfaat dolar lemah bagi sektor manufaktur.

“Saya orang yang menyukai dolar kuat, tetapi dolar lemah membuat Anda menghasilkan uang jauh lebih banyak,” ujar Trump tahun lalu.

Sejak pelantikannya, indikator dolar versi Bloomberg telah anjlok hampir 10%, dan pelaku pasar masih bertaruh pada pelemahan lanjutan. Premi opsi jangka pendek yang diuntungkan dari pelemahan dolar AS kini mencapai level tertinggi sejak data tersebut mulai dihimpun Bloomberg pada 2011.

Ekspektasi penguatan mata uang lain juga menyentuh level tertinggi dalam beberapa bulan, mendekati posisi pasca-pengumuman tarif pada April lalu.

Volume transaksi pun melonjak. Pada Senin, nilai transaksi melalui Depository Trust & Clearing Corporation mencatat rekor tertinggi kedua sepanjang sejarah, hanya kalah dari 3 April 2025.

Pada Selasa, Trump bahkan menyiratkan bahwa dia dapat memengaruhi kekuatan dolar, dengan mengatakan dirinya bisa membuatnya naik atau turun seperti yo-yo.

Namun, dia menilai kondisi tersebut tidak ideal, seraya mengkritik ekonomi Asia yang menurutnya kerap berupaya mendevaluasi mata uang mereka.

Trump mengatakan, jika melihat China dan Jepang, dirinya dahulu selalu bertarung habis-habisan dengan kedua negara tersebut karena selalu ingin mendevaluasi yen.

"Yen dan yuan, mereka selalu ingin mendevaluasi, devaluasi, devaluasi. Dan saya bilang, itu tidak adil karena sulit bersaing ketika mereka mendevaluasi mata uangnya. Tapi mereka selalu membantah, bilang mata uang mereka baik-baik saja,” katanya.

#dolar-as #nilai-tukar-dolar #trump-dolar #pelemahan-dolar #dolar-terendah #kebijakan-trump #bloomberg-dollar-spot-index #mata-uang-cadangan #ekspor-as #yen-jepang #intervensi-mata-uang #suku-bunga-the

https://market.bisnis.com/read/20260128/93/1947884/dolar-as-ambruk-ke-level-terendah-dalam-4-tahun-trump-ini-bagus