Harga Perak Anjlok 6,5 Persen Setelah Sentuh Rekor 121,66 Dollar AS
Harga perak turun tajam sekitar 6,5 persen setelah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa.
(Kompas.com) 30/01/26 11:09 119560
KOMPAS.com - Harga perak melemah tajam pada Kamis (29/1/2026) waktu setempat, atau Jumat (30/1/2026) pagi. Harga perak berada di kisaran 109,40 dollar AS per ons, turun sekitar 6,50 persen dalam sehari.
Sebelumnya, harga perak sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di level 121,66 dollar AS per ons. Setelah reli kuat tersebut, pasar mengalami koreksi karena investor melakukan aksi ambil untung di tengah volatilitas yang meningkat.
Reli harga perak dunia sebelumnya didorong oleh meningkatnya permintaan terhadap aset safe-haven.
Ketegangan Geopolitik Dukung Permintaan Safe-Haven
Dikutip dari FXStreet, permintaan terhadap logam mulia tetap ditopang oleh ketegangan geopolitik.
Presiden AS Donald Trump mendesak Iran untuk kembali ke meja perundingan nuklir dan memperingatkan bahwa setiap serangan AS di masa depan akan jauh lebih parah.
Sebagai tanggapan, Teheran mengancam akan melakukan pembalasan terhadap Amerika Serikat, Israel, dan sekutunya.
Situasi ini membuat ketidakpastian tetap tinggi dan mendukung minat terhadap aset safe-haven seperti perak.
Menurut laporan Reuters, analis Marex Edward Meir, meningkatnya utang AS dan fragmentasi bertahap sistem perdagangan global ke dalam blok-blok regional mendorong investor mengurangi eksposur pada model ekonomi yang berpusat di AS.
Investor kemudian meningkatkan alokasi ke logam mulia. Pergeseran struktural ini dinilai tetap menopang permintaan perak dalam jangka panjang, meski terjadi koreksi harga dalam jangka pendek.
Ketidakpastian The Fed dan Dolar AS
Sentimen pasar juga dipengaruhi kekhawatiran terhadap independensi Federal Reserve (The Fed). Pemerintahan Trump melakukan penyelidikan kriminal terhadap Ketua The Fed Jerome Powell dan mempertimbangkan perubahan di dalam institusi tersebut.
Langkah ini meningkatkan ketidakpastian terhadap kredibilitas kebijakan moneter AS ke depan.
Dalam kondisi tersebut, dolar AS (USD) kesulitan mempertahankan momentum penguatannya. Situasi ini memperkuat daya tarik perak sebagai lindung nilai terhadap risiko mata uang.
Suku Bunga Tetap, The Fed Hati-Hati
Dari sisi makroekonomi, The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50–3,75 persen. Bank sentral mengakui inflasi masih tinggi dan ketidakpastian ekonomi tetap besar.
Data pasar tenaga kerja terbaru menunjukkan ketahanan ekonomi, namun stabilisasi tingkat pengangguran dan perlambatan pertumbuhan lapangan kerja membuat bank sentral bersikap hati-hati.
Menurut Commerzbank, The Fed tidak terburu-buru memangkas suku bunga lebih lanjut kecuali ada indikator ekonomi memburuk secara signifikan.
Secara keseluruhan, penurunan harga perak saat ini dinilai lebih dipicu penyesuaian teknikal dan aksi profit-taking setelah reli yang sangat kuat.
Meski demikian, faktor fundamental seperti risiko geopolitik, ketidakpastian politik di Amerika Serikat, serta pelemahan Dolar AS masih mendukung minat terhadap perak dalam jangka menengah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#logam-mulia #harga-perak #harga-perak-dunia #pasar-logam-mulia