Ongkos Produksi Listrik Energi Terbarukan Semakin Kompetitif

Ongkos Produksi Listrik Energi Terbarukan Semakin Kompetitif

Pengembangan pembangkit berbasis energi terbarukan tidak lagi hanya soal komitmen lingkungan, tetapi telah menjadi pilihan ekonomi yang paling masuk akal.

(Bisnis.Com) 22/10/25 21:35 12797

Bisnis.com, JAKARTA – Laporan terbaru dari lembaga analisis energi global, Wood Mackenzie, mengonfirmasi bahwa biaya pokok produksi listrik energi terbarukan, khususnya pembangkit tenaga surya dan angin, menjadi yang terendah di dunia.

Situasi ini sangat terasa di kawasan Asia Pasifik, yang menjadi episentrum pertumbuhan energi hijau, menciptakan peluang sekaligus tekanan kompetitif bagi negara-negara yang ada di kawasan, seperti Indonesia.

Berdasarkan laporan Levelised Cost of Electricity (LCOE) 2025, pengembangan pembangkit berbasis energi terbarukan tidak lagi hanya soal komitmen lingkungan, tetapi telah menjadi pilihan ekonomi yang paling masuk akal.

Tercatat, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) mencatat biaya pembangkitan terendah di seluruh Asia Pasifik. China menjadi negara dengan biaya LCOE terendah sebesar US$27 per Megawatt hour (MWh), sementara Jepang tercatat US$118/MWh pada 2025.

"Di semua wilayah, teknologi terbarukan menunjukkan keunggulan biaya yang jelas dibandingkan pembangkit konvensional," kata Ahmed Jameel Abdullah, Senior Research Analyst di Wood Mackenzie, dalam keterangan tertulis, Rabu (22/10/2025).

Tidak hanya surya, pembangkit listrik tenaga angin PLTB yang beroperasi di darat (onshore) juga muncul sebagai pilihan yang sangat kompetitif. China, India, dan Vietnam bahkan menjadi pemimpin global dengan biaya PLTB onshore berkisar antara US$25-US$70/MWh.

Woodmac memperkirakan kawasan ini tidak hanya mengandalkan satu jenis energi terbarukan, tetapi membangun portofolio yang beragam dan murah.

Namun, laporan ini juga menyoroti tantangan. Biaya untuk PLTB lepas pantai masih (offshore) sangat tinggi di sebagian besar negara Asia Pasifik, kecuali China, dan diperkirakan baru akan turun signifikan setelah 2030.

“Transisi energi global sedang berakselerasi pada kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. PLTS dan PLTB onshore telah menjadi opsi berbiaya rendah yang dominan di seluruh dunia,” tambah Abdullah.

#energi-terbarukan #biaya-produksi-listrik #pembangkit-tenaga-surya #pembangkit-tenaga-angin #energi-hijau #asia-pasifik-energi #lcoe-2025 #plts-biaya-rendah #pltb-onshore #teknologi-terbarukan #biaya

https://hijau.bisnis.com/read/20251022/652/1922664/ongkos-produksi-listrik-energi-terbarukan-semakin-kompetitif