Danantara Hilirisasi Peternakan Ayam, Harga Telur di Konsumen Diharapkan Stabil
Proyek hilirisasi peternakan ayam senilai Rp20 triliun oleh Danantara diharapkan menstabilkan harga daging dan telur ayam.
(Bisnis.Com) 09/02/26 15:39 130691
Bisnis.com, JAKARTA — Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan) berharap proyek hilirisasi peternakan ayam senilai Rp20 triliun yang digarap Danantara bisa menjaga harga daging dan telur tetap wajar di tingkat konsumen.
Adapun, proyek ini mencakup pembangunan ekosistem unggas terintegrasi dari hulu hingga hilir, termasuk pembibitan, pakan, kesehatan hewan, pengolahan, logistik, dan pemasaran, serta mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sekretaris Jenderal Gopan Sugeng Wahyudi menilai proyek hilirisasi peternakan ini akan berdampak pada harga ayam dan telur di pasar.
“Setidaknya akan berpengaruh terhadap besaran harga yang berlaku di pasar karena ada unsur pemerintah melalui BUMN sehingga akan tercipta harga yang wajar, sesuai acuan, dan tidak memberatkan konsumen,” kata Sugeng kepada Bisnis, Senin (9/2/2026).
Menurutnya, hilirisasi ini bertujuan menciptakan ekosistem industri unggas yang lebih terintegrasi, dengan peternak rakyat sebagai pelaku utama budidaya ayam broiler.
Selain itu, Sugeng menambahkan, ketersediaan input seperti pakan dan anak ayam, serta penyerapan produk saat panen, menjadi inti proyek untuk menciptakan ekosistem unggas yang lebih stabil
Di samping itu, Gopan menilai proyek bernilai jumbo Rp20 triliun ini juga harus memastikan peran BUMN lebih terasa di industri, terutama bagi peternak kecil yang selama ini bersaing sendiri dengan pemain besar. Dia menyebut infrastruktur seperti pabrik pakan dan breeding anak ayam akan membantu memperkuat posisi peternak rakyat.
“Hadirnya BUMN saat ini bukan hal yang baru, tetapi perannya harus lebih ditingkatkan, karena perannya belum dirasakan di industri ini, khususnya peternak pembudidaya ayam broiler, mengingat infrastrukturnya akan tercukupi melalui proyek Rp20 triliun,” ujarnya.
Namun, Gopan menilai terlalu dini jika berharap hilirisasi peternakan ayam ini bisa langsung mendorong ekspor. Menurutnya, fokus utama sebaiknya tetap pada penguatan ekonomi peternak skala besar maupun kecil.
Pada tahap awal, pengembangan hilirisasi peternakan ayam ini dilakukan di enam lokasi, yakni Malang (Jawa Timur), Bone (Sulawesi Selatan), Gorontalo Utara, Paser (Kalimantan Timur), Sumbawa (NTB), dan Lampung Selatan, sebelum diperluas ke total 30 titik nasional.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan) Agung Suganda mengatakan hilirisasi ayam ini dilakukan untuk membangun ekosistem perunggasan nasional yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
“Hilirisasi ayam terintegrasi ini merupakan inisiatif langsung Bapak Menteri Pertanian [Andi Amran Sulaiman] sebagai langkah strategis negara untuk memastikan swasembada protein berjalan berkelanjutan, merata, dan berpihak pada peternak rakyat,” ujar Agung dalam keterangan tertulis, dikutip pada Minggu (8/2/2026).
Adapun, ekosistem yang dibangun mencakup penguatan pembibitan ayam dari hulu, yakni GPS (Grand Parent Stock), Parent Stock (PS), dan Final Stock (FS).
Berikutnya, pengembangan pakan berbasis bahan baku dalam negeri, peningkatan kesehatan hewan, pembangunan rumah potong hewan unggas (RPHU) dan cold chain, pengolahan daging dan telur, serta logistik dan pemasaran.
#hilirisasi-peternakan #harga-telur-stabil #harga-daging-ayam #ekosistem-unggas-terintegrasi #peternak-rakyat #proyek-rp20-triliun #peran-bumn-peternakan #pakan-dan-anak-ayam #industri-unggas-nasional #n-a