Indeks Syariah Menadah Berkah Penguatan Emiten Energi ADRO hingga BUMI
Indeks saham syariah ISSI menguat jelang Ramadan, didukung emiten energi seperti ADRO dan BUMI. Saham tambang dan migas berkontribusi besar.
(Bisnis.Com) 19/02/26 06:00 140200
Bisnis.com, JAKARTA – Indeks saham syariah yang tercermin lewat Indonesia Sharia Stock Index (ISSI) mencetak performa yang lebih baik dibandingkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jelang Ramadan, ditopang oleh saham tambang dan energi yang memanas.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per 13 Februari 2026, kinerja ISSI mengalami pelemahan sebesar 4,54% menjadi 294,61 sejak awal tahun (year-to-date/ytd).
Realisasi itu lebih baik dibandingkan dengan IHSG yang turun 5,03% ytd ke level 8.212,27 pada periode yang sama.
Dilihat dari konstituennya, indeks saham syariah (ISSI) mendapat topangan dari sejumlah emiten berbasis pertambangan, migas, hingga teknologi.
Di urutan pertama yang berkontribusi terhadap kinerja indeks ada saham PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) yang menguat 12,43% ytd menjadi Rp224.850.
Selanjutnya saham PT Merdekat Copper Gold Tbk. (MDKA) yang melesat 41,23% ytd menjadi Rp3.220 serta PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) yang naik 28,57% ytd menjadi Rp4.050.
Saham PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) mencatatkan laju kenaikan 27,19% ytd menjadi Rp725 diikuti saham migas PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) yang naik 34,78% ytd menjadi Rp6.975.
Selanjutnya saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) melesat 22,65% ytd menjadi Rp2.220.
Analis Infovesta Kapital Advisori Ekky Topan menjelaskan proyeksi pasar minyak yang oversupply pada 2026 ini membuat ekspektasi harga minyak cenderung lebih rendah dibanding 2025. Dampaknya paling cepat terasa ke emiten migas yang eksposurnya besar ke minyak, terutama emiten di sektor hulu atau upstream karena pendapatan mereka sangat bergantung pada realized price.
"Jadi untuk kuartal I/2026, peluang top line turun secara YoY cukup terbuka, apalagi basis pembanding tahun lalu masih relatif tinggi. Namun besar-kecilnya penurunan tetap tergantung beberapa faktor, apakah volume lifting bisa naik, komposisi minyak vs gas, serta struktur biaya dan kurs," jelas Ekky.
Di beberapa kasus, sambungnya, rupiah yang melemah bisa sedikit membantu margin karena sebagian biaya masih rupiah. Namun, menurutnya akan tetap saja kalau harga minyak turun signifikan karena sentimen ke pendapatan biasanya lebih dominan.
Dari sisi investor, Ekky melihat saham migas tahun ini cenderung dipandang lebih selektif. Pasar akan lebih menghargai emiten yang biaya produksinya efisien, neraca kuat, dan punya visibilitas produksi atau kontrak yang jelas.
Untuk investor asing, harga minyak yang melemah menurutnya memang bisa menambah sentimen negatif, karena mereka sedang mempertimbangkan risk premium Indonesia pasca sorotan MSCI dan FTSE.
"Jadi kombinasi risiko pasar dan siklus komoditas bisa bikin asing makin wait and see. Walau begitu, minyak tetap komoditas yang cepat berubah karena faktor geopolitik, jadi volatilitas masih besar dan bisa saja ada rebound jangka pendek kalau tensi global naik," pungkasnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#indeks-syariah #saham-syariah #issi #ihsg #emiten-energi #saham-tambang #saham-migas #pt-dci-indonesia #pt-merdeka-copper-gold #pt-aneka-tambang #pt-merdeka-battery-materials #pt-vale-indonesia #pt-al