Likuiditas Longgar, Penerbitan Surat Utang Korporasi Berpotensi Makin Ramai

Likuiditas Longgar, Penerbitan Surat Utang Korporasi Berpotensi Makin Ramai

Kondisi likuiditas dalam negeri yang masih cukup ample dan kebijakan suku bunga rendah mendorong peningkatan penerbitan surat utang korporasi di awal tahun.

(Bisnis.Com) 23/02/26 17:50 144704

Bisnis.com, JAKARTA – Kondisi likuiditas dalam negeri dinilai masih cukup ample untuk dapat menyerap semaraknya fenomena penerbitan surat utang korporasi pada awal tahun. Terlebih, surat utang korporasi jatuh tempo pada tahun ini memiliki nilai yang cukup besar.

Fixed Income Analyst Pefindo Ahmad Nasrudin, menilai indikator kecukupan likuiditas domestik tampak dari inflasi yang masih terjaga dan kebijakan bank sentral yang cenderung menurunkan suku bunga.

”Saya kira likuiditas masih ample. Terutama dari sisi suku bunga turun, berarti kan Bank Indonesia masih mendorong pertumbuhan ekonomi, mendorong pertumbuhan ekonomi lewat M2,” katanya kepada Bisnis, Senin (23/2/2026).

Terlebih, aksi Bank Indonesia untuk menyuntikkan likuiditas senilai Rp200 triliun kepada Himbara, turut dinilai sebagai salah satu indikasi tercukupinya likuiditas Tanah Air.

Adapun, Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga 20 Februari 2026, mencatat sedikitnya telah terdapat 20 penerbitan surat utang dari 13 penerbit, dengan nilai mencapai Rp15,71 triliun.

Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, jumlah penerbit dan surat utang yang diterbitkan, bertumbuh. Pada 2025 misalnya, hanya terdapat 16 penerbitan dari 12 emiten, tetapi dengan nilai yang lebih besar Rp18,39 triliun. Sementara itu, hingga Februari 2024, hanya terdapat 12 emisi surat utang dari 11 emiten dengan nilai mencapai Rp11,88 triliun.

Belum lagi, di dalam pipeline penerbitan EBUS tahun ini, terdapat sekitar 30 emisi surat utang dari 21 penerbit yang tengah mengantre untuk meminta dana. Realisasi penerbitan surat utang hingga saat ini, mencerminkan 7,98% dari target Pefindo Rp196,86 triliun pada 2026.

Melihat kondisi likuiditas dalam negeri, Pefindo memandang positif proyeksi penerbitan surat utang korporasi pada tahun ini.

”Selama Bank Indonesia masih akomodatif untuk menurunkan suku bunga, artinya memang ada dorongan untuk meningkatkan likuiditas di perekonomian,” tambahnya.

Senada, Chief Dealer Fixed Income & Derivatives PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) Fudji Rahardjo, turut memandang prospek penyerapan pasar surat utang Tanah Air cenderung positif.

Kendati dibayangi sentimen negatif dari Moody’s, ketertarikan emiten untuk melakukan emisi surat utang tetap tinggi lantaran kebutuhan untuk mengunci cost of fund yang lebih rendah pada tahun ini.

“Likuiditas dalam negeri terbukti masih sangat kuat menyerap emisi besar ini karena investor domestik ingin mengamankan aset sebelum suku bunga acuan turun lebih jauh,” katanya kepada Bisnis, Senin (23/2/2026).

Di tengah banyaknya penerbitan surat utang korporasi pada awal tahun ini, Fudji menekankan pentingnya investor untuk menyelaraskan pemilihan tenor dengan peringkat kredit emiten, guna mengoptimalkan yield di tengah tren penurunan suku bunga.

Menurutnya, untuk emiten dengan peringkat AAA, tenor panjang layak dipertimbangkan demi mendapatkan yield enhancement yang berada di atas yield SBN.

”Namun, bagi obligasi yang memiliki peringkat investment grade cenderung lebih rendah, penggunaan tenor yang lebih pendek direkomendasikan sebagai langkah bijak untuk menjaga stabilitas portofoliio dari risiko yang mungkin timbul,” tambahnya.

#likuiditas-longgar #penerbitan-surat-utang #surat-utang-korporasi #likuiditas-domestik #suku-bunga-turun #bank-indonesia #pertumbuhan-ekonomi #pasar-surat-utang #emisi-surat-utang #investor-domestik #n-a

https://market.bisnis.com/read/20260223/92/1955073/likuiditas-longgar-penerbitan-surat-utang-korporasi-berpotensi-makin-ramai