Proyeksi Asuransi Properti Tetap jadi Tulang Punggung Premi Asuransi Umum 2026
Asuransi properti diproyeksikan jadi kontributor utama premi asuransi umum 2026, didorong kebutuhan polis bencana dan insentif properti, meski ada tantangan ekonomi.
(Bisnis.Com) 25/02/26 11:31 146707
Bisnis.com, JAKARTA — Asuransi properti diperkirakan akan tetap menjadi kontributor utama bagi pendapatan premi di industri asuransi umum pada 2026.
Pengamat asuransi Irvan Rahardjo berpendapat demikian lantaran hal tersebut didorong oleh kebutuhan polis bencana alam (natural catastrophe) dan insentif properti.
“Meskipun menghadapi tantangan ekonomi dan pertumbuhan yang konservatif, lini bisnis ini diproyeksikan tumbuh dengan CAGR 15,4% [2024-2028] didukung kebijakan perumahan,” ucapnya kepadaBisnis, Rabu (25/2/2026).
Oleh karena itu, Irvan menyarankan perusahaan asuransi dapat melibatkan digitalisasi pemasaran, kolaborasi dengan mitra perbankan/developeruntuk produkbundled(KPR), dan penyesuaian produk berbasis data pasar, guna mendongkrak premi asuransi properti.
Selain itu, dia mengingatkan bahwa optimalisasi layanan melalui agen berkualitas dan kemudahan klaim digital juga penting untuk menjaga retensi nasabah atau pemegang polis.
Kendati demikian, dia juga tidak memungkiri masih ada tantangan yang perlu dihadapi dalam memasarkan asuransi properti yakni rendahnya kesadaran masyarakat karena asuransi dinilai belum menjadi kebutuhan pokok, adanya salah paham mengenai cakupan polis, dan ketatnya kompetisi harga.
“Faktor eksternal seperti pelemahan daya beli, peningkatan risiko bencana [perubahan iklim], dan biaya reasuransi yang naik juga menekan margin,” beber Irvan.
Menurutnya, frekuensi bencana alam akibat perubahan iklim mendorong kenaikan tarif premi asuransi properti (pricing) secara signifikan akibat lonjakan klaim, yang mengancam profitabilitas industri.
“Perusahaan asuransi kini merespons dengan memetakan ulang risiko, menaikkan premi, memperketat cakupan, serta berinovasi dengan produk berbasis indeks,” sebutnya.
Lebih jauh, Irvan menilai masih terdapat ruang ekspansi yang signifikan bagi asuransi properti di luar segmen korporasi besar. Peluang tersebut utamanya terletak pada segmen UMKM dan residensial.
“Potensi ini didorong oleh rendahnya penetrasi asuransi pada properti perumahan serta kebutuhan perlindungan aset yang terus meningkat pada sektor UMKM seiring pertumbuhan ekonomi,” pungkasnya.
Sebagai informasi, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat pendapatan premi dari lini usaha properti sepanjang 2025 mencapai Rp32,86 triliun, tumbuh 8,6% (year on year/YoY) dari Rp30,27 triliun.
Sementara itu, klaim yang dibayar dari asuransi properti naik 1,8% YoY menjadi Rp8,58 triliun sepanjang 2025. Adapun, rasio klaim asuransi properti sebesar 26,1%.
#asuransi-properti #premi-asuransi #industri-asuransi-umum #polis-bencana-alam #insentif-properti #pertumbuhan-asuransi #digitalisasi-pemasaran #kolaborasi-perbankan #produk-bundled #kemudahan-klaim #k