Deretan Komoditas Mineral Kritis dan Logam Terancam Krisis Iklim
Krisis iklim mengancam produksi mineral kritis dan logam seperti kobalt, tembaga, dan litium, yang terkonsentrasi di beberapa negara, meningkatkan risiko gangguan pasokan global.
(Bisnis.Com) 26/02/26 13:42 148172
Bisnis.com, JAKARTA — Kenaikan suhu Bumi yang dipicu oleh krisis iklim ternyata tak hanya menghadirkan risiko produksi pada komoditas pertanian. Analisis yang dilakukan lembaga konsultan PwC menunjukkan bahwa komoditas mineral dan logam pun tak luput dari bencana iklim.
PwC mencatat bahwa produksi komoditas mineral kritis seperti kobalt, tembaga, dan litium terkonsentrasi di wilayah tertentu. Begitu pula untuk komoditas logam seperti besi, seng, dan aluminium.
Laporan yang dirilis pada 2024 tersebut menyoroti bahwa produksi komoditas global tidak hanya terpusat pada segelintir negara, tetapi juga pada lokasi tambang tertentu di dalam negara tersebut. Pada 2020, misalnya, lebih dari separuh pasokan kobalt dunia berasal dari lima tambang di Republik Demokratik Kongo. Secara keseluruhan, 81% litium dunia, 50% bauksit, dan 44% bijih besi hanya dipasok dari tidak lebih dari 10 tambang.
Konsentrasi geografis ini memperbesar risiko gangguan pasokan global apabila satu lokasi terdampak bencana. PwC menelaah dampak dua risiko iklim utama, yakni kekeringan dan tekanan panas (heat stress) terhadap tambang penghasil komoditas mineral kritis dan logam penting tersebut.
Kekeringan dinilai menjadi ancaman serius, khususnya bagi sektor pertambangan yang sangat bergantung pada air untuk ekstraksi bijih, pemrosesan mineral, hingga pengendalian debu. Produksi litium, misalnya, membutuhkan lebih dari dua juta liter air untuk setiap satu ton hasil tambang.
“Sementara itu, tekanan panas dapat menurunkan produktivitas karena pekerja tambang banyak beraktivitas di ruang terbuka dengan paparan suhu dan kelembapan tinggi,” tulis PwC dalam laporan tersebut.
PwC menemukan seluruh logam vital yang dianalisis menghadapi peningkatan risiko akibat kekeringan dan tekanan panas. Produksi logam tersebut saat ini sangat bergantung pada pasokan dari China, Brasil, dan Australia. Negara-negara ini diproyeksikan mengalami peningkatan risiko kekeringan dan panas ekstrem.
Dalam skenario emisi rendah pada 2050, lebih dari 60% produksi bauksit dan bijih besi global berpotensi menghadapi risiko tekanan panas signifikan atau lebih tinggi. Sementara dalam skenario emisi tinggi, sekitar 40% produksi seng dunia pada 2050 diperkirakan menghadapi risiko kekeringan signifikan.
Risiko terhadap mineral kritis bahkan lebih besar. Produksi kobalt dan litium sangat bergantung pada Australia, Republik Demokratik Kongo, Chile, dan Peru. Negara-negara ini juga diproyeksikan mengalami peningkatan risiko kekeringan.
Pada 2050, bahkan dalam skenario emisi rendah, lebih dari 70% produksi kobalt dan litium global dapat terpapar risiko kekeringan signifikan hingga ekstrem, meningkat tajam dari hampir nol saat ini.
Untuk tembaga, kurang dari 10% produksi saat ini menghadapi risiko kekeringan signifikan, tetapi angkanya dapat melampaui 50% pada 2050 dalam skenario emisi rendah.
PwC menyimpulkan perubahan iklim menimbulkan ancaman serius terhadap kapasitas produksi komoditas esensial dunia. Bahkan jika laju emisi gas rumah kaca berhasil ditekan, frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem tetap meningkat. Kondisi ini berisiko mengganggu operasi tambang dan pertanian.
“Tanpa langkah adaptasi atau relokasi produksi, makin besar kapasitas produksi global yang terpapar gangguan iklim dalam dekade mendatang. Mengingat sedikitnya negara dan lokasi yang menopang pasokan global. Gangguan di satu wilayah dapat berdampak luas terhadap rantai pasok industri dan ekonomi global,” tulis PwC.
#komoditas-mineral #logam-kritis #krisis-iklim #produksi-kobalt #produksi-litium #tambang-kobalt #tambang-litium #risiko-kekeringan #tekanan-panas #produksi-tembaga #produksi-bauksit #produksi-bijih-be