Kemenkes: Imunisasi MR Lengkap Kunci Cegah KLB Campak

Kemenkes: Imunisasi MR Lengkap Kunci Cegah KLB Campak

Kemenkes menyoroti pentingnya imunisasi MR lengkap untuk mencegah campak. Penyakit ini menular cepat melalui droplet. Pencegahan dan penguatan surveilans krusial.

(Bisnis.Com) 26/02/26 20:03 148655

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Kesehatan menyampaikan bahwa kasus campak masih menjadi perhatian global dan nasional karena penyakit yang disebabkan oleh Morbillivirus, virus RNA dari famili Paramyxoviridae, tersebut menular sangat cepat.

Sekretaris Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes RI, dr. Andi Saguni, MA, menjelaskan bahwa campak menular melalui droplet dan airborne transmission. Penularan terjadi lewat percikan air liur saat penderita batuk atau bersin, termasuk dari benda yang telah terkontaminasi.

“Etiologi atau penyebab daripada campak ini adalah Morbillivirus, yakni virus RNA. Dan penularannya melalui droplet dan airborne transmission,” ujarnya dalam konferensi pers, Kamis (26/2/2026).

Dia menjelaskan, droplet yang menempel di meja atau benda lain dapat berpindah ke tangan orang sehat lalu masuk melalui hidung atau makanan. Karena itu, kebiasaan mencuci tangan dan menjaga kebersihan menjadi sangat penting untuk menekan risiko penularan.

Gejala utama campak ditandai dengan demam dan ruam makulopapular, yaitu bercak merah yang sedikit menonjol di permukaan kulit. Selain itu, penderita dapat mengalami batuk, pilek, konjungtivitis atau mata merah, gatal, dan kadang disertai diare.

Masa inkubasi campak berkisar antara 7 hingga 18 hari dengan rata-rata 10 hari. Risiko penularan lebih tinggi pada anak yang belum atau tidak lengkap imunisasi campak rubella, memiliki kontak erat dengan penderita, bergizi kurang, serta tidak menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.

Diagnosis pasti dilakukan melalui pemeriksaan serum dengan metode serologi ELISA IgM. Jika hasil IgM positif, maka kasus dinyatakan sebagai campak konfirmasi laboratorium.

Penanganan campak dilakukan dengan pemberian vitamin A untuk melindungi kornea mata dan mukosa usus. Pengobatan juga diberikan sesuai gejala, seperti obat penurun panas untuk demam dan obat batuk jika diperlukan.

Apabila terjadi komplikasi seperti diare berat, pasien harus mendapat terapi rehidrasi. Sementara jika muncul pneumonia atau radang paru, perawatan dilakukan di rumah sakit.

Secara global, kasus campak masih ditemukan di berbagai negara di Asia Selatan, Afrika, Timur Tengah, Amerika, hingga Eropa. Di kawasan Western Pacific termasuk Indonesia, kasus juga tercatat di China, Mongolia, dan Filipina.

Di dalam negeri, pada 2025 tercatat 116 KLB campak konfirmasi laboratorium di 89 kabupaten/kota pada 16 provinsi. Total kasus suspek mencapai 63.769 dengan 11.094 konfirmasi laboratorium dan 69 kematian, dengan case fatality rate (CFR) sebesar 0,1%.

Lima provinsi dengan KLB terbanyak pada 2025 adalah Jawa Timur, Banten, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh. Angka CFR tersebut setara dengan negara maju dan lebih rendah dibanding negara berkembang yang berada pada kisaran 4–6%.

Memasuki 2026 hingga minggu ke-7, tercatat 21 KLB suspek di 17 kabupaten/kota pada 11 provinsi serta 13 KLB konfirmasi laboratorium di 6 provinsi. Jumlah suspek mencapai 8.224 kasus dengan 572 konfirmasi laboratorium dan 4 kematian, dengan CFR sebesar 0,05%.

“Artinya lebih rendah daripada angka negara maju, yakni tadi 0,1%. Kita lebih baik,” kata Andi.

Kemenkes juga menerima dua notifikasi kasus dari Australia melalui mekanisme International Health Regulation (IHR) pada Februari 2026. Kedua kasus tersebut merupakan warga negara Australia yang sempat berkunjung ke Indonesia.

Kasus pertama adalah perempuan 18 tahun dengan gejala ruam dan riwayat vaksinasi MMR lengkap dua dosis. Pasien dilaporkan telah sembuh pada 24 Februari 2026 setelah otoritas Australia melakukan pelacakan kontak.

Kasus kedua adalah anak perempuan usia 6 tahun yang tidak memiliki riwayat vaksinasi. Pasien sempat tinggal lebih dari satu bulan di Indonesia sebelum kembali ke Australia dan terkonfirmasi campak.

Upaya Pencegahan dan Pengendalian

Pemerintah menegaskan bahwa pengendalian campak tidak hanya berfokus pada penanganan kasus, tetapi juga pencegahan sejak dini melalui penguatan sistem surveilans dan imunisasi. Langkah ini dinilai krusial untuk mencegah perluasan kejadian luar biasa (KLB) di berbagai daerah.

“Pencegahan tetap menjadi kunci utama, karena imunisasi lengkap serta respons cepat di lapangan sangat menentukan keberhasilan pengendalian kasus,” ujar Andi.

Menurut dr. Andi, berikut strategi pengendalian yang dilakukan pemerintah:
- Penguatan surveilans nasional, terutama di wilayah KLB 2025–2026.
- Penyelidikan epidemiologi maksimal 24 jam setelah kasus ditemukan.
- Pelaporan real time melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR).
- Penguatan 11 laboratorium rujukan untuk pemeriksaan ELISA dan PCR.

Selain itu, penguatan imunisasi juga menjadi fokus utama untuk meningkatkan kekebalan kelompok (herd immunity). Pemerintah mendorong percepatan cakupan imunisasi agar tidak ada anak yang terlewat dari perlindungan dasar.

Berikut sejumlah program imunisasi yang dijalankan pemerintah untuk memperluas cakupan dan perlindungan anak:
- Imunisasi rutin dan imunisasi kejar di wilayah dengan cakupan rendah.
- Imunisasi MR tambahan di daerah KLB sebagai crash program untuk anak PAUD dan TK.

Dari sisi masyarakat, dr. Andi juga menekankan pentingnya langkah pencegahan untuk memutus rantai penularan campak. Dia menyebut perilaku hidup bersih dan sehat menjadi bagian krusial dalam pengendalian penyakit menular ini.

Berikut langkah yang dianjurkan:
- Isolasi pasien hingga sembuh dan tidak beraktivitas di tempat umum.
- Penggunaan masker saat sakit dan di tempat keramaian.
- Menerapkan etika batuk serta cuci tangan pakai sabun secara rutin.
- Segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika mengalami demam dan ruam.

Menutup pernyataannya, dr. Andi mengimbau peran aktif orang tua dalam melindungi anak dari risiko campak melalui imunisasi lengkap. Dia menegaskan partisipasi dalam kampanye imunisasi di wilayah masing-masing menjadi langkah penting untuk memperkuat perlindungan dan mencegah lonjakan kasus.

“Kami menghimbau agar orang tua memastikan anak mendapatkan imunisasi MR lengkap dan aktif mengikuti kampanye imunisasi di wilayahnya,” tutup Andi.

#campak #imunisasi-mr #kemenkes #morbillivirus #penularan-campak #gejala-campak #diagnosis-campak #komplikasi-campak #klb-campak #pencegahan-campak #surveilans-campak #imunisasi-rutin #herd-immunity #p

https://lifestyle.bisnis.com/read/20260226/106/1956180/kemenkes-imunisasi-mr-lengkap-kunci-cegah-klb-campak