Ekonomi India Tumbuh 7,8 Persen, Lampaui Prediksi
Pertumbuhan ekonomi India mencapai 7,8 persen pada kuartal yang berakhir Desember 2025. Capaian ini lebih tinggi dari proyeksi analis.
(Kompas.com) 28/02/26 11:13 150289
KOMPAS.com - Pertumbuhan ekonomi India mencapai 7,8 persen pada kuartal yang berakhir Desember 2025. Capaian ini lebih tinggi dari proyeksi analis.
Dikutip dari CNBC, Sabtu (28/2/2026), produk domestik bruto (PDB) India periode Oktober–Desember sebelumnya diperkirakan hanya tumbuh 7,2 persen. Dengan realisasi tersebut, pertumbuhan ekonomi India melampaui ekspektasi pasar.
Data terbaru ini juga menjadi yang pertama dirilis setelah pemerintah merombak kerangka penghitungan output ekonomi guna meningkatkan akurasi.
Pada kuartal sebelumnya, pertumbuhan PDB India tercatat 8,2 persen. Angka itu kemudian direvisi menjadi 8,4 persen berdasarkan seri baru.
Sementara itu, estimasi pertumbuhan untuk tahun fiskal 2026 dinaikkan menjadi 7,6 persen dari sebelumnya 7,4 persen.
“Data PDB melampaui ekspektasi kami maupun konsensus,” kata Alexandra Hermann, ekonom utama di Oxford Economics.
Perubahan Seri PDB dan Respons terhadap Kritik
Pembaruan data ini tidak lepas dari perubahan metodologi yang dilakukan pemerintah. Pada Januari, Kementerian Statistik dan Implementasi Program India (MoSPI) memperkenalkan perubahan pada seri PDB, inflasi, dan data produksi industri.
Dalam pernyataan resminya, MoSPI menyebut langkah tersebut bertujuan memperkuat kualitas data, meningkatkan kredibilitas, serta relevansi kebijakan.
Sebagai bagian dari pembaruan itu, India menggeser tahun dasar PDB menjadi tahun fiskal 2023 dari sebelumnya 2012. Dengan perubahan ini, pencatatan terhadap sektor-sektor ekonomi yang tumbuh cepat dinilai menjadi lebih akurat.
Menurut Hermann, peningkatan pencatatan pada segmen yang berkembang pesat menunjukkan bahwa “lintasan pertumbuhan yang terukur kemungkinan akan secara struktural lebih tinggi di bawah seri baru.”
Secara rinci, konsumsi swasta dan pembentukan modal tetap bruto tercatat tumbuh lebih dari 7 persen pada tahun fiskal berjalan.
MoSPI menyatakan, “Sektor manufaktur telah menjadi pendorong utama yang berkontribusi pada kinerja ekonomi yang tangguh selama tiga tahun fiskal berturut-turut setelah perubahan tahun dasar.”
Perubahan ini juga diharapkan menjawab sorotan terhadap kualitas data ekonomi India. Dalam laporan tahun lalu, Dana Moneter Internasional (IMF) menyampaikan kekhawatiran atas akurasi data pemerintah India dan memberikan peringkat “C”, yang merupakan peringkat terendah kedua.
IMF menilai terdapat sejumlah keterbatasan, antara lain penggunaan tahun dasar yang sudah usang (2011/2012) serta penggunaan indeks harga grosir dan satu deflator untuk menghitung inflasi. Kondisi tersebut dinilai dapat mendistorsi ukuran ekonomi riil.
Sekretaris MoSPI, Saurabh Garg, dalam wawancara dengan media lokal pada Kamis mengatakan, “Seri PDB baru akan secara luas menjawab kekhawatiran IMF, dan sebagai hasilnya, kami memperkirakan penilaian serta peringkat mereka terhadap data neraca nasional India akan berubah.”
Konsumsi Domestik dan Tekanan Tarif AS
Di sisi domestik, pada kuartal Desember terjadi peningkatan selektif konsumsi emas dan otomotif, seiring musim perayaan. Kenaikan ini turut menopang kinerja ekonomi pada periode tersebut.
Namun, kuartal ini juga menjadi periode penuh pertama ketika eksportir India merasakan dampak tarif 50 persen dari Amerika Serikat.
Tarif tersebut telah dikenakan terhadap ekspor India ke AS sejak Agustus tahun lalu. Meski demikian, kedua negara kemudian menyepakati kesepakatan dagang sementara yang menurunkan tarif menjadi 18 persen.
Situasi perdagangan global kian kompleks setelah Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian besar rezim tarif Presiden Donald Trump pada Jumat lalu.
Pemerintah AS kini menerapkan tarif global sebesar 10 persen dan mengancam akan menaikkannya lebih tinggi.
Meski ada perlambatan ekspor ke AS, survei ekonomi yang dirilis bulan lalu mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi India tidak terhambat oleh kondisi tersebut.
Tekstil, produk kelautan, permata dan perhiasan, komponen otomotif, serta barang kulit merupakan ekspor utama India yang terdampak tarif AS. Namun, berdasarkan data pemerintah India, produk-produk tersebut telah menemukan pasar alternatif.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#pertumbuhan-ekonomi #pertumbuhan-ekonomi-india #ekonomi-india #tarif-as #pdb-india #tarif-as-terhadap-india
https://money.kompas.com/read/2026/02/28/111346926/ekonomi-india-tumbuh-78-persen-lampaui-prediksi