Selat Hormuz Bayangi Wall Street, Nasdaq dan S&P 500 Turun Hampir 1 Persen

Selat Hormuz Bayangi Wall Street, Nasdaq dan S&P 500 Turun Hampir 1 Persen

Wall Street melemah signifikan akibat eskalasi konflik Timur Tengah yang memicu kekhawatiran gangguan energi global dan lonjakan harga minyak, meski investor masih resilient.

(Kompas.com) 04/03/26 07:11 154179

NEW YORK, KOMPAS.com- Indeks utama Wall Street ditutup melemah pada akhir perdagangan Selasa (3/3/2026) waktu setempat, seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu stabilitas energi global.

Mengutip Reuters, Rabu (4/3/2026), indeks Dow Jones Industrial Average turun 403,51 poin atau 0,83 persen ke level 48.501,27.

Indeks S&P 500 terkoreksi 64,99 poin atau 0,94 persen menjadi 6.816,63, sementara Nasdaq Composite merosot 232,17 poin atau 1,02 persen ke 22.516,69.

Tekanan jual terjadi secara luas di berbagai sektor. Indeks Volatilitas CBOE (VIX) bahkan mencatat penutupan tertinggi sejak November.

Meski demikian, ketiga indeks memangkas sebagian besar kerugian intraday setelah sempat tertekan lebih dalam pada awal sesi.

S&P 500, misalnya, sempat anjlok lebih dari 2 persen sebelum akhirnya ditutup turun sekitar 0,9 persen.

Pelaku pasar mencermati dampak konflik yang kini memasuki hari keempat.

Serangan Israel dan Amerika Serikat ke sejumlah target di Iran memicu serangan balasan Teheran di kawasan Teluk, dengan ketegangan yang meluas hingga Lebanon.

Lonjakan harga minyak menjadi perhatian utama karena berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi.

“Tampaknya ada anggapan bahwa konflik ini bisa berlangsung lebih lama dari perkiraan sebelumnya, terutama karena mulai berdampak pada infrastruktur energi,” ujar Chuck Carlson, Kepala Eksekutif Horizon Investment Services di Hammond, Indiana.

Kendati demikian, Selasa menjadi hari kedua berturut-turut di mana indeks-indeks utama berhasil memangkas penurunan tajam di awal perdagangan, mencerminkan bahwa kepanikan belum sepenuhnya mendominasi pasar.

Jed Ellerbroek, manajer portofolio di Argent Capital, menilai reaksi pasar sejauh ini relatif terkendali.

Menurut dia, hal tersebut menunjukkan toleransi risiko investor masih terjaga.

Ia mencatat saham-saham perangkat lunak yang sebelumnya tertekan justru mencatat penguatan, dengan indeks perangkat lunak dan jasa S&P 500 naik 1,6 persen.

Namun dari sisi teknikal, terdapat sinyal yang dinilai kurang positif.

S&P 500 ditutup di bawah rata-rata pergerakan 100 hari untuk pertama kalinya sejak 20 November, yang kerap dianggap sebagai indikator pelemahan momentum jangka menengah.

“Investor sedang bergulat dengan volatilitas dan arus berita. Ada kekhawatiran situasi bisa memburuk,” kata Oliver Pursche, Wakil Presiden Senior dan penasihat di Wealthspire Advisors, Connecticut.

Meski demikian, ia menyarankan investor untuk tetap tenang dan tidak bereaksi berlebihan terhadap pergerakan jangka pendek.

Di level korporasi, saham Blackstone turun 3,8 persen setelah dana kredit andalannya, BCRED, menghadapi lonjakan permintaan penarikan dana.

Di sisi lain, ancaman Iran untuk menyerang kapal yang melintasi Selat Hormuz, ditambah penghentian produksi oleh sejumlah produsen minyak dan gas di Timur Tengah, mendorong kenaikan tarif pengiriman global serta harga minyak mentah dan gas alam.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang mengangkut sekitar seperlima konsumsi minyak dunia.

Gangguan di kawasan ini berpotensi memicu tekanan besar pada pasokan energi global.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan telah memerintahkan International Development Finance Corporation (IDFC) untuk menyediakan asuransi risiko politik dan jaminan keuangan bagi perdagangan maritim yang melewati Teluk.

Ia juga membuka kemungkinan Angkatan Laut AS mengawal kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz jika diperlukan.

Kenaikan harga minyak menambah kekhawatiran bahwa inflasi dapat kembali meningkat, di tengah kondisi bank sentral yang sudah menghadapi tekanan akibat dampak tarif perdagangan.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS pun naik untuk sesi kedua berturut-turut, mencerminkan ekspektasi pasar terhadap tekanan inflasi yang berlanjut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#harga-minyak-melonjak #wall-street-melemah #konflik-timur-tengah #stabilitas-energi-global

https://money.kompas.com/read/2026/03/04/071141526/selat-hormuz-bayangi-wall-street-nasdaq-dan-sp-500-turun-hampir-1-persen