Data Tenaga Kerja AS Negatif, Harga Bitcoin dan Kripto Kompak Melemah
Harga kripto anjlok pasca rilis data NFP AS yang lemah. Bitcoin dan emas ikut tertekan, mengindikasikan adanya perebutan likuiditas dollar di pasar global.
(Kompas.com) 07/03/26 20:58 158063
JAKARTA, KOMPAS.com - Harga sejumlah aset kripto melemah di tengah rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat atau Non-Farm Payrolls (NFP).
Ekonomi AS kehilangan lapangan kerja pada Februari 2026, saat tekanan cuaca musim dingin ekstrem hingga aksi mogok kerja di salah satu penyedia layanan kesehatan terbesar di negara tersebut.
Dikutip dari CNBC, Sabtu (7/3/2026), Biro Statistik Tenaga Kerja AS atau Bureau of Labor Statistics (BLS) melaporkan, nonfarm payrolls atau jumlah pekerja di luar sektor pertanian mencapai 92.000 pada Februari 2026.
UNSPLASH/ERLING LOKEN ANDERSEN Ilustrasi bitcoin. Harga Bitcoin bergerak sangat fluktuatif di tengah ketidakpastian pasar global akibat perang Iran. Meski sempat melonjak tajam, reli kripto terbesar di dunia itu mulai kehilangan momentum.Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan perkiraan yang memproyeksikan penambahan 50.000 pekerjaan.
Penurunan tersebut juga lebih rendah dibandingkan data Januari yang telah direvisi turun menjadi 126.000.
Februari 2026 sekaligus menjadi kali ketiga dalam lima bulan terakhir ketika jumlah payrolls mengalami penurunan, setelah revisi tajam menunjukkan penurunan 17.000 pekerjaan pada Desember 2025.
Pada saat yang sama, tingkat pengangguran di AS naik menjadi 4,4 persen.
Kenaikan ini terjadi seiring berkurangnya lapangan kerja di sejumlah sektor utama perekonomian.
Sementara itu, dalam 24 jam terakhir harga aset utama kripto juga anjlok.
Berdasarkan data CoinMarketCap Sabtu (7/3/2026), harga Bitcoin (BTC) turun sekitar 3,62 persen dan diperdagangkan di level 68.029 dollar AS, Ethereum (ETH) turun 3,53 persen ke posisi 1.990,31 dollar AS, Binance Coin (BNB) terkoreksi 1,71 persen ke 628,38 dollar AS.
Tekanan serupa terjadi pada XRP yang melemah sekitar 2,14 persen ke posisi 1,372 dollar AS.
UNSPLASH/TRAXER Ilustrasi kripto.Di kelompok altcoin besar lainnya, Solana (SOL) mencatatkan penurunan 3,45 persen ke level 84,79 dollar AS, sedangkan Dogecoin (DOGE) turun 2,98 persen ke posisi 0,09067 dollar AS.
Kripto Cardano (ADA) juga mengalami tekanan dengan koreksi 3,09 persen menjadi 0,2591 dollar AS, sementara Bitcoin Cash (BCH) melemah 1,50 persen ke angka 449,69 dollar AS.
Selain itu, TRON (TRX) mencatatkan penurunan terbatas sekitar 1,01 persen ke posisi 0,2838 dollar AS.
CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, mengatakan harga BTC dan aset kripto lainnya cenderung melemah menjelang rilis data NFP karena pelaku pasar global sangat sensitif terhadap arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
Data ketenagakerjaan Paman Sam seperti NFP sering dijadikan acuan utama untuk menilai seberapa kuat kondisi ekonomi AS, hal itu akhirnya memengaruhi keputusan bank sentral, The Federal Reserve (The Fed), untuk menurunkan atau menahan suku bunga acuan.
“Bitcoin dan aset kripto cenderung melemah menjelang rilis Non-Farm Payrolls karena pasar sedang kembali sangat sensitif terhadap arah suku bunga AS,” ujar Calvin saat dihubungi Kompas.com, Minggu siang ini.
Dalam beberapa hari terakhir, harga Bitcoin bergerak di kisaran 70.000-71.000 dollar AS dan sempat terkoreksi sekitar 2 hingga 3 persen.
Menurutnya, penurunan terjadi karena pasar menghadapi ketidakpastian mengenai kapan The Fed akan mulai memangkas suku bunga.
Jika data ekonomi AS menunjukkan kondisi tenaga kerja masih kuat, maka peluang penurunan suku bunga bisa tertunda, sehingga likuiditas global tetap ketat dan aset berisiko seperti kripto cenderung tertekan.
“Dalam beberapa hari terakhir, Bitcoin diperdagangkan di kisaran 70.000 -71.000 dollar AS dan sempat turun sekitar 2-3 persen di tengah ketidakpastian soal jalur pemangkasan suku bunga, arus ETF yang belum stabil, dan lonjakan risiko geopolitik,” paparnya.
UNSPLASH/KANCHANARA Ilustrasi bitcoin.Dalam situasi saat ini volatilitas global yang meningkat tidak otomatis menjadi sentimen positif bagi kripto.
Sebaliknya, pelaku pasar seringkali mengurangi eksposur pada aset yang paling sensitif terhadap likuiditas sebelum data ekonomi AS di sektor tenaga kerja diumumkan.
Dengan kata lain, pelemahan harga kripto menjelang NFP lebih mencerminkan sikap wait and see dari investor dibandingkan hilangnya minat terhadap aset digital tersebut.
“Dalam situasi seperti ini, volatilitas global yang tinggi tidak otomatis menguntungkan kripto, karena pelaku pasar justru cenderung mengurangi posisi pada aset yang paling sensitif terhadap likuiditas sebelum data makro besar keluar. Jadi pelemahan menjelang NFP lebih mencerminkan sikap wait and see dan pengurangan risiko jangka pendek, bukan semata-mata hilangnya minat terhadap kripto,” beber Calvin.
Ihwal seberapa besar pengaruh penguatan indeks dollar AS terhadap pergerakan harga kripto saat ini?
Calvin mencatat penguatan indeks dollar memberi tekanan terhadap pasar kripto, meskipun bukan satu-satunya penentu arah pergerakan harga.
Dalam sebulan terakhir, dollar menguat 1,37 persen, dengan posisi indeks dollar (DXY) berada di sekitar 99 menjelang 6 Maret 2026.
Ketika dollar menguat, kondisi keuangan global biasanya menjadi lebih ketat.
Hal ini terjadi karena penguatan mata uang AS sering diikuti oleh kenaikan yield riil dan meningkatnya daya tarik aset berbasis dollar, seperti obligasi pemerintah AS.
Dalam situasi itu, investor global cenderung lebih berhati-hati terhadap aset yang memiliki risiko lebih tinggi.
Akibatnya, minat terhadap aset berisiko seperti kripto bisa menurun.
FREEPIK/FABRIKASIMF Ilustrasi bitcoin.Bitcoin misalnya termasuk aset non-yielding, yaitu aset yang tidak memberikan imbal hasil langsung seperti bunga atau dividen.
Ketika dollar dan imbal hasil aset keuangan meningkat, sebagian investor memilih memindahkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman dan memberikan yield.
“Secara umum, ketika dollar menguat, kondisi finansial global ikut mengetat, seperti yield riil cenderung naik, aset berisiko menjadi kurang menarik, dan permintaan terhadap aset non-yielding seperti Bitcoin biasanya tertahan,” katanya.
Meski demikian, hubungan antara dollar dan kripto tidak selalu bergerak berlawanan secara langsung.
Ada banyak faktor lain yang juga memengaruhi pasar kripto, seperti arus dana institusi, sentimen teknologi blockchain, hingga kondisi geopolitik global.
Namun dalam fase makro ekonomi, ketika pasar fokus pada kebijakan suku bunga AS dan likuiditas global, penguatan dollar tetap menjadi tekanan atau headwind yang cukup bagi pergerakan harga kripto.
“Hubungannya tidak selalu satu banding satu setiap hari, tetapi dalam fase makro seperti sekarang, penguatan dollar adalah headwind yang nyata bagi kripto,” tukas Calvin.
Pelemahan kripto terjadi bersamaan dengan tertekannya harga emas
Calvin juga menyoroti fenomena menarik yang terjadi di pasar global, yakni pelemahan kripto terjadi bersamaan dengan emas.
Biasanya emas dipandang sebagai aset lindung nilai atau safe haven, tetapi dalam kondisi pasar yang sedang mengalami tekanan likuiditas, aset tersebut juga bisa ikut terkoreksi.
Menurutnya, anjloknya harga kripto dan emas sebagai indikasi adanya liquidity squeeze atau tekanan likuiditas di pasar global, meskipun kondisi tersebut belum menunjukkan terjadinya krisis likuiditas yang serius.
DOK. Shutterstock. Ilustrasi Bitcoin.Dalam situasi pasar yang tidak pasti, investor sering kali menjual aset yang paling mudah dicairkan terlebih dahulu untuk menambah kas, menutup kewajiban margin, atau mengurangi tingkat leverage dalam portofolio mereka.
Karena alasan tersebut, emas yang dipandang sebagai aset safe haven ikut mengalami penurunan jangka pendek.
Hal yang sama terjadi pada saham maupun kripto.
Penurunan ini bukan karena perubahan fundamental dari aset tersebut, tetapi karena kebutuhan likuiditas investor dalam kondisi pasar yang sedang tegang.
“Saat pasar mengalami stress, investor sering menjual apa yang likuid lebih dulu untuk menutup margin, menambah kas, atau menurunkan leverage. Itu sebabnya emas bisa sempat turun bersamaan dengan saham atau kripto, walaupun secara fundamental emas tetap dianggap safe haven,” lanjut Calvin.
Data terbaru menunjukkan harga emas sempat turun sekitar 0,83 persen pada 5 Maret sebelum kembali relatif stabil.
Pada saat yang sama, Bitcoin juga mengalami tekanan dan diperdagangkan di sekitar 70.000 dollar AS.
Pergerakan ini menunjukkan sebagian pelaku pasar sedang melakukan deleveraging lintas aset, yaitu mengurangi eksposur terhadap berbagai instrumen sekaligus untuk memperkuat posisi kas, terutama dalam bentuk dollar AS.
Dengan demikian, pola pelemahan yang terjadi pada emas dan kripto saat ini lebih mencerminkan perebutan likuiditas dollar di pasar global.
Kondisi tersebut tidak serta-merta menandakan perubahan narasi jangka panjang terhadap emas sebagai aset lindung nilai maupun Bitcoin sebagai aset digital.
“Jadi pola ini lebih cocok dibaca sebagai deleveraging lintas aset dan perebutan likuiditas dollar, bukan perubahan narasi jangka panjang emas atau Bitcoin secara permanen,” ungkapnya.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham, kripto, dan emas. Seluruh rekomendasi berasal dari analis. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#suku-bunga-as #harga-kripto #likuiditas-global #non-farm-payrolls