Konflik Iran Picu Lonjakan Harga Minyak, Bitcoin Turun ke Level Terendah 7 Hari
Konflik Iran picu lonjakan harga minyak, Bitcoin turun 2,36% ke US$65.633. Ketegangan geopolitik dan inflasi dorong pasar kripto dan saham melemah.
(Bisnis.Com) 09/03/26 10:20 158816
Bisnis.com, JAKARTA — Harga Bitcoin melemah ke level terendah dalam sepekan pada perdagangan awal pekan seiring lonjakan harga minyak akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap eskalasi perang yang melibatkan Iran.
Mengutip Bloomberg, Bitcoin sempat turun hingga 2,36% menjadi US$65.633 pada Senin (9/3). Penurunan ini terjadi bersamaan dengan lonjakan harga minyak Brent yang menyentuh US$118,73 per barel, level tertinggi sejak Juni 2022. Pada pukul 10.30 waktu Singapura, Bitcoin masih diperdagangkan di atas US$66.000.
Tekanan terhadap aset kripto terjadi di tengah meningkatnya sentimen risk-off di pasar global yang dipicu kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga energi.
Managing partner Tokenize Capital, Hayden Hughes, mengatakan ketegangan geopolitik di Timur Tengah kini tidak lagi sekadar peristiwa militer sesaat.
“Situasi geopolitik di Timur Tengah telah melampaui satu peristiwa militer dan berubah menjadi gangguan ekonomi yang berkelanjutan,” kata Hughes dikutip dari Bloomberg, Senin (9/3/2026).
Menurutnya, investor juga tengah bersiap menghadapi rilis data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat yang dijadwalkan keluar pekan ini.
“Pasar mulai mengambil posisi defensif menjelang data inflasi yang kemungkinan akan tinggi, mengingat biaya energi yang meningkat,” tambah Hughes.
Tekanan juga terlihat di pasar keuangan lainnya. Bursa saham Asia melemah dengan indeks Kospi Korea Selatan sempat merosot hingga 8,1%. Di saat yang sama, dolar AS menguat terhadap hampir seluruh mata uang utama sebagai aset lindung nilai di tengah meningkatnya tekanan inflasi.
Obligasi pemerintah AS juga mengalami aksi jual, dengan imbal hasil Treasury tenor 10 tahun kembali meningkat dan kini bergerak lebih tinggi dibandingkan awal tahun.
Chief investment officer Ericsenz Capital, Damien Loh, mengatakan penurunan Bitcoin relatif lebih terbatas dibandingkan dengan aset berisiko lainnya.
“Penurunan Bitcoin sebenarnya cukup mengejutkan karena relatif kecil jika dibandingkan dengan kontrak berjangka Nasdaq atau indeks Kospi, yang menunjukkan bahwa saat ini hanya sedikit posisi long dengan leverage yang tersisa di pasar,” ujar Loh.
Sentimen pasar kripto juga masih terbebani oleh arus dana keluar dari produk exchange-traded fund (ETF). Data yang dihimpun Bloomberg menunjukkan ETF spot Bitcoin yang terdaftar di AS mencatat arus keluar bersih hampir US$6 miliar sejak November.
Menurut Hughes, arus keluar tersebut menunjukkan bahwa modal institusional masih cenderung meninggalkan pasar alih-alih menunggu peluang masuk kembali.
Ia menambahkan level US$64.000 menjadi batas penurunan terdekat yang perlu diperhatikan bagi Bitcoin. Jika level tersebut ditembus, maka level dukungan berikutnya berada di US$61.000.
Sementara itu, pada sisi kenaikan, US$68.000 menjadi level resistensi berikutnya bagi aset kripto terbesar di dunia tersebut.
______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual aset kripto. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#harga-minyak #bitcoin-turun #konflik-iran #lonjakan-harga-minyak #bitcoin-level-terendah #eskalasi-perang-iran #harga-minyak-brent #sentimen-risk-off #ketegangan-geopolitik #data-consumer-price-index #n-a