Wall Street Mayoritas Merah, Investor Masih Dibayangi Ancaman Iran dan Stagflasi

Wall Street Mayoritas Merah, Investor Masih Dibayangi Ancaman Iran dan Stagflasi

Wall Street kehilangan momentum akibat ketegangan geopolitik AS-Iran dan kekhawatiran stagflasi. Indeks utama melemah, namun saham teknologi tetap bersinar.

(Kompas.com) 11/03/26 07:26 161263

NEW YORK, KOMPAS.com - Wall Street kehilangan momentum pada perdagangan Selasa (10/3/2026) waktu setempat (Rabu pagi WIB).

Setelah sempat bergerak di zona positif pada awal sesi, indeks utama saham Amerika Serikat berbalik melemah seiring memudarnya harapan pasar terhadap penyelesaian cepat konflik antara Amerika Serikat–Israel dan Iran.

Ketegangan geopolitik yang kembali meningkat, ditambah kekuatiran akan risiko stagflasi, membuat investor kembali bersikap hati-hati.

Pada penutupan perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average turun 34,29 poin atau 0,07 persen ke level 47.706,51.

Sementara itu, indeks S&P 500 melemah 14,51 poin atau 0,21 persen ke posisi 6.781,48.

Berbeda dengan dua indeks lainnya, Nasdaq Composite masih mampu mencatat kenaikan tipis sebesar 1,16 poin atau 0,01 persen menjadi 22.697,10.

Dari 11 sektor dalam indeks S&P 500, sektor teknologi menjadi satu-satunya yang mencatatkan penguatan.

Sebaliknya, sektor energi menjadi sektor dengan penurunan terdalam setelah harga minyak mentah mengalami koreksi tajam.

Di tengah kondisi tersebut, saham perusahaan semikonduktor justru menunjukkan kinerja positif.

Saham Nvidia naik 1,2 persen, sementara SanDisk melonjak 5,1 persen dan Western Digital menguat 1,6 persen.

Sebaliknya, indeks S&P Software & Services Select Industry yang dalam beberapa bulan terakhir tertekan akibat kekhawatiran gangguan dari perkembangan kecerdasan buatan (AI), kembali menjadi salah satu sektor dengan kinerja terburuk setelah turun 1,7 persen.

Pelemahan Wall Street terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menanggapi laporan bahwa Iran memasang ranjau di Selat Hormuz—jalur pelayaran energi yang sangat vital—dengan ancaman pembalasan serta seruan agar Iran menyerah sepenuhnya.

“Pasar sempat menunjukkan kekuatan, tetapi kemudian kehilangan semuanya,” kata ahli strategi portofolio senior Ingalls & Snyder di New York, Tim Ghriskey.

Menurutnya, ketidakpastian geopolitik membuat investor kebingungan dalam menentukan arah pasar.

“Anda melihat berita utama dari Gedung Putih yang sempat memberi harapan kepada pasar. Namun kemudian realitas kembali muncul dan pasar menyadari bahwa konflik ini masih jauh dari selesai,” paparnya.

Pergerakan indeks sepanjang sesi perdagangan juga sempat berfluktuasi setelah Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, memperingatkan bahwa Selasa akan menjadi hari paling intens dalam operasi militer terhadap Iran.

Ketegangan tersebut sebelumnya memicu lonjakan harga minyak mentah global.

Kenaikan harga energi itu meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi yang tetap tinggi di tengah melemahnya pasar tenaga kerja—kombinasi kondisi yang sering disebut sebagai stagflasi. Pada awal perdagangan, investor sempat berharap adanya resolusi jangka pendek terhadap konflik tersebut.

Namun sentimen pasar berubah setelah Garda Revolusi Iran menyatakan tidak akan mengizinkan minyak keluar dari kawasan Timur Tengah hingga serangan AS-Israel dihentikan.

Pernyataan itu memicu respons keras dari Trump yang mengancam akan membalas “20 kali lebih keras” jika Iran benar-benar memblokir ekspor minyak mentah.

Di sisi lain, pemerintahan Trump juga memberi sinyal kemungkinan mencabut sanksi minyak terhadap Rusia.

Langkah tersebut dinilai berpotensi meredakan tekanan kenaikan harga energi sekaligus membuka peluang kemajuan dalam upaya mengakhiri perang Rusia–Ukraina.

Sebelumnya, Menteri Energi AS Chris Wright sempat menyatakan Angkatan Laut AS berhasil mengawal sebuah kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz.

Namun pernyataan tersebut kemudian ditarik kembali oleh Gedung Putih.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah berjangka AS dan Brent untuk kontrak bulan depan justru anjlok lebih dari 11 persen setelah lonjakan tajam sebelumnya.

“Ketika Anda melihat pergerakan yang sangat parabolik seperti pada emas atau minyak, biasanya akan terjadi pembalikan yang cukup tajam begitu muncul berita dari sisi lain,” kata penasihat kekayaan senior Murphy & Sylvest di Illinois, Paul Nolte.

Di sisi korporasi, saham perusahaan asuransi kesehatan Centene merosot lebih dari 16 persen setelah perusahaan tersebut kembali menegaskan proyeksi laba tahun 2026.

Sementara itu, saham Oracle melonjak lebih dari 7 persen dalam perdagangan setelah jam reguler usai perusahaan merilis laporan kinerja kuartalan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#harga-minyak-anjlok #konflik-as-iran #wall-street-melemah #kekhawatiran-stagflasi

https://money.kompas.com/read/2026/03/11/072649226/wall-street-mayoritas-merah-investor-masih-dibayangi-ancaman-iran-dan