Strategi Keuangan Ideal Hadapi Risiko Bencana: Dana Darurat vs Asuransi

Strategi Keuangan Ideal Hadapi Risiko Bencana: Dana Darurat vs Asuransi

Bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan risiko bencana alam, kepemilikan dana darurat dan asuransi bencana alam menjadi hal yang penting.

(Kompas.com) 11/03/26 20:08 162335

JAKARTA, KOMPAS.com - Bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan risiko bencana alam, kepemilikan dana darurat dan asuransi bencana alam menjadi hal yang penting.

Namun demikian, masyarakat juga perlu mengetahui bahwa terdapat skala prioritas yang berbeda antara mengumpulkan dana darurat dengan memilik asuransi properti ini.

Perencana Keuangan Rista Zwestika mengatakan, keluarga perlu untuk menyiapkan dana darurat terlebih dahulu dibandingkan dengan perlindungan asuransi dalam kaitannya dengan risiko bencana alam.

SHUTTERSTOCK/PRAPAN MANUCHON Dana darurat adalah dana yang disisihkan atau dialokasikan untuk situasi darurat atau genting seperti kehilangan pekerjaan, masalah kesehatan, kecelakaan, atau kerusakan rumah

"Asuransi melindungi aset besar seperti rumah atau kendaraan," kata dia kepada Kompas.com.

Namun demikian, dana darurat memiliki cakupan perlindungan yang lebih luas mulai dari biaya hidup, relokasi, biaya medis, hingga biaya darurat yang lain.

Untuk itu, ia menyarankan sebuah keluarga yang hidup di kawasan rawan bencana untuk dapat memenuhi urutan prioritas yang ideal.

Pertama, keluarga harus memiliki dana darurat minimal sebesar setara 6 sampai 12 bulan dari pengeluaran bulanan.

Kemudian, dana darurat tersebut dapat dilengkapi dengan asuransi properti yang memiliki perluasan perlindungan bencana alam.

Baru kemudian, seseorang yang tinggal di kawasan bencana alam dapat memiliki asuransi kendaraan.

Setelah semua hal tersebut telah dimiliki, keluarga baru bisa merencanakan untuk memiliki investasi jangka panjang.

Alasan asuransi bisa didahulukan

Rista menjelaskan, kepemilikan asuransi bencana juga bisa didahulukan, asal memenuhi beberapa syarat misalnya, rumah masih dalam kredit pemilikan rumah (KPR).

FREEPIK/GRAY STUDIOPRO Ilustrasi asuransi rumah.

"Bank biasanya mewajibkan asuransi," tambah dia.

Masyarakat yang tinggal di kawasan zona risiko sangat tinggi juga bisa mendahulukan asuransi bencana alam.

Kemudian, asuransi bencana alam juga dapat dilakukan ketika nilai aset yang dimiliki sangat besar dibandingkan dengan tabungan.

Dengan demikian, Rista bilang, keluarga dapat menerapkan strategi hybrid dalam menghadapi risiko bencana.

"Bangun dana darurat bertahap, sambil ambil asuransi dasar," ucap dia.

Kesalahan umum perencanaan keuangan di kawasan rawan bencana

Rista mengungkapkan, terdapat kesalahan umum dalam perencanaan keuangan masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana.

Ia bilang, masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana umumnya tidak memiliki dana darurat.

Tak hanya itu, masyarakat juga kerap kali belum memiliki perlindungan asuransi.

Ketika risiko bencana terjadi, masyarakat ini biasanya akan panik karena kurangnya persiapan.

"Di wilayah rawan bencana, likuiditas lebih penting daripada gaya hidup," tutup dia.

Beda fungsi dana darurat dan asuransi bencana

Perencana keuangan Mitra Rencana Edukasi Mike Rini mengungkapkan, dana darurat dan asuransi properti dengan perluasan perlindungan bencana alam memiliki dua fungsi yang berbeda.

Dana darurat berfungsi untuk mengantisipasi kehilangan pendapatan. Sementara itu, asuransi properti bertujuan untuk mengantisipasi kerusakan aset.

SHUTTERSTOCK/TINNAKORN JORRUANG Ilustrasi dana darurat, menabung dana darurat.

"Kalau dana darurat punya sendiri, bisa dipakai kapan saja. Nah kalau asuransi properti ini dia perlu proses lhi buat klaimnya," ucap dia.

Mike bilang, penyusunan rencana keuangan di antara dua hal tersebut juga perlu dilihat dari sisi level penghasilan sebuah keluarga.

Hal tersebut terkait dengan kemampuan bayar premi yang memang harus dilakukan.

Dengan demikian, ia mengimbau, untuk masyarakat yang memiliki penghasilan rendah, dana darurat harus dimiliki terlebih dahulu.

Biasanya masyarakat kelas ini atau yang memiliki penghasilan sekitar Rp 3 juta per bulan lebih rentan kehilangan pekerjaan terlebih dahulu dibanding menanggung kerusakan properti ketika menghadapi risiko bencana alam.

Hal ini dapat terjadi karena biasanya properti yang lebih sederhana punya nilai kerusakan yang tidak terlalu besar. Di sisi lain, masyarakat kelas ini juga biasanya masih sewa properti.

"Dana darurat di sini lebih fleksible dan dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan. Jadi untuk masyarakat berpenghasilan rendah, dana darurat lebih diutamakan," ungkap dia.

Setelah memiliki dana darurat, masyarakat di level penghasilan ini dapat menambah perlindungan dengan asuransi secara bertahap.

Sementara itu, untuk masyarakat yang memiliki penghasilan lebih, dapat menggunakan strategi yang berbeda. Masyarakat kelas ini dapat langusng menggabungkan strategi dana darurat dengan kepemilikan asuransi properti.

"Alasannya ya karena mereka mampu membayar premi asuransi, premi asuransi itu rata-rata 1 persen dari nilai properti per tahunnya," ungkap dia.

Mike bilang, kombinasi ini dinilai lebih optimal untuk perlindungan yang lebih menyeluruh.

Sebagai ilustrasi, ia bilang, masyarakat secara umum perlu memiliki dana darurat senilai 6 sampai 12 kali dari pengeluaran rutin setiap bulannya.

SHUTTERSTOCK/PICKADOOK Ilustrasi asuransi rumah.

Untuk masyarakat dengan pendapatan rendah asuransi bisa dipertimbangkan ketika dana darurat sebanyak 6 kali pengeluaran sudah terkumpul.

Sementara masyarakat di kelas menengah dapat mulai memiliki asuransi ketika dana darurat telah terkumpul sebanyak 3 kali pengeluaran rutin.

Sementara itu, kelas masyarakat yang memiliki kemampuan lebih tinggi lagi dapat melengkapi strategi keuangan dengan investasi.

"Dia bisa bayar premi asuransi, mengumpulkan dana darurat yang lebih besar, bahkan dia bisa tambah untuk beli emas misalnya, karena pada saat bencana emasnya naik, itu strategi yang bisa dilakukan," urai dia.

Asuransi dan dana darurat saling melengapi

Perencana keuangan independen Andy Nugroho menjelaskan, kepemilikan dana darurat yang dibarengi dengan asuransi properti tentu akan lebih bagus karena akan saling melengkapi.

Asuransi properti merupakan short cut untuk maasyarakat mendapatkan perlindungan menyeluruh dan komprehensif atas properti dan seisinya dengan modal premi yang relatif terjangkau.

Sementara itu dana darurat juga diperlukan untuk pemulihan atau pemenuhan kebutuhan sehari-hari yang harus dilakukan apabila terjadi bencana.

"Yang tidak ter-cover oleh asuransi properti," ujar dia.

Andy menambahkan, rumus sederhana mempersiapkan tabungan untuk merenovasi rumah ataupun perbaikan ketika terjadi risiko, adalah dengan menyiapkan dana darurat.

"Yang rutin kita sisihkan tiap bulannya dengan idealnya 10 persen dari penghasilan," kata dia kepada Kompas.com.

SHUTTERSTOCK/BANGOLAND Ilustrasi dana darurat.

Sebagai tambahan dari tabungan dana darurat tersebut, Andy menyebut, masyarakat bisa menambahkan juga asuransi properti serta asuransi kendaraan bermotor.

Hal tersebut bertujuan untuk menutup kerugian dengan klaim asuransi ketika nominal tabungan belum terlalu banyak, tetapi kerusakan akibat bencananya memakan biaya yang cukup banyak.

"Kedua dengan mengasuransikan properti maupun kendaraan kita maka kita bisa memotong waktu yang diperlukan untuk menyiapkan dana darurat tersebut," imbuh dia.

Indonesia rawan bencana alam, asuransi bencana wajib dimiliki

Direktur Utama PT Reasuransi Maipark Indonesia (MAIPARK), Kocu Andre Hutagalung mengatakan, asuransi bencana alam adalah proteksi finansial yang wajib dimiliki.

Bagi pengusaha, asuransi ini menyelamatkan karena operasional yang terhenti akibat bencana. Sementara bagi masyarakat umum, rumah biasanya adalah aset terbesar mereka.

"Asuransi memastikan masyarakat tidak kehilangan hanya dalam hitungan detik akibat bencana," tegas dia.

Pasalnya, ia menambahkan, polis asuransi kebakaran standar atau KPR dasar biasanya tidak otomatis mencakup bencana alam.

Masyarakat khususnya untuk rumah tinggal dan usaha kecil menengah harus proaktif meminta perluasan jaminan khusus, seperti proteksi Gempa Bumi (EQVET) atau banjir, sesuai risiko di daerah tempat tinggalnya.

"Untuk nilai pertanggungan, nilai yang tepat adalah Biaya Pembangunan Kembali. Artinya, pastikan nilai asuransinya cukup untuk membiayai material dan tukang untuk membangun ulang rumah tersebut dari nol jika hancur total," ucap pria yang karib disapa Kocu itu.

Ia menceritakan, pendapatan premi asuransi bencana alam terus mencatatkan pertumbuhan positif. Ini menunjukkan kesadaran masyarakat dan pelaku usaha yang mulai meningkat. Rasio klaim industri dan MAIPARK tetap sangat aman dan terkendali.

BMKG Ilustrasi gempa bumi

"Kami memiliki permodalan yang sangat kuat serta dukungan reasuransi global yang solid untuk menanggung risiko-risiko tersebut," terang dia.

Menurut Kocu, Indonesia memang salah satu negara paling rawan bencana di dunia karena posisinya di kawasan Ring of Fire.

Khusus untuk Kalimantan, meskipun secara historis relatif lebih aman dibandingkan Jawa atau Sumatra, wilayah ini memang relatif memiliki kerentanan atas gempa yang lebih rendah.

"Di MAIPARK, kami sudah memasukkan data sesar-sesar di pulau Kalimantan ke dalam sistem permodelan risiko kami (Maipark Catastrophe Modeling) agar potensi kerugiannya bisa dimitigasi dan diukur secara akurat," ungkap dia.

Sementara itu, Riset World Risk Report 2023 menunjukkan, Indonesia menempati peringkat kedua global untuk kerentanan bencana, hanya kalah dari Filipina.

Analisis pakar geologi sekaligus Strategic Planning & Risk Management Group Head, MAIPARK Indonesia, Ruben Damanik, mengatakan interaksi terus menerus antara lempeng-lempeng tektonik memanifestasikan diri menjadi gempa, erupsi, dan ancaman tsunami yang merata dari Aceh hingga Papua.

Data historis 1963-2023 menunjukkan hampir tidak ada wilayah Indonesia yang benar-benar aman dari potensi gempa.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#dana-darurat #risiko-bencana #indepth #bencana-alam #asuransi-properti #asuransi-bencana

https://money.kompas.com/read/2026/03/11/200800226/strategi-keuangan-ideal-hadapi-risiko-bencana--dana-darurat-vs-asuransi