MSCI Bikin Saham Konglomerat Rawan Outflow, Saatnya Buy on Dip?
MSCI rencana ubah metodologi free float bisa tekan saham besar di BEI. Mirae Asset sarankan buy on dip untuk saham prospek solid saat harga terkoreksi.
(Bisnis.Com) 27/10/25 16:31 17321
Bisnis.com, JAKARTA — Sentimen wacana perubahan metodologi penghitungan free float oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) berpotensi menekan saham-saham berkapitalisasi besar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
MSCI diketahui tengah menjajaki rencana penggunaan data dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai tambahan referensi dalam perhitungan free float saham emiten Indonesia. Langkah ini dinilai memberikan gambaran lebih komprehensif mengenai struktur kepemilikan publik di pasar domestik.
Ada dua opsi yang sedang dikaji MSCI. Pertama, menggunakan laporan publik perusahaan dan data KSEI dengan pengecualian saham kategori scrip, corporate, dan lainnya yang berpotensi menurunkan turnover sekitar 13%.
Sementara itu, opsi kedua mengecualikan hanya kategori script dan corporate dan memberikan dampak turnover lebih kecil sekitar 5%. MSCI akan mengumumkan hasil konsultasi pada 30 Januari 2026 dan berlaku Mei 2026.
Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama mengatakan bahwa apabila wacana tersebut diimplementasikan, saham dengan bobot besar seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dinilai menjadi paling rentan terdampak.
“Jika MSCI memberlakukan metodologi baru, saham konglomerat dengan free float rendah berpotensi dilanda outflow,” ucapnya kepada Bisnis, Senin (27/10/2025).
Beberapa saham yang masuk indeks MSCI mengalami koreksi tajam pada perdagangan sesi I hari ini, di antaranya PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) yang mencatatkan penurunan sebesar 9,59% menuju level Rp1.980 per saham.
Selanjutnya ada saham PT Petrosea Tbk. (PTRO) dengan koreksi sebesar 11,89% menjadi Rp6.300 per saham, kemudian saham PT PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) ikut melorot sebesar 13,42% ke level Rp88.200 per saham.
Saham PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU) milik Happy Hapsoro ikut melemah 13,40% menuju level Rp6.950 per saham, sedangkan saham Prajogo Pangestu yakni PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) ambles 12,36% menjadi Rp3.190 per saham.
Meski demikian, Nafan menyarankan investor agar mengambil strategi antisipatif dengan fokus pada akumulasi saham pilihan yang memiliki prospek solid dan membeli saat harga saham terkoreksi alias buy on dip.
Langkah ini dinilai penting mengingat potensi volatilitas tinggi di saham-saham yang masuk indeks global akibat wacana baru MSCI tersebut.
“Fokus pada akumulasi saham pilihan dengan prospek solid, beli saat harga terkoreksi atau buy on dip, realisasi keuntungan bila perlu, menggunakan manajemen risiko secara efektif,” pungkas Nafan.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#msci-saham #saham-konglomerat #buy-on-dip #free-float #saham-berkapitalisasi-besar #bursa-efek-indonesia #perubahan-metodologi-msci #saham-amman-mineral #saham-bank-central-asia #saham-ptro #saham-dss