Kunjungan Trump ke China Mundur 14-15 Mei Gara-gara Perang Iran
Kunjungan Trump ke China pada 14-15 Mei ditunda karena perang Iran. Konflik ini mempengaruhi perdagangan global, dan pertemuan akan membahas isu perdagangan dan geopolitik.
(Bisnis.Com) 26/03/26 11:55 173277
Bisnis.com, BANDA ACEH — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dijadwalkan mengunjungi Presiden China Xi Jinping di Beijing pada pertengahan Mei setelah penundaan akibat konflik perang melawan Iran.
Kunjungan tersebut akan berlangsung pada 14–15 Mei, setelah sebelumnya direncanakan pada akhir Maret hingga awal April. Penjadwalan ulang ini terjadi di tengah berlanjutnya operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran yang belum menunjukkan tanda berakhir.
“Presiden Xi memahami bahwa sangat penting bagi presiden untuk berada di sini selama operasi tempur berlangsung saat ini,” ujar Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt kepada Al Jazeera, Kamis (26/3/2026).
Penundaan kunjungan ini, bukan didasarkan pada kesepakatan tertentu terkait akhir perang, melainkan karena kebutuhan Presiden AS untuk tetap memimpin operasi militer.
Dalam konferensi pers yang dikutip Al Jazeera, Leavitt juga menegaskan bahwa tidak ada prasyarat khusus antara kedua pemimpin terkait penjadwalan ulang pertemuan tersebut.
Lebih lanjut, Leavitt menyebutkan bahwa Xi Jinping juga dijadwalkan melakukan kunjungan balasan ke Washington, D.C., pada waktu yang akan ditentukan kemudian. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi bilateral antara kedua negara tetap berjalan, meskipun tensi geopolitik meningkat akibat konflik Iran.
Perang yang telah berlangsung hampir satu bulan itu terus memicu ketidakpastian global, terutama setelah Iran menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia. Al Jazeera melaporkan bahwa lebih dari 80% ekspor minyak Iran pada 2025 dibeli oleh China dengan volume sekitar 1,38 juta barel per hari.
Situasi tersebut berdampak langsung pada stabilitas ekonomi global, termasuk China sebagai salah satu importir utama energi.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian mengatakan Situasi tegang di Selat Hormuz dan perairan sekitarnya telah memengaruhi jalur perdagangan internasional dan energi, mengganggu perdamaian dan stabilitas kawasan.
China juga secara terbuka menyerukan penghentian operasi militer. “China sekali lagi menyerukan kepada semua pihak untuk segera menghentikan operasi militer,” ujar Jian.
Di sisi lain, pemerintah AS menyatakan bahwa operasi militer bersama Israel terhadap Iran masih berjalan sesuai rencana. Leavitt menyebut bahwa AS sedang memenuhi target Operasi Epic Fury dengan cepat, meskipun belum memberikan kepastian waktu berakhirnya konflik.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan perang akan berakhir sebelum kunjungan Trump ke China, Leavitt menjawab bahwa estimasi operasi militer berkisar antara empat hingga enam pekan. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa konflik kemungkinan masih berlangsung saat pertemuan kedua pemimpin digelar.
Di AS, kebijakan Trump terkait perang Iran menuai kritik. Survei Pew Research Center menunjukkan 59% responden menilai keputusan penggunaan kekuatan militer terhadap Iran sebagai langkah yang keliru, sementara hanya 38% yang mendukung.
Selain isu geopolitik, pertemuan Trump dan Xi juga diperkirakan akan membahas ketegangan perdagangan antara kedua negara. Sejak periode pertama kepemimpinannya, Trump menerapkan tarif tinggi terhadap produk China, meskipun kebijakan tersebut sempat digugat dan dibatasi oleh Mahkamah Agung AS.
Kunjungan Trump ke Beijing menjadi momentum penting bagi hubungan dua kekuatan besar dunia. Agenda pertemuan tersebut kemungkinan besar akan mencakup isu perdagangan serta dampak perang Iran terhadap stabilitas global.
#trump-ke-china #kunjungan-trump #perang-iran #trump-xi-jinping #kunjungan-presiden-as #operasi-militer-iran #konflik-iran-china #selat-hormuz #perdagangan-energi-china #stabilitas-ekonomi-global #kete