Ericsson Sebut 5G Lebih Memadai dari 4G Hadapi Ledakan Trafik Data Imbas AI

Ericsson Sebut 5G Lebih Memadai dari 4G Hadapi Ledakan Trafik Data Imbas AI

Ericsson Indonesia menekankan pentingnya adopsi 5G untuk mengatasi ledakan trafik data akibat AI, dengan efisiensi spektral lebih tinggi dan biaya operasional lebih rendah dibandingkan 4G.

(Bisnis.Com) 02/04/26 10:29 179778

Bisnis.com, JAKARTA — Ledakan trafik data yang dipicu oleh adopsi Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) diprediksi menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi operator seluler di Indonesia ke depan.

Ericsson Indonesia menekankan membangun infrastruktur 5G kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan demi menekan biaya operasional di tengah kebutuhan kapasitas yang membengkak.

Director and Head of Government and Industry Relations Ericsson Indonesia, Ronni Nurmal, mengungkapkan karakteristik AI yang sangat sensitif terhadap data, kecepatan unggah (uplink), dan latensi rendah (low latency) membutuhkan standar jaringan yang lebih tinggi daripada 4G.

Menurutnya, solusi terbaik bagi operator untuk menghadapi tantangan ke depan adalah dengan beralih ke teknologi 5G.

"Kita melihat 5G akan bisa memberikan benefit yang lebih besar dibandingkan teknologi-teknologi sebelumnya. Salah satu karakteristik kunci dari 5G adalah low latency, high speed, dan atribut baru berupa differentiated connectivity dengan quality of service," kata Ronni di Jakarta, Kamis (2/4/2026).

Sebelumnya, studi terbaru Ericsson ConsumerLab 2026 menyebut porsi pengguna Indonesia yang memanfaatkan AI multimodal—yakni penggunaan AI lintas format seperti teks, suara, dan visual—diproyeksikan akan meningkat dua kali lipat dalam periode yang sama.

Pada 2025, hanya 21% pengguna yang menggunakan AI di multimodal. Namun ketika 2030, angkanya akan meningkat menjadi 41%.

Kemudian, dari sisi perilaku penggunaan, sekitar 46% waktu penggunaan AI diperkirakan akan terjadi di luar rumah pada 2030. Masyarakat tidak hanya bergantung pada konektivitas Wi-Fi di kantor atau di rumah untuk menggunakan AI.

Tren ini menandakan ke depan beban trafik data ke depan, sebagian dipikul oleh jaringan seluler baik 4G maupun 5G.

Meskipun pembangunan jaringan 5G seringkali dianggap sebagai investasi mahal, Ronni memberikan perspektif berbeda. Secara logika bisnis, jika operator terus memaksakan diri menambah kapasitas di jaringan 4G untuk mengejar trafik AI, nilai investasinya justru berisiko jauh lebih membengkak.

Hal ini berkaitan erat dengan spectral efficiency—yakni kemampuan jaringan mengirimkan jumlah bit data per unit frekuensi (Hertz). Dalam hal ini, efisiensi spektral 5G diklaim 10% hingga 20% lebih tinggi dibandingkan 4G.

Menara telekomunikasi dengan jaringan 5G
Menara telekomunikasi dengan jaringan 5G

Sebagai perumpamaan frekuensi (Hertz) itu adalah sebuah truk pengangkut, dan bit data adalah paket barang yang ada di dalamnya.

Dengan 4G, ibarat sebuah truk yang hanya bisa membawa 100 paket dalam satu kali jalan karena penataan barang di dalam bak truk masih menyisakan banyak ruang kosong. Sementara 5G, truk dengan ukuran yang persis sama, namun karena menggunakan teknologi penataan yang lebih canggih (kompresi dan modulasi yang lebih rapat), truk ini bisa membawa 110 hingga 120 paket sekaligus.

Artinya, jika pada 4G, 1 Hz tersebut mungkin hanya sanggup mengirimkan 5 bit data per detik. Di jaringan 5G. karena efisiensinya lebih tinggi 20%, maka dalam 1 Hz yang sama, 5G sanggup mengirimkan 6 bit data per detik.

Kondisi ini kemudian akan turut berdampak pada ongkos per GB yang lebih murah, yang dipikul oleh operator seluler. Sayangnya, Ronni tidak memberitahu secara jelas efisiensi cost per GB yang dihasilkan dengan 5G.

“Cost per GB-nya (biaya per gigabyte) lebih rendah dibandingkan mereka tetap deploy di teknologi 4G. Karena dengan trafik yang melonjak, operator akan butuh lebih banyak site jika hanya mengandalkan spektrum terbatas di 4G," jelas Ronni.

Dia juga mengatakan berdasarkan data tren industri, kehadiran AI diprediksi akan mengubah peta konsumsi data secara signifikan. Sebelum era AI generatif marak, pertumbuhan trafik data didominasi oleh layanan video streaming dan media sosial dengan pertumbuhan tahunan yang stabil.

Namun, pasca-adopsi AI, beban jaringan diperkirakan melonjak drastis.

Sebagai ilustrasi, jika saat ini trafik data dapat diakomodir dengan 100 unit BTS 4G yang rata-rata spektrumnya antara 15 MHz-40 MHz per operator, maka saat trafik melonjak empat kali lipat dibutuhkan 400 unit BTS. Jika masih menggunakan jaringan 4G atau infrastruktur eksisting maka angka ini terlihat kurang efisien.

Ronni menambahkan bahwa investasi 5G tidak berarti harus membangun segalanya dari nol. Operator sejatinya dapat menggunakan kembali (reuse) infrastruktur yang sudah ada, seperti lokasi site, sumber daya listrik (power), hingga baseband. Komponen utama yang perlu diperbarui hanyalah bagian radio (radio part).

Namun, kunci utama dari efisiensi biaya ini bergantung pada ketersediaan spektrum baru, seperti frekuensi 2,6 GHz atau 3,5 GHz yang memang didesain untuk 5G. Di frekuensi 3,5 GHz, misalnya, tersedia total pita 300 MHz yang jika dibagi tiga operator, masing-masing akan mendapat 100 MHz—dua kali lipat dari rata-rata kepemilikan spektrum saat ini.

"Tanpa adanya frekuensi baru, operator harus berinvestasi lebih banyak untuk mengimbangi kebutuhan trafik yang semakin tinggi. Oleh karena itu, spektrum harus segera dirilis secepat mungkin agar cost per GB bisa ditekan secara signifikan," pungkasnya.

#5g-indonesia #5g-jaringan #5g-teknologi #ai-trafik-data #ai-jaringan-seluler #ai-indonesia #operator-seluler #5g-low-latency #5g-high-speed #5g-differentiated-connectivity #5g-spectral-efficiency #inv

https://teknologi.bisnis.com/read/20260402/101/1963887/ericsson-sebut-5g-lebih-memadai-dari-4g-hadapi-ledakan-trafik-data-imbas-ai