Menhub: Pengembangan Water Taxi di Bali Butuh Investasi Awal Rp 1,2 T
Menhub menyebut bahwa water taxi adalah solusi transportasi alternatif untuk mengurangi kemacetan, khususnya di kawasan pariwisata Kabupaten Badung.
(Kompas.com) 08/04/26 15:17 185243
JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi berencana mengembangkan layanan water taxi di Bali dengan nilai anggaran yang dibutuhkan mencapai Rp 1,21 triliun.
“Estimasi anggaran yang dibutuhkan untuk komponen investasi awal adalah sebesar Rp 1,21 triliun dan untuk tetap menjamin aspek keselamatan dan keamanan pada perairan yang tergolong ekstrim, dibutuhkan layout dengan penahan gelombang atau breakwater,” kata Dudy dalam Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi V DPR RI di Gedung Parlemen, Rabu (8/4/2026).
Dia menyebut bahwa water taxi adalah solusi transportasi alternatif untuk mengurangi kemacetan, khususnya di kawasan pariwisata Kabupaten Badung.
Dudy bilang, berdasarkan hasil observasi, waktu tempuh perjalanan darat dari bandara menuju Canggu saat ini berkisar antara satu hingga dua jam. Dengan water taxi, waktu tempuh diproyeksikan dapat dipangkas menjadi maksimal 30 menit.
“Berdasarkan observasi lapangan, waktu tempuh perjalanan darat dari Bandara Ngurah Rai menuju Canggu adalah satu sampai dua jam, sedangkan dengan water taxi diharapkan hanya sekitar 30 menit,” ujarnya.
Adapaun proyek ini ditargetkan berjalan mulai Januari 2026 hingga Juli 2027. Saat ini, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) tengah menyusun studi Detail Engineering Design (DED).
“Saat ini PT ASDP sedang dalam proses penyusunan studi Detail Engineering Design, sementara pekerjaan konstruksi direncanakan dimulai pada Agustus 2026 hingga Juli 2027,” ungkapnya.
Dudy menjelaskan, rencana tersebut merupakan salah satu tindak lanjut dari kunjungan kerja Komisi V DPR RI, selain pembangunan dermaga di Pelabuhan Celukan Bawang, Buleleng, Bali Utara.
“Terdapat dua pokok pembahasan yang akan kami sampaikan, yaitu rencana pengembangan water taxi dan pembangunan dermaga di Pelabuhan Celukan Bawang di Gerokgak, Buleleng, Bali Utara,” ujar Dudy.
Dia memaparkan, water taxi dirancang sebagai moda transportasi terintegrasi yang menghubungkan jalur darat, laut, dan udara, sekaligus menjadi solusi untuk mengurai kepadatan lalu lintas di Bali.
“Water taxi merupakan salah satu solusi alternatif dalam mengintegrasikan transportasi darat, laut, dan udara untuk mengurangi kepadatan lalu lintas di Provinsi Bali, khususnya di Kabupaten Badung,” jelasnya.
Rute utama yang akan dikembangkan adalah menghubungkan Bandara I Gusti Ngurah Rai dengan kawasan wisata Canggu. Dudy menyebut moda ini diharapkan menjadi pilihan mobilitas yang lebih cepat dan efisien.
“Water taxi dapat menghubungkan Bandara I Gusti Ngurah Rai dengan kawasan pariwisata Canggu sebagai opsi mobilitas yang efisien, ramah lingkungan, dan mendukung sektor pariwisata di Bali,” katanya.
Selain itu, hasil survei menunjukkan bahwa Canggu termasuk dalam tiga besar destinasi wisata dengan minat tertinggi, baik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Ke depan, Kemenhub melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut akan terus mendorong percepatan proyek, mulai dari finalisasi studi desain, penyusunan DED, hingga persiapan uji coba operasional yang ditargetkan dapat dilakukan pada 2026.
“Sebagai tindak lanjut studi perencanaan program water taxi Kementerian Perhubungan melalui Dirjen Perhubungan Laut telah menyampaikan beberapa poin secara garis besar yaitu finalisasi studi pre-design atau studi kelewatan dan basic desain,” ujar Dudy.
“Kemudian penyusunan studi detal engineering design DED, pelaksanaan langkah percepatan program, penyampaian estimasi waktu pelaksanaan uji coba operasional tahun 2026,” tegas Dudy.
Dari Diskusi Awal 2025, Water Taxi Disiapkan untuk Bali
Sebagai informasi, gagasan pengoperasian water taxi (taksi air) mulai mengemuka pada awal 2025, saat Kementerian Perhubungan dan Kementerian Pariwisata membahas solusi kemacetan menuju kawasan wisata Bali.
Fokus awalnya berada di koridor Bandara I Gusti Ngurah Rai hingga deretan pantai barat seperti Kuta, Legian, Seminyak, hingga Canggu.
Dalam pembahasan tersebut, Bali dipilih sebagai titik uji karena tekanan lalu lintas yang tinggi sekaligus tingginya arus wisatawan.
Skema yang disiapkan menghubungkan langsung bandara dengan destinasi wisata melalui jalur laut, tanpa bergantung pada transportasi darat.
“Penggunaan taksi air ini akan memangkas waktu perjalanan dari bandara ke tujuan wisata, meningkatkan mobilitas dan mempermudah akses secara langsung ke berbagai destinasi wisata,” ujar Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi dalam rencana yang disampaikan di Jakarta, awal 2025.
Pada tahap yang sama, pemerintah juga membuka opsi pengembangan seaplane untuk kawasan wisata premium seperti Bali, Labuan Bajo, dan Sumba.
Gagasan ini menjadi bagian dari upaya lebih besar membangun konektivitas terintegrasi sekaligus memperkuat pariwisata bahari nasional.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang