Gerilya Kerja Sama Global saat Geopolitik Panas Ala Prabowo, Berlanjut ke Rusia
Presiden Prabowo Subianto melanjutkan diplomasi global ke Rusia untuk mengamankan pasokan energi di tengah ketegangan geopolitik, setelah kunjungan ke Jepang dan Korea Selatan.
(Bisnis.Com) 13/04/26 08:15 189230
Bisnis.com, JAKARTA — Selepas kunjungan luar negeri ke Asia Timur, yakni Jepang dan Korea Selatan, Presiden RI Prabowo Subianto melanjutkan gerilya politik globalnya ke Rusia. Geliat kunjungan luar negeri itu dijalankan Prabowo di tengah kondisi geopolitik yang tengah panas, di mana perang terjadi di Timur Tengah.
Perang di Timur Tengah antara Iran dengan AS-Israel pecah pada akhir Februari 2026. Konflik pun memengaruhi ekonomi global, di mana pasokan dan harga minyak terganggu akibat penutupan Selat Hormuz sebagai dampak perang.
Dalam rapat kerja (raker) pemerintah yang digelar di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (8/4/2026), Prabowo pun mengatakan kecamuk perang yang terjadi di Timur Tengah antara Iran dengan AS-Israel telah memberikan pengaruh besar terhadap pasokan energi global.
Berbagai negara yang nasib energinya tergantung akan Selat Hormuz pun berupaya mencari akal. Prabowo mengatakan pemerintah juga mengkaji dampaknya terhadap kondisi ekonomi di Indonesia. Namun, menurutnya Indonesia mempunyai ekonomi yang kuat.
Di sisi lain, sebagai upaya mengamankan pasokan energi Indonesia, Prabowo pun bergeliat menjajal kerja sama dengan berbagai negara.

Selat Hormuz/bnppri
Pada awal bulan ini, Prabowo menjalankan kunjungan resminya ke Jepang dan Korea Selatan. Berbagai kerja sama terjalin, termasuk dalam bidang energi. Tak hanya itu, Indonesia telah meraup nilai kesepakatan bisnis mencapai US$33,89 miliar atau setara dengan Rp575 triliun dari Jepang dan Korea Selatan.
Prabowo pun mengatakan bahwa tujuannya menjajal kunjungan ke luar negeri dan menjalin kerja sama adalah untuk mengamankan pasokan energi.
"Dibilang Prabowo jalan-jalan ke luar negeri. Untuk amankan minyak, ya kita harus ke mana-mana," katanya dalam raker pemerintah yang digelar di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Presiden melanjutkan bahwa selepas Jepang dan Korea Selatan, kunjungan ke negara lainnya pun akan dijajal.
"Aku mau berangkat lagi ke sebuah negara. Nanti begitu aku berangkat kau tahu ke mana. Amankan [energi] juga," ujarnya.
Berlanjut ke Rusia
Beberapa hari selepas pernyataan Prabowo dalam agenda raker pemerintah itu, Prabowo pun diketahui akan mengunjungi Rusia. Menteri Luar Negeri RI Sugiono menjelaskan bahwa keberangkatan Prabowo direncanakan berlangsung dalam pada hari ini, Minggu (12/4/2026).
Sugiono menjelaskan bahwa kunjungan Prabowo ke Rusia kali ini dinilai penting di tengah dinamika global yang terus berkembang, terutama terkait stabilitas energi dan posisi Indonesia dalam menjaga ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik internasional.
Sugiono menyebutkan bahwa salah satu isu strategis yang akan dibahas adalah sektor energi, termasuk potensi kerja sama alternatif pasokan minyak.
“Salah satu yang akan dia bicarakan juga itu. Karena ini merupakan sesuatu yang sangat-sangat strategis bagi bangsa Indonesia,” kata Sugiono usai menghadiri pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) XVI Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Sabtu (11/4/2026).

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin di Istana Kremlin, Moskow, pada Rabu (10/12/2025)/BPMI
Dalam kunjungan tersebut Prabowo dijadwalkan bertemu langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Pertemuan itu akan mencakup pembahasan yang lebih luas, mulai dari dinamika geopolitik global hingga kondisi energi dunia.
“Beliau akan bertemu dengan Presiden Putin, juga akan membahas mengenai geopolitik dunia dan juga yang pasti membahas tentang situasi energi,” ujar Sugiono.
Sementara, Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyampaikan bahwa komunikasi antara kedua negara tengah berlangsung dan potensi pertemuan tersebut sedang dipersiapkan.
“Presiden Indonesia Prabowo Subianto mungkin akan mengunjungi Rusia dan mengadakan pembicaraan dengan Presiden Vladimir Putin,” kata Peskov, dikutip dari marketscreener, Kamis (9/4/2026).
Adapun, kunjungan Prabowo ke Rusia kali ini menjadi yang ketiga kalinya sejak menjabat sebagai Presiden RI. Prabowo telah mengunjungi Rusia dua kali pada tahun lalu, yakni menghadiri Saint Petersburg International Economic Forum (SPIEF) pada 18-20 Juni 2025 dan melakukan pertemuan bilateral dengan Putin di Kremlin pada 10 Desember 2025.
Dalam agenda SPIEF, Prabowo hadir sebagai pembicara utama. Prabowo juga bertemu dengan Putin untuk memperdalam kemitraan strategis di bidang pertahanan, energi nuklir, perdagangan, teknologi, dan pendidikan.
Kemudian, Indonesia dan Rusia juga menandatangani kesepakatan investasi dan kerja sama, serta menghormati korban blokade Leningrad dengan tabur bunga di Piskaryovskoye Memorial Cemetery.
Sementara itu, dalam pertemuan bilateralnya dengan Putin pada akhir tahun lalu, Prabowo membahas penguatan kerja sama strategis Indonesia–Rusia di bidang politik, ekonomi, energi, dan perdagangan.
Urgensi Kerja Sama di Tengah Gejolak Geopolitik
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai geliat kunjungan Prabowo ke luar negeri, serta kerja sama yang dihasilkan, termasuk dengan dua negara Asia Timur merupakan langkah tepat. Sebab, saat ini terdapat tantangan geopolitik yang sedang memanas. Perang di Timur Tengah antara Iran dengan AS-Israel telah memberikan dampak terhadap gejolak rantai pasok energi global.
Yusuf menilai kondisi tersebut memang membuat pemerintah mesti menjajaki diplomasi dengan berbagai negara.
"Di tengah geopolitik yang memanas, diplomasi ekonomi seperti ini justru semakin penting. Negara-negara sekarang mencari mitra yang stabil untuk relokasi investasi. Indonesia punya peluang, tapi persaingannya juga ketat dengan negara lain di Asia Tenggara," ujar Yusuf.
Akan tetapi, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies, Bhima Yudhistira menilai bahwa dari ragam kerja sama serta komitmen investasi yang dihasilkan, yang menjadi persoalan utama adalah realisasi investasi.
Dia mencontohkan, komitmen investasi sebesar Rp294,9 triliun hasil kunjungan ke enam negara pada November 2025 belum sepenuhnya tercermin dalam peningkatan Penanaman Modal Asing (PMA) pada awal 2026.
“Belum terlihat dari komitmen jadi realisasi investasi sehingga antara komitmen dan realisasi gap-nya masih besar,” ujarnya.
Bhima menjelaskan, salah satu penyebabnya adalah proyek-proyek investasi masih membutuhkan proses uji kelayakan (feasibility study) yang panjang, sehingga memperlambat eksekusi. Selain itu, ketidakpastian kebijakan juga menjadi faktor penghambat, termasuk isu perubahan aturan seperti Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
"Banyak ketidakpastian kebijakan… ikut jadi pertimbangan sebelum financial closing suatu proyek,” jelasnya.
Dia juga menilai capaian diplomasi ekonomi pemerintah memang membuka peluang besar. Namun tanpa perbaikan fundamental di dalam negeri, terutama dalam eksekusi proyek dan kepastian regulasi, angka komitmen tersebut berisiko hanya menjadi pencapaian di atas kertas tanpa dampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi.
#prabowo-geopolitik #kerja-sama-global #kunjungan-luar-negeri #prabowo-ke-rusia #energi-indonesia #pasokan-energi #geopolitik-timur-tengah #konflik-iran-israel #ekonomi-global #investasi-indonesia #dip