Balita 1,5 Tahun Hipotermia saat Naik Gunung Ungaran, Begini Imbauan IDAI untuk Orang Tua
Balita 1,5 tahun alami hipotermia saat mendaki Gunung Ungaran. IDAI imbau orang tua prioritaskan keselamatan anak dan hindari aktivitas ekstrem.
(Bisnis.Com) 14/04/26 14:30 190875
Bisnis.com, JAKARTA — Kasus balita berusia 1,5 tahun yang mengalami hipotermia saat diajak mendaki Gunung Ungaran menjadi perhatian publik setelah viral di media sosial.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa anak, terutama balita, sangat rentan mengalami penurunan suhu tubuh sehingga faktor keselamatan harus menjadi prioritas dalam aktivitas luar ruang.
Video kejadian tersebut diunggah oleh akun Instagram @kabaruangaran yang memperlihatkan kondisi balita yang mengalami penurunan suhu tubuh. Dalam keterangan unggahannya, disebutkan Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Semarang melakukan penanganan darurat pada Sabtu (11/4/2026).
Kronologi kejadian bermula ketika satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak mendaki hingga mencapai puncak Bondolan. Namun, hujan yang turun di lokasi membuat suhu tubuh balita menurun hingga mengalami gejala hipotermia.
Tim SAR gabungan yang berada di lokasi langsung memberikan penanganan awal berupa penghangatan dan perlindungan dari cuaca. Setelah kondisinya mulai stabil, balita tersebut dievakuasi ke Basecamp Perantunan untuk penanganan lanjutan.
Korban berhasil dievakuasi dalam kondisi sadar dan kemudian diserahkan kepada pihak keluarga. Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bagi masyarakat untuk lebih berhati-hati saat mengajak anak dalam aktivitas berisiko tinggi.
Menanggapi kejadian tersebut, IDAI menyebut bahwa anak, khususnya balita, memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap perubahan suhu lingkungan. Kondisi ini membuat mereka lebih mudah mengalami hipotermia dibandingkan orang dewasa.
Selain itu, dokter anak juga mengingatkan bahwa anak bukanlah “dewasa kecil” sehingga tidak bisa disamakan dalam hal ketahanan fisik. Orang tua perlu memahami keterbatasan tubuh anak sebelum memutuskan aktivitas di alam terbuka.
Ketua Pengurus Pusat IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, menekankan bahwa keselamatan anak harus menjadi prioritas utama. Dia menjelaskan bahwa balita sangat mudah kehilangan panas tubuh, terutama dalam kondisi hujan dan lingkungan dingin seperti pegunungan.
“Dari sisi anak itu kan kita pertama safety first ya. Anak-anak itu, apalagi usia satu setengah tahun, sangat mudah kehilangan panas dibanding dewasa, apalagi kalau naik gunung jaraknya jauh, ada potensi hujan, dan evakuasinya lama, ini harus dipikirkan sebelumnya,” ujarnya saat ditemui di Hotel Sangri-La, Jakarta Pusat, Senin (13/4/2026).
Menurutnya, membawa balita ke medan ekstrim seperti gunung tidak direkomendasikan karena berisiko tinggi. Dia menyarankan agar orang tua memilih aktivitas yang lebih ringan dan aman jika ingin mengenalkan anak pada alam.
“Lebih aman kalau mengajak batita atau balita ke alam itu jangan yang ekstrem seperti gunung tinggi, mungkin sekadar hiking ringan, yang mudah diakses untuk evakuasi dan cuacanya tidak ekstrem,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Unit Kerja Koordinasi Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI, dr. Yogi Prawira, menambahkan bahwa tubuh anak memiliki mekanisme berbeda dari orang dewasa. Anak lebih cepat kehilangan cairan dan panas tubuh, sehingga perlu perhatian ekstra selama beraktivitas di luar ruangan.
“Anak itu bukan dewasa kecil, jadi jangan diasumsikan sama tahan dengan orang tua. Anak lebih mudah kehilangan cairan dan panas, apalagi saat bernapas frekuensinya lebih tinggi,” katanya.
Dia juga menekankan pentingnya kesiapan orang tua dalam menghadapi kondisi darurat. Penanganan awal seperti menjaga tubuh tetap hangat hingga metode skin to skin bisa dilakukan sebelum mendapatkan bantuan medis.
“Kalau kondisi emergensi seperti hipotermia, bisa dilakukan skin to skin, jadi kulit ditempelkan langsung agar membantu menghangatkan, pastikan juga pakaian dalam kondisi kering,” tambahnya.
IDAI juga memberikan tips dan anjuran yang perlu diperhatikan orang tua saat mengajak anak ke alam terbuka. Berikut tips dan anjurannya:
- Hindari membawa balita ke aktivitas ekstrim seperti pendakian gunung tinggi.
- Pilih kegiatan ringan seperti hiking dengan jalur aman dan mudah dijangkau.
- Perhatikan kondisi cuaca dan hindari hujan lebat atau suhu ekstrem.
- Gunakan pakaian berlapis dan lapisan luar yang tahan air.
- Pastikan anak tetap hangat, kering, dan tidak kedinginan.
- Penuhi kebutuhan cairan anak untuk mencegah dehidrasi.
- Kenalkan alam secara bertahap, mulai dari aktivitas ringan.
- Siapkan penanganan darurat sederhana seperti metode skin to skin.
#balita-hipotermia #naik-gunung-ungaran #imbauan-idai #keselamatan-anak #hipotermia-balita #aktivitas-luar-ruang #penanganan-darurat #cuaca-ekstrem #hiking-aman #tips-orang-tua #anak-rentan #suhu-tubuh