Dari Krisis BBM ke Kedaulatan Energi: Hilirisasi Nikel Jadi Jalan Keluar

Dari Krisis BBM ke Kedaulatan Energi: Hilirisasi Nikel Jadi Jalan Keluar

Indonesia genjot hilirisasi nikel, manfaatkan cadangan melimpah untuk ekosistem EV global. Investasi teknologi dan SDM jadi kunci di tengah ketidakpastian energi.

(Kompas.com) 15/04/26 11:41 191817

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketidakpastian pasokan bahan bakar minyak (BBM) global dan volatilitas harga minyak dunia dinilai menjadi momentum bagi Indonesia untuk mempercepat hilirisasi nikel, yang menjadi penopang ekosistem baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

Menurut Head of External Relations Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Mordekhai Aruan, situasi energi global saat ini semakin memperkuat urgensi pembangunan supply chainEV berbasis nikel di dalam negeri.

Terlebih, Indonesia memiliki modal strategis yang kuat melalui cadangan nikel yang melimpah, komoditas utama dalam produksi baterai kendaraan listrik.

"Urgensi pembangunan supply chainEV berbasis nikel di Indonesia sebetulnya telah terasa cukup tinggi sejak 2-3 tahun terakhir, sejalan dengan peta jalan dekarbonisasi pemerintah menuju Net Zero Emission 2060," ujar Mordekhai dalam keterangan tertulis, Selasa (14/4/2026).

Ia menilai, industri nikel nasional saat ini telah berkembang signifikan dalam lima tahun terakhir.

Produk yang dihasilkan tidak lagi terbatas pada nickel pig iron (NPI), tetapi telah masuk ke produk bernilai tambah seperti MHP, nickel sulphate, cobalt sulphate, hingga precursor cathode active material (PCAM). Perkembangan ini dinilai memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok EVglobal, terutama di tengah kebutuhan dunia terhadap material baterai.

"Indonesia saat ini berada dalam posisi yang sangat strategis dalam rantai pasok EVglobal," kata dia.

Keunggulan tersebut ditopang besarnya cadangan nikel nasional serta investasi teknologi pengolahan, khususnya smelter berbasis high pressure acid leach (HPAL) yang menjadi tulang punggung produksi bahan baku baterai kelas EV.

Di sisi industri, PT QMB New Energy Materials, anak perusahaan GEM, turut memperkuat mata rantai pasok melalui produksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) berkapasitas 150.000 ton per tahun.

Selain itu, konsorsium ini juga memproduksi sekitar 30.000 ton NCM sulfates dan 50.000 ton prekursor per tahun, yang menjadi komponen utama untuk katoda baterai EV. Kapasitas produksi yang terintegrasi ini dinilai penting untuk menjaga pasokan bahan baku domestik sekaligus memperkuat daya saing ekspor produk bernilai tambah.

"Tantangan berikutnya adalah mendorong investasi untuk menciptakan ekosistem pengolahan bijih nikel secara end-to-end dari hulu ke hilir," imbuh dia.

Selain investasi fisik, penguatan sumber daya manusia (SDM) juga menjadi kunci keberlanjutan hilirisasi. Sejumlah inisiatif telah dilakukan, termasuk investasi GEM lebih dari 40 juta dollar AS untuk pengembangan talenta Indonesia melalui program beasiswa dan kolaborasi dengan lembaga pendidikan.

Saat ini, sebanyak 266 talenta Indonesia tengah dikembangkan untuk mendukung pertumbuhan industri energi baru dan hilirisasi nikel, melalui kerja sama dengan LPDP dan Central South University, China.

Guru Besar Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB, Prof. Mohammad Zaki Mubarok, menilai penguatan SDM harus diiringi dengan pembangunan ekosistem inovasi yang terintegrasi.

Menurutnya, pembelajaran berbasis praktik menjadi kunci untuk menghasilkan talenta yang adaptif terhadap perkembangan teknologi industri.

Ia mencontohkan pentingnya pembangunan pusat riset bersama, seperti inisiatif Joint Research Laboratory antara GEM, Institut Teknologi Bandung, dan Central South University China.

Selain itu, pengembangan fasilitas pilot plant yang terhubung langsung dengan perencanaan industri juga dinilai krusial dalam mempercepat transfer teknologi dan peningkatan kapasitas nasional.

Dalam perspektif bisnis dan pertumbuhan ekonomi, penguatan SDM dipandang sebagai salah satu penggerak utama keberlanjutan hilirisasi.

"Pengembangan talenta teknis dan manajerial diharapkan menciptakan multiplier effect melalui peningkatan produktivitas industri, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan daya saing Indonesia dalam rantai nilai global industri baterai dan kendaraan listrik," ujar Zaki.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#cadangan-nikel-indonesia #hilirisasi-nikel #ekosistem-baterai-ev #pengembangan-sdm-industri

https://money.kompas.com/read/2026/04/15/114100826/dari-krisis-bbm-ke-kedaulatan-energi--hilirisasi-nikel-jadi-jalan-keluar