Mengukur Daya Tahan IHSG Menghadapi Perang Dagang yang Berkecamuk Lagi
IHSG terdampak perang dagang AS-China, memicu volatilitas saham. IHSG melemah 0,37% ke 8.227,20. Sektor defensif dan konglomerasi jadi penopang.
(Bisnis.Com) 13/10/25 19:04 1950
Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bakal terdampak efek perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang memanas lagi. Adapun, ketidakpastian rantai pasok akan meningkat dan memengaruhi sejumlah sektor industri yang menambah volatilitas saham.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup melemah sebesar 0,37% atau 30,65 poin menuju 8.227,20 pada Senin (13/10/2025). Sepanjang hari ini, indeks bergerak pada level terendahnya 8.133,62 dan sempat menyentuh posisi tertinggi di 8.288,27.
Tercatat, sebanyak 240 saham meningkat, 438 saham turun, dan 126 saham stagnan. Sementara itu, kapitalisasi pasar alias market cap mencapai Rp15.535 triliun.
Perang dagang antara AS dan China kembali memanas setelah China memperbarui kebijakan ekspor mineral tanah. Presiden AS Donald Trump langsung membalas dengan mengancam China lewat tarif 100%.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menjelaskan memanasnya perang dagang AS–China itu menambah risk premium dan volatilitas jangka pendek bagi IHSG. Liza menyebut IHSG cenderung swing di area 8.080–8.250 sambil menunggu kejelasan tarif atau balasan China, serta arah kebijakan The Fed di tengah shutdown pemerintah AS.
“Shutdown menyebabkan The Fed menjadi \'terbang buta\' terkait data-data ketenagakerjaan AS yang penting untuk menentukan keputusan suku bunga. Sentimen domestik seperti likuiditas naik, dan stimulus fiskal jadi penyangga koreksi,” ujar Liza, Senin (13/10/2025).
Liza melanjutkan di perang dagang terbaru ini menambah ketidakpastian rantai pasok dan permintaan global, terutama untuk manufaktur maupun teknologi terkait ekspor.
Liza melanjutkan, beberapa sektor potensial yang masih bisa dilirik oleh investor di tengah kelanjutan perang dagang ini adalah saham-saham seputar LQ45, IDX80, atau KOMPAS100.
Liza menyebut beberapa saham defensif yang bisa diunggulkan seperti dari sektor telko dengan saham TLKM, sektor staples dengan saham ICBP atau MYOR, dan utilitas energi dan gas dengan saham PGAS.
Sektor penopang lain adalah emas terkait safe haven dengan saham ANTM, MDKA, atau AMMN bila reli emas berlanjut. Lalu sektor energi hulu dengan saham MEDC yang lebih volatile mengikuti harga minyak.
Sektor lain yang juga tengah menjadi tren saat ini seperti sektor infrastruktur teknologi dengan saham seperti WIRG dan INET.
Sementara itu, Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Fath Aliansyah Budiman menjelaskan perang dagang yang berlanjut akan memberikan volatilitas di pasar saham.
“Hanya saja volatilitas ini harapannya bisa terjaga untuk bisa bergerak di momentum positif mengingat saham-saham konglomerasi bisa memberikan kontribusi yang positif sejauh ini,” tutur Fath.
Adapun Maybank Sekuritas memandang IHSG masih mampu melanjutkan reli apabila koreksi dapat bertahan di level 8.150. Maybank Sekuritas juga melihat kinerja IHSG akan ditopang oleh saham konglomerasi serta saham-saham yang berkaitan dengan aksi korporasi maupun global index rebalancing.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#ihsg #ihsg-melemah #ihsg-volatilitas #ihsg-perang-dagang #ihsg-as-china #ihsg-ketidakpastian #ihsg-rantai-pasok #ihsg-sektor-industri #ihsg-saham-defensif #ihsg-saham-konglomerasi #ihsg-market-cap #ih