Purbaya Singgung Whoosh dan LRT Jabodebek, Proyek Besar yang Tidak Diawasi
Menteri Keuangan Purbaya menyoroti proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung dan LRT Jabodebek yang kurang diawasi, menyebabkan pembengkakan biaya hingga Rp100 triliun.
(Bisnis.Com) 22/04/26 12:42 198984
Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyinggung dua proyek perkeretaapian yang dibangun saat pemerintahan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi), yakni Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh dan LRT Jabodebek.
Menurut Purbaya, di masa lalu terdapat banyak proyek yang bagus, namun tidak dimonitor dengan baik sehingga menimbulkan masalah. Akibatnya, biaya proyek membengkak.
"Ada Whoosh, ada LRT Jabodebek, ada apa lagi? Itu sebetulnya project-nya bagus, cuma tidak diawasi, sehingga ketika ada masalah, tidak ada yang menangani. Akhirnya terjadi cost overrun [sehingga menjadi] Rp100 triliun," terangnya pada acara Simposium PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) 2026, Jakarta, Rabu (22/4/2026).
Purbaya menyinggung bahwa Indonesia memiliki banyak proyek. Namun, masalahnya, banyak proyek itu tidak disertai dengan feasibility (kelayakan) yang kuat sehingga banyak investor yang mundur.
"Nah ini yang harus kita perbaiki, kalau bikin proyek, harus jelas proyeknya, sehingga feasibility-nya seperti apa," terangnya.
Purbaya lalu menceritakan pengalamannya mengurus proyek tersebut saat masih menjabat di Kemenko Kemaritiman dan Investasi, yang dulu dipimpin Luhut Binsar Pandjaitan sebagai Menko. Luhut juga diketahui merupakan Ketua Komite Kereta Cepat saat pemerintahan Presiden ke-7 Joko Widodo.
Dia mengaku pernah menerima keluhan pimpinan proyek dari pihak China terkait dengan ketidakjelasan manajemen dari pihak Indonesia. Salah satunya mengenai pembebasan lahan untuk prasarana Whoosh, yang disebut memakan waktu bertahun-tahun.
"Terus saya tanya, \'Kamu siapa yang handle program project-nya?\'. Enggak ada, katanya. \'Kalau kami ngadu ke BUMN, dipingpong ke PU [Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat], pingpong lagi ke sana. Ya sudah ditarik ke mari itu waktu itu diberesin sedikitlah pada waktu itu," tuturnya.
Saat itu, Purbaya mengaku bahwa pembangunan proyek itu agak lambat. Oleh sebab itu, dia menekankan agar proyek-proyek besar dikawal dengan baik.
"Pada waktu mereka [pihak China] bingung, saya juga bingung lho enggak ada yang jaga? Enggak ada. Yang gitu-gitu enggak boleh. Nanti ke depan akan dimonitor dengan baik untuk semua proyek yang besar," tuturnya.
Berdasarkan catatan Bisnis, audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) pada 2022 yang diserahkan ke Kementerian BUMN (sebelum menjadi Badan Pengaturan BUMN) mencapai sekitar US$1,1 miliar.
Nilai cost overrun ini sempat berubah-ubah sejak dikaji awalnya oleh konsorsium pemilik proyek Whoosh, yakni PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC).
Pada awalnya, proyek KCJB disebut menghabiskan nilai investasi senilai US$6,07 miliar. Dengan demikian, saat kurs masih sekitar Rp14.000 hingga Rp15.000 per dolar Amerika Serikat (AS) beberapa tahun lalu, biaya proyek total sekitar US$7 miliar itu melahap biaya setara sampai sekitar Rp100 triliun.
#whoosh #lrt-jabodebek #proyek-besar #purbaya-yudhi-sadewa #kereta-cepat-jakarta-bandung #proyek-tidak-diawasi #cost-overrun #feasibility-proyek #investasi-proyek #pembebasan-lahan-whoosh #manajemen-pr