Selat Hormuz Tutup Picu Defisit Minyak 10 Juta Barel/Hari, Terbesar dalam Sejarah
Penutupan Selat Hormuz akibat konflik AS-Israel-Iran memicu defisit minyak 10 juta barel/hari, terbesar dalam sejarah, menaikkan harga minyak global.
(Bisnis.Com) 29/04/26 14:05 206365
Bisnis.com, JAKARTA — Bank Dunia (World Bank) menyebut kekurangan pasokan minyak global akibat penutupan Selat Hormuz yang dipicu perang Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran merupakan yang terbesar dibandingkan dengan saat konflik-konflik sebelumnya.
Pada laporan Commodity Markets Outlook April 2026, Bank Dunia menyebut Selat Hormuz adalah jalur utama perdagangan energi dan komoditas lain seperti pupuk, bahan kimia untuk industri seperti helium dan sulfur, serta pasokan aluminium.
Sebelum perang meletus pada akhir Februari, atau serangan gabungan AS-Israel ke Iran, hampir 35% kapal tanker untuk minyak mentah dan minyak olahan serta 20% kapal LNG melintasi Selat Hormuz. Bank Dunia pada 2023 sudah memprakirakan penghalangan lalu lintas di selat itu akan berisiko parah kepada ketersediaan pasokan komoditas.
"Pengurangan pasokan minyak global pada Maret 2026-diestimasikan 10 juta barel per hari-merupakan guncangan pasokan minyak terbesar yang pernah tercatat," dikutip dari laporan Bank Dunia itu, Rabu (29/4/2026).
Dari data yang dilampirkan Bank Dunia, guncangan pasokan minyak akibat penutupan Selat Hormuz merupakan yang terbesar sepanjang sejarah.
Disrupsi pasokan minyak dunia ini lebih besar dari yang terjadi akibat revolusi Iran yaitu hampir 6 juta barel per hari maupun yang terkini yaitu perang Irak di 2003 lalu kurang dari 2 juta barel per hari.
Kenaikan harga minyak sejak perang dimulai akhir Februari 2026 lalu sangat tinggi. Harga minyak jenis Brent pada akhir Februari masih US$72 per barel dan naik hingga ke US$118 per barel pada akhir Maret.
Harga minyak sempat mengalami moderasi pada paruh pertama April ketika pengumuman gencatan senjata dan penurunan angka kekerasan di kawasan. Akan tetapi, level harga minyak masih bertengger di sekitar US$90 per barel atau lebih tinggi dari posisi awal tahun.
Bank Dunia melihat selama dua bulan belakangan terjadi persaingan intens antara pembeli global guna mengamankan pasokan LNG. Hal ini dipicu oleh penurunan ekspor yang cukup dalam dari Timur Tengah. Harga dasar LNG di Asia naik 94% sepanjang Maret, sedangkan gas alam di Eropa mencapai 59%.
Adapun pada pertengahan April 2026, harga untuk kontrak berjangka minyak jangka pendek jauh melebihi harga untuk pengiriman di akhir 2026. Ini dinilai menyiratkan ekspektasi pasar bahwa ekspor energi Timur Tengah kemungkinan akan meningkat dalam beberapa bulan mendatang.
"Meskipun demikian, tingkat keparahan akhir dari guncangan saat ini akan ditentukan oleh dua faktor utama: tingkat kerusakan jangka panjang terhadap kapasitas produksi komoditas di Timur Tengah, dan jangka waktu serta luasnya pemulihan volume pengiriman melalui Selat Hormuz," pungkas Bank Dunia.
#selat-hormuz #defisit-minyak #pasokan-minyak-global #perang-as-israel-iran #jalur-perdagangan-energi #kapal-tanker-minyak #guncangan-pasokan-minyak #harga-minyak-brent #harga-minyak-naik #harga-lng-as