Industri Manufaktur RI Tetap Ekspansi, Meski IKI April 2026 Melambat
Kinerja industri manufaktur RI April 2026 masih ekspansi meski melambat tipis akibat tekanan geopolitik global. IKI tercatat 51,75, mayoritas subsektor tetap positif.
(Kompas.com) 29/04/26 16:33 206613
JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat kinerja industri manufaktur Indonesia masih berada di zona ekspansi pada April 2026, meski mengalami perlambatan tipis di tengah tekanan geopolitik global dan moderasi optimisme pelaku usaha.
Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief mengatakan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) April 2026 tercatat sebesar 51,75, turun 0,11 poin dibanding Maret 2026 yang sebesar 51,86.
“Pada bulan April tahun 2026, industri pengolahan atau sektor manufaktur IKI-nya adalah senilai 51,75,” kata Febri dalam rilis IKI April di Jakarta, Rabu (29/4/2026).
SHUTTERSTOCK/JASEN WRIGHT Ilustrasi manufaktur.Secara tahunan, IKI April juga turun tipis 0,15 poin dibanding April 2025 yang sebesar 51,90.
Dari 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis, sebanyak 16 subsektor masih berada di zona ekspansi dan menyumbang 78,9 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas pada triwulan IV 2025.
Dua subsektor dengan kinerja tertinggi berasal dari industri pengolahan tembakau serta industri kertas dan barang dari kertas.
Sementara tujuh subsektor mengalami kontraksi, di antaranya meliputi industri minuman (KBLI 11), industri tekstil (KBLI 13), industri kayu, barang dari kayu dan gabus di luar furnitur serta anyaman bambu dan rotan (KBLI 16).
Lalu industri bahan kimia (KBLI 20), industri barang galian bukan logam (KBLI 23), industri barang logam bukan mesin dan peralatannya (KBLI 25), serta industri alat angkut lainnya (KBLI 30).
Febri mengatakan tekanan geopolitik, termasuk gangguan logistik dan energi akibat ketegangan di Selat Hormuz, masih berdampak terbatas pada subsektor tertentu, terutama industri petrokimia dan turunannya.
Di sisi permintaan, variabel pesanan baru turun 0,77 poin menjadi 51,43, sementara variabel produksi turun 0,21 poin ke level 51,34.
FREEPIK/LIFESTYLE MEMORY Ilustrasi manufaktur, industri manufaktur.Sebaliknya, persediaan produk meningkat 1,66 poin menjadi 53,13.
Kemenperin juga mencatat industri berorientasi ekspor tetap ekspansi dengan IKI 52,28 meski melambat dari bulan sebelumnya.
Sementara itu, industri berorientasi pasar domestik justru menguat ke level 50,90 dari 50,44 pada Maret.
“Dampak krisis energi karena gejolak geopolitik memang berdampak pada subsektor tertentu,” ujar Febri.
Meski mayoritas pelaku usaha masih menyatakan kondisi usaha membaik atau stabil, tingkat optimisme untuk enam bulan ke depan turun menjadi 70,1 persen, melambat 1,7 persen dibanding bulan sebelumnya.
Sebanyak 23,5 persen pelaku usaha memperkirakan kondisi usaha stabil, sementara porsi pelaku yang pesimistis turun menjadi 6,4 persen.
Febri juga mencatat sejumlah indikator penopang industri masih positif.
Realisasi investasi nasional kuartal I 2026 mencapai Rp 498,8 triliun, naik 7,2 persen dibanding periode sama tahun lalu.
Investasi sektor sekunder mencapai Rp 182,1 triliun atau 36,5 persen dari total investasi nasional.
Sementara ekspor industri pengolahan nonmigas pada Februari 2026 mencapai 18,6 miliar dollar AS, naik 0,3 persen secara bulanan.
Dari sisi sektor agro secara umum masih menunjukkan ekspansi.
Dari tujuh kelompok industri agro, lima tercatat ekspansi dan dua mengalami kontraksi.
Menurut dia, permintaan dan produksi masih tumbuh, sementara kenaikan persediaan dipengaruhi penyesuaian pasca-periode hari besar keagamaan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#kementerian-perindustrian #geopolitik-global #industri-manufaktur-indonesia #iki-april-2026