Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.655 per Dolar AS Imbas Gejolak Harga Minyak
Rupiah melemah ke Rp17.655 per dolar AS akibat lonjakan harga minyak dan ketegangan geopolitik, dengan ekspektasi kenaikan suku bunga BI untuk stabilisasi.
(Bisnis.Com) 18/05/26 15:31 223778
Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari Senin (18/5/2026) dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia serta meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap tensi geopolitik internasional.
Berdasarkan data Trading View, rupiah ditutup melemah sebesar 1,12% ke level Rp17.655 per dolar AS.
Pelemahan mata uang Garuda terhadap dolar AS sejalan dengan depresiasi sejumlah mata uang Asia Tenggara lainnya. Ringgit Malaysia mengalami pelemahan terhadap dolar AS sebesar 0,63%, diikuti Peso Filipina melemah 0,09%, rupee India turun sebesar 0,33%.
Yen Jepang terhadap dolar AS juga melemah 0,11%, dolar Hong Kong melemah 0,02%, serta dolar Taiwan terhadap dolar AS melemah 0,10%.
Sementara mata uang Asia lainnya, Yuan China mengalami penguatan terhadap dolar AS sebesar 0,11%, dolar Singapura dan won Korea sama-sama menguat sebesar 0,04%, dan baht Thailand menguat 0,15%.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menilai nilai tukar rupiah kembali tertekan di tengah menguatnya sentimen risk-off global. Tekanan terhadap mata uang Garuda dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia serta meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap tensi geopolitik internasional.
Menurutnya pelaku pasar menyoroti hasil pertemuan Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang dinilai belum memberikan solusi konkret terkait konflik geopolitik, khususnya perang AS-Iran. Kekecewaan investor terhadap minimnya terobosan dalam pertemuan tersebut membuat aset-aset berisiko, termasuk mata uang emerging market seperti rupiah, kembali ditinggalkan.
Kenaikan harga minyak dunia juga semakin memperburuk sentimen pasar. Investor menilai ancaman baru yang dilontarkan Trump berpotensi memperbesar eskalasi konflik dan menjaga harga energi tetap tinggi dalam jangka pendek.
Selain sentimen eksternal, pasar domestik juga ikut memberi tekanan terhadap rupiah. Pidato Presiden Prabowo Subianto disebut mendapat respons negatif dari pelaku pasar sehingga turut membebani pergerakan mata uang domestik pada perdagangan hari ini.
“Sentimen utama masih berasal dari eksternal. Harga minyak dunia yang tinggi meningkatkan prospek kenaikan suku bunga bank sentral dan membuat dolar AS tetap kuat,” ujarnya, Senin (18/5/2026).
Untuk perdagangan besok, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan berlanjut seiring belum adanya perubahan signifikan dari kondisi geopolitik dan pergerakan harga minyak global.
Meski demikian, pasar mulai menaruh perhatian pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang akan berlangsung pada Rabu pekan ini. Muncul ekspektasi bahwa Bank Indonesia berpotensi menaikkan suku bunga acuan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan meredam tekanan pasar.
Ekspektasi tersebut dinilai dapat membantu membatasi pelemahan rupiah lebih dalam di tengah derasnya tekanan eksternal.
"Untuk perdagangan besok Selasa [18/5/2026] rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp17.600 hingga Rp17.750 per dolar AS," katanya.
#rupiah-melemah #nilai-tukar-rupiah #harga-minyak-dunia #dolar-as #geopolitik-internasional #mata-uang-asia #sentimen-risk-off #konflik-geopolitik #harga-energi-tinggi #suku-bunga-bank #bank-indonesia #n-a