Pasar SBN Tertekan Risiko Fiskal dan Arah Suku Bunga AS
Pasar SBN Indonesia tertekan oleh risiko fiskal domestik dan ketidakpastian suku bunga AS, memicu volatilitas meski yield kompetitif. Investor waspada.
(Bisnis.Com) 19/05/26 14:27 224894
Bisnis.com, JAKARTA – Risiko fiskal domestik dan ketidakpastian arah suku bunga Amerika Serikat diperkirakan masih menjadi faktor utama yang memicu volatilitas pasar Surat Berharga Negara (SBN) RI.
Pelaku pasar menilai tekanan terhadap penerimaan negara, belanja pemerintah yang agresif, hingga tensi geopolitik global membuat investor cenderung lebih berhati-hati terhadap surat utang domestik, meski yield obligasi pemerintah Indonesia masih relatif kompetitif dibandingkan negara berkembang lain.
Presiden Direktur Batavia Prosperindo Aset Manajemen Lilis Setiadi menerangkan dinamika geopolitik global, arah suku bunga Amerika Serikat, hingga risiko fiskal dalam negeri dinilai menjadi faktor utama yang membayangi pasar surat utang domestik.
Dari dalam negeri, investor juga dinilai mencermati sejumlah persoalan domestik seperti ketidakjelasan arah kebijakan, komunikasi pemerintah, tata kelola, hingga kondisi fiskal nasional.
Belum lagi, pendapatan negara, khususnya dari pajak, dinilai masih berada di bawah target di tengah belanja pemerintah yang agresif.
”Otomatis akan masih terus mengalami volatilitas [pasar obligasi RI], karena dua hal tadi yang global dan juga yang domestik. Selama kedua hal ini masih terus ada dinamika, apapun itu kita harus cermati dan itu akan menyebabkan volatilitas di pasar obligasi belum akan stop,” katanya dalam acara SMBC Indonesia Economic Forum 2026, Selasa (19/5/2026).
Dia menjelaskan investor asing kini cenderung lebih berhati-hati terhadap obligasi pemerintah Indonesia. Hal itu tercermin dari kepemilikan asing di obligasi pemerintah tenor rupiah (FR) yang turun menjadi sekitar 12,7%, jauh dibandingkan posisi sebelum pandemi Covid-19 yang sempat mendekati 40%.
Meski demikian, dari sisi imbal hasil atau yield, obligasi Indonesia dinilai masih kompetitif dibandingkan negara berkembang lain. Yield FR tenor 10 tahun saat ini berada di kisaran 6,8%, relatif kompetitif dibandingkan India sekitar 7% dan Filipina sekitar 7,2%.
Spread antara FR tenor 10 tahun dengan US Treasury juga masih berada pada kisaran normal sekitar 220 basis point (bps). Adapun spread SBN RI berdenominasi dolar atau INDON tenor 10 tahun terhadap US Treasury berada di kisaran 90 bps.
“Ini angka yang relatif masih cukup stabil, karena biasanya range dari US Treasury 10 tahun dibandingkan FR 10 tahun, itu antara 210 sampai 250 basis point, sekarang di 220 jadi relatif normal,” katanya.
Ke depan, Lilis menilai arah obligasi RI akan ditentukan oleh data inflasi. Pasalnya, dia menilai inflasi akan mendikte arah suku bunga dan mata uang, yang memiliki peran yang besar terhadap pasar SBN RI.
Di satu sisi, tekanan inflasi global akibat tensi geopolitik dan kenaikan harga energi dinilai dapat memicu kenaikan suku bunga global, termasuk oleh Bank Indonesia. Kondisi itu berpotensi menekan harga obligasi karena instrumen fixed income cenderung bergerak berlawanan dengan arah suku bunga.
“Kalau suku bunga naik, harga obligasi cenderung turun. Apalagi di tengah mata uang yang melemah, investor asing makin tidak punya insentif membeli obligasi Indonesia karena ada risiko currencyloss,” ujarnya.
#pasar-sbn #risiko-fiskal #suku-bunga-as #volatilitas-pasar #surat-utang-domestik #yield-obligasi #investor-asing #obligasi-pemerintah #imbal-hasil-obligasi #spread-us-treasury #inflasi-global #harga-e