Di Era AI, Kedekatan Emosional Jadi Senjata Brand Merawat Pasar
Di era AI, brand harus menjaga kedekatan emosional dengan konsumen. Meski AI memudahkan efisiensi, sentuhan manusia tetap penting untuk memahami kebutuhan konsumen dan menciptakan produk yang relevan.
(Bisnis.Com) 01/01/70 07:00 226900
Bisnis.com, JAKARTA - Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) kini makin meluas di berbagai sektor. Laporan 2024 Work Trend Index Annual Report dari Microsoft dan LinkedIn mencatat sebanyak 75% pekerja perusahaan global telah menggunakan AI dalam aktivitas profesional mereka.
Di Indonesia, survei PwC’s Global Workforce Hopes and Fears Survey 2025 juga menunjukkan 69% pekerja telah memanfaatkan AI selama setahun terakhir. Tak bisa dimungkiri, kehadiran teknologi ini turut mengubah cara brand membangun strategi komunikasi dan pemasaran ke konsumen, baik itu pembuatan konten, membaca perilaku audiens, hingga layanan pelanggan yang kini semakin cepat dan efisien.
Meski begitu, kedekatan emosional dinilai tetap menjadi hal yang sulit digantikan oleh teknologi. Konsultan branding sekaligus CEO Haloka Group, Stephanie Regina, menilai AI memang memungkinkan banyak pekerjaan dilakukan secara cepat hanya dengan mengetik prompt (instruksi, pertanyaan, atau topik diskusi yang Anda ketikkan ke dalam alat AI generatif untuk mendapatkan respons).
Namun, menurutnya, sebuah brand, terutama yang bergerak di ranah business to consumer (B2C), tetap harus mampu membangun komunikasi yang terasa manusiawi dengan audiens.
Oleh karena itu, pemilik brand perlu memahami batas antara penggunaan AI secara masif untuk efisiensi, dan area-area yang tetap membutuhkan sentuhan manusia agar hubungan emosional dengan konsumen tetap terjaga.
Sebab, hingga kini teknologi belum mampu sepenuhnya menggantikan interaksi antarmanusia. Percakapan langsung dengan konsumen, termasuk memahami kebutuhan, keresahan, dan ekspektasi mereka secara mendalam, tetap menjadi elemen penting yang tidak bisa diabaikan bagi sebuah brand.
"Di era sekarang, AI bisa digunakan untuk mengumpulkan data supaya lebih cepat. Namun, ini tetap butuh sentuhan manusia, karena kita yang punya taste, nilai, dan paham budayanya," katanya dalam konferensi pers IdeaFest 2026: “ReHumanize” beberapa waktu lalu di Jakarta.
Oleh karena itu, pemanfaatan AI akan optimal ketika digunakan untuk level pra-produksi, seperti mencari data, menggali kebutuhan konsumen, dan sebagainya. Namun, data yang dikumpulkan oleh AI perlu diolah melalui kreativitas manusia agar bisa diterjemahkan menjadi produk atau layanan yang relevan dan disukai konsumen.
Sebab tanpa sentuhan kreatif tersebut, data hanya akan menjadi kumpulan informasi yang dingin dan tidak memiliki daya hidup. Menurutnya, proses kreatif memang harus tetap menjadi domain manusia agar brand bisa tetap dekat dengan konsumen.
"Jadi kreativitas berperan untuk mengubah hal penting menjadi menarik agar bisa memberikan dampak yang scalable untuk audien dan konsumen," imbuhnya.
Jebakan Viralitas
Serial Entrepreneur dan Creative Prompt Patrick Effendy menilai bahwa saat ini tidak sedikit pelaku usaha yang memanfaatkan AI hanya untuk mengejar viralitas. Padahal, menurutnya, fokus utama entrepreneur seharusnya tidak berhenti pada tren tersebut.
Dengan kecanggihan AI saat ini, mereplikasi formula viral memang makin mudah. Namun, sebaiknya jangan fokuskan perhatian sepenuhnya pada viralitas sebuah brand.
Sebab, yang perlu menjadi perhatian utama tetaplah konsumen itu sendiri. Alih-alih sekadar mengejar konten yang viral, pelaku usaha dinilai lebih penting untuk memahami kebutuhan dan masalah konsumen, lalu menghadirkan solusi yang benar-benar bisa dijawab oleh brand.
"Jadi, apa pun bisnisnya, dari entertainment sampai F&B, sebaiknya tidak memaksakan algoritma. Winning content memang bisa direplikasi, tapi kalau tidak melihat momentum budaya dan konteksnya, tidak akan masuk," katanya.
Terlebih, dirinya melihat ada fenomena menarik yang berkembang di internet dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, algoritma kini semakin terfragmentasi, sehingga setiap komunitas memiliki pasar dan audiensnya masing-masing.
Pada akhirnya, virality juga tidak selalu berbanding lurus dengan hasil penjualan. Ada konten yang viral hingga jutaan views tetapi tidak memberikan dampak bisnis yang berarti. Sebaliknya, kini banyak Key Opinion Consumer (KOC) atau pengusaha lokal dengan pengikut relatif kecil yang justru mampu menghasilkan penjualan besar melalui live selling, bahkan hingga ratusan juta rupiah per hari, dan fenomena ini banyak terjadi di berbagai daerah di Indonesia.
Sebagai entrepreneur, tentu setiap pelaku usaha menginginkan peningkatan pendapatan yang signifikan dengan biaya yang tetap efisien. Kondisi tersebut kini semakin mungkin terjadi, terutama dengan hadirnya teknologi digital dan AI. Bahkan, saat ini banyak individual entrepreneur yang dapat menghasilkan pendapatan besar hanya dari rumah melalui perangkat komputer mereka.
Namun, dirinya menegaskan bahwa dalam praktiknya, entrepreneur tetap perlu memegang etika dan nilai dalam menjalankan bisnis. AI tidak seharusnya hanya dimanfaatkan untuk mengejar keuntungan semata hingga berpotensi merugikan pihak lain.
Setiap aktivitas bisnis idealnya tetap memberikan dampak positif bagi orang lain, karena dari situlah pertumbuhan yang berkelanjutan akan terbentuk. Karena itu, konsep human in the loop selalu menjadi prinsip penting, di mana pengambilan keputusan tetap melibatkan manusia di setiap tahap dan proses.
#ai #artificial-intelligence #kedekatan-emosional #strategi-komunikasi #pemasaran-konsumen #branding-b2c #sentuhan-manusia #interaksi-antarmanusia #kreativitas-manusia #data-konsumen #produk-relevan #v