Apa Itu Ritual Yadnya Kasada yang Buat Kawasan Gunung Bromo Ditutup
Kawasan Gunung Bromo ditutup 30 Mei-2 Juni 2026 untuk Ritual Yadnya Kasada, upacara persembahan Suku Tengger sebagai rasa syukur dan penghormatan leluhur.
(Bisnis.Com) 23/05/26 14:08 229974
Bisnis.com, JAKARTA - Kawasan Gunung Bromo dan sekitarnya ditutup untuk aktivitas wisata sejak Sabtu (30/5/2026) sampai dengan Selasa (2/6/2026) berkaitan dengan kegiatan ritual Yadnya Kasada.
“Kawasan Gunung Bromo hanya terbuka bagi masyarakat yang akan mengikuti Ritual Yadnya Kasada pada 30 Mei – 1 Juni 2026 yang beridentitas sesuai dengan ketentuan yang tertulis pada Surat Edaran Ketua Paruman Dukun Pandita Kawasan Tengger,” kata Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Rudijanta Tjahja Nugraha dalam keterangan dikutip Sabtu (23/5/2026).
Sedangkan 2 Juni 2026, kata dia, kawasan hanya terbuka untuk masyarakat dan petugas yang berkepentingan dalam melakukan pembersihan kawasan pasca Yadnya Kasada.
Pengunjung dapat kembali melakukan kunjungan wisata ke kawasan Bromo dan sekitarnya pada tanggal 3 Juni 2026 mulai pukul 01.00 WIB. Demikian
Apa Itu Ritual Yadnya Kasada?
Melansir situs kemenparekraf, Yadnya Kasada adalah sebuah upacara persembahan yang dilakukan dengan melempar sesaji ke kawah.
Ritual atau upacara ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan sekaligus rasa syukur serta bakti kepada Sang Hyang Widhi dan para leluhur.
Biasanya, upacara Yadnya Kasada dilakukan setiap bulan Kasada hari ke-15 dalam penanggalan tradisional Hindu Tengger.
Selain mengungkapkan rasa syukur, ritual ini juga dilakukan untuk memohon keberkahan. Kemudian meminta perlindungan dari malapetaka.
Cerita di Balik Ritual Yadnya Kasada
Yadnya Kasada dilakukan oleh Suku Tengger di Bromo. Mereka mempercayai ritual ini dilakukan sebagai penghormatan atas pengorbanan yang dilakukan Kusuma, yakni anak dari pasangan Jaka Seger dengan seorang putri Raja Majapahit yang bernama Roro Anteng.
Kala itu, Roro Anteng dan Jaka Seger melakukan pertapaan di Gunung Bromo untuk meminta keturunan kepada penunggu gunung, yakni Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam pertapaan tersebut, keduanya berjanji akan mengorbankan anaknya kepada Kawah Gunung Bromo jika doanya dikabulkan.
Singkat cerita, akhirnya Roro Anteng dan Jaka Seger dikaruniai 25 anak. Namun, keduanya melupakan janji yang telah diikrarkan saat memohon keturunan. Sehingga, membuat sang Dewa marah.
Kemudian pada akhirnya, mereka pun menceritakan janji tersebut pada semua anaknya. Tanpa disangka, Kusuma, sebagai anak terakhir, rela mengorbankan dirinya sebagai tumbal agar orang-orang yang ditinggalkan, termasuk keluarganya dapat hidup damai.
Namun kala itu Kusuma mengungkapkan jika ia tetap meminta persembahan untuk Kawah Gunung Bromo setiap tanggal 15 bulan Kasada.
Berawal dari hal tersebut, masyarakat Suku Tengger rutin melakukan ritual melemparkan persembahan ke dalam kawah sebagai bentuk penghormatan, sekaligus memohon keberkahan, keselamatan, serta perlindungan.
#gunung-bromo #yadnya-kasada #ritual-yadnya-kasada #upacara-yadnya-kasada #suku-tengger #persembahan-kawah-bromo #tradisi-tengger #roro-anteng #jaka-seger #sang-hyang-widhi #legenda-bromo #wisata-bromo