Jaga Kedaulatan, Komdigi Wajibkan Starlink Bangun NOC dan Patuhi Aturan Konten
Komdigi mewajibkan Starlink membangun NOC di Indonesia dan mematuhi aturan konten untuk menjaga kedaulatan digital, seiring pertumbuhan pesat satelit LEO.
(Bisnis.Com) 02/06/26 18:10 237908
Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memastikan operasional penyedia layanan satelit orbit bumi rendah (Low Earth Orbit/LEO) global, seperti Starlink, tetap terikat secara ketat pada sejumlah kebijakan yang selaras dengan koridor peraturan perundang-undangan di Indonesia.
Otoritas regulasi menerapkan prinsip keseimbangan antara keterbukaan arus investasi asing dan perlindungan kedaulatan digital nasional.
Sekretaris Jenderal Komdigi, Ismail, menjelaskan posisi strategis Indonesia yang bertindak sebagai magnet utama bagi pertumbuhan industri satelit di kawasan Asia Tenggara.
Karakteristik geografis wilayah nasional yang sangat luas dan berbentuk kepulauan dinilai tidak memungkinkan untuk menyelesaikan pemenuhan jaringan telekomunikasi hanya dengan mengandalkan infrastruktur terestrial semata. Oleh karena itu, kolaborasi dan kombinasi antara jaringan bergerak seluler (mobile network), pita lebar tetap (fixed broadband), serta jaringan satelit menjadi pilar integrasi yang sangat kritikal bagi konektivitas nasional.
Pemerintah terus mendorong agar pemanfaatan akses satelit mutakhir ini dapat bertransformasi menjadi layanan pita lebar (broadband) yang mampu menghadirkan solusi riil bagi masyarakat, bukan sekadar menjual kapasitas pita lebar (bandwidth).
Komdigi mengarahkan integrasi jaringan satelit dengan solusi teknologi kecerdasan buatan (AI) agar kemajuan ekosistem digital tersebut dapat dinikmati oleh masyarakat di wilayah pelosok dan tertinggal, terutama untuk menopang sektor krusial seperti pendidikan, layanan kesehatan, hingga penguatan UMKM.
“Intinya kita balance ya antara keterbukaan dengan hak sovereignity karena mereka juga diwajibkan untuk dibuka market-nya, diwajibkan untuk membangun NOC di Indonesia Jadi hub-nya juga ada dan dia comply terhadap aturan-aturan yang mengenai konten,” ujar Ismail kepada Bisnis, dikutip Selasa (2/6/2026).
Ismail menambahkan perkembangan investasi asing di sektor ini menunjukkan antusiasme yang positif, salah satunya terlihat dari proyek peluncuran satelit komersial lokal Satelit Nusantara Lima (N5) yang berhasil mengombinasikan pendanaan bersama sindikasi perbankan internasional serta perusahaan asuransi global.
Fenomena tersebut mencerminkan pandangan dunia internasional terhadap keterbukaan pasar Indonesia, tanpa menanggalkan prinsip utama bahwa Indonesia menolak untuk diposisikan sekadar sebagai target pasar konsumen komoditas digital asing melainkan harus menjadi basis operasi strategis.
Sebelumnya, Asosiasi Satelit Indonesia (Assi) mengungkapkan bahwa layanan satelit orbit rendah (LEO) milik Elon Musk, Starlink, telah mengusai 45% pangsa pasar satelit di Tanah Air.
Hadir pada Mei 2024, Starlink yang memiliki keunggulan di sisi latensi dan kecepatan ini mampu mendisrupsi pasar Indonesia yang selama puluhan tahun dikuasai oleh satelit orbit geostrasioner atau GEO.
Ketua Umum Assi Risdianto Yuli Hermansyah mengatakan satelit LEO Starlink tumbuh pesat dalam waktu cepat karena berhasil ekspektasi pasar. LEO dapat menghadirkan layanan internet berbasis satelit dengan harga mulai dari Rp700.000-an per bulan, yang jauh lebih murah dari satelit GEO.
“Kalau bicara kapasitas bicara kapasitas antara satelit GEO dan LEO (Starlink) sekitar 60:40. Kalau bisa pangsa pasar mungkin sekitar 55:45,” kata Risdianto di Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Diketahui, perbedaan mendasar antara satelit Low Earth Orbit (LEO) dan Geostationary Earth Orbit (GEO) terletak pada aspek teknis yang berdampak langsung pada performa konektivitas.
Satelit LEO, yang beroperasi pada orbit rendah sekitar 500 - 2.000 kilometer di atas permukaan laut, menawarkan keunggulan latensi sangat rendah antara 20 hingga 50 milidetik, menjadikannya pilihan ideal untuk aplikasi real-time seperti gaming dan konferensi video dengan kecepatan yang menyerupai koneksi fiber. Meskipun memerlukan konstelasi satelit dalam jumlah besar, biaya layanan LEO cenderung lebih kompetitif untuk segmen pengguna ritel.
Sebaliknya, satelit GEO beroperasi pada jarak yang jauh lebih tinggi, yaitu 36.000 kilometer di atas permukaan laut, memiliki latensi cukup besar sekitar 500 hingga 700 milidetik.
Kondisi ini membuat GEO kurang optimal untuk aktivitas interaktif, namun sangat efektif untuk siaran televisi, telemetri, dan backhaul di wilayah terpencil. Walaupun hanya memerlukan tiga satelit untuk mencakup seluruh dunia, kapasitas GEO yang terbagi sering kali menjadikannya solusi yang lebih mahal untuk kebutuhan data berkecepatan tinggi dibandingkan efisiensi yang ditawarkan oleh teknologi LEO.
Risdianto mengatakan masyarakat saat ini mengharapkan layanan internet satelit yang cepat, ringan, mudah dibawa, dan dapat dipasang dengan sederhana. Harapan tersebut dapat dipenuhi oleh Starlink. Sementara itu instalasi layanan GEO lebih memakan waktu dan butuh dukungan teknisi. Meski demikian, kata Risdianto, pangsa pasar satelit GEO masih ada, khususnya untuk melayani penyiaran di daerah pelosok.
“Untuk broadcast dan backhaul itu dominan masih menggunakan satelit GEO,” kata Risdianto.
#starlink-indonesia #komdigi-starlink #satelit-orbit-rendah #kedaulatan-digital #jaringan-satelit-indonesia #starlink-noc-indonesia #investasi-satelit-indonesia #starlink-latensi-rendah #starlink-kecep