Porsi Bank Menyusut di SBN, Perbankan Domestik Minta Risk Premi Lebih Tinggi
Kepemilikan bank domestik di SBN menurun 7,80% ytd, menunjukkan permintaan risk premi lebih tinggi di tengah pasar surat utang RI yang lesu.
(Bisnis.Com) 04/06/26 14:19 239887
Bisnis.com, JAKARTA – Kepemilikan perbankan domestik yang menyusut di pasar Surat Berharga Negara (SBN) menunjukkan permintaan risiko premi yang lebih besar di tengah lesunya kondisi pasar surat utang RI.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan per 29 Mei 2026, kepemilikan perbankan tercatat total Rp1.224,96 triliun. Posisi ini berkurang 7,80% ytd dari akhir tahun 2025 yang senilai Rp1.328,64 triliun.
Diperinci, kepemilikan dari bank konvensional yang paling turun menjadi Rp1.110,41 triliun, berkurang Rp130,22 triliun atau turun 10,49% ytd dari posisi akhir tahun lalu Rp1.240,63 triliun. Sementara itu, porsi kepemilikan bank syariah justru melesat hingga 30,15% ytd menjadi Rp114,55 triliun atau bertambah Rp26,54 triliun dari sebelumnya Rp88,01 triliun.
Ekonom KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana, menilai fenomena ini dapat dibaca sebagai upaya perbankan meminta risk premi yang lebih tinggi terhadap kondisi pasar surat utang RI yang tengah lesu. Tidak hanya itu, kondisi ini juga mencerminkan sikap perbankan yang lebih berhati-hati terhadap SBN.
”Kalau melihat kondisi sekarang, pengurangan kepemilikan SBN dari perbankan juga dalam dua bulan terakhir ya. Kayaknya memang kondisi seperti itu sih [meminta risk premi lebih] yang mereka lakukan sekarang,” katanya kepada Bisnis, Kamis (4/6/2026).
Selain itu, terdapat pula kebutuhan perbankan untuk menyalurkan kredit. Terutama bagi Himbara kepada program-program prioritas pemerintah saat ini. Hal itu yang dinilai turut mendorong perbankan domestik mengurangi porsinya di SBN.
Senada, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) David Sumual, turut menilai berkurangnya porsi perbankan di SBN menunjukkan permintaan imbal hasil yang lebih tinggi terhadap instrumen investasi ini.
Terlebih, volatilitas di pasar surat utang domestik, turut mendorong investor memburu surat utang bertenor pendek. Hal itu tampak dari kepemilikan perbankan domestik di SRBI yang meningkat menjadi Rp673,90 triliun per April 2026 dari Rp614,78 triliun pada awal tahun ini.
”Mungkin terkait daya tarik dari yield saja sih [pengurangan porsi di SBN]. Saya pikir bukan hanya bank, yang lain juga sama. Terus juga, ada instrumen SRBI yang mungkin dianggap lebih menarik oleh perbankan,” katanya, Kamis (4/6/2026).
Di tengah kondisi ini, David menyarankan pemerintah untuk mulai lebih gencar menerbitkan SBN bertenor pendek, yang dicerminkan dalam SPN maupun SPNS. Secara global, menurutnya, tengah terdapat fenomena investor lebih banyak memburu tenor pendek.
Hanya saja, dia mewanti-wanti ihwal manajemen likuiditas yang lebih diperketat dalam proses penerbitan lebih banyak surat utang bertenor pendek.
”Dan memang ini kan [SBN] instrumen menengah panjang nih kalau yang 10 tahun. Dan kelihatannya [investor] lebih tertarik yang tenor pendek, sih. Dan mungkin ini kesempatan juga buat pemerintah itu untuk dorong pasar SPN yang kurang dari setahun,” katanya.
#bank-menyusut #perbankan-domestik #risk-premi #pasar-surat-utang #kepemilikan-perbankan #bank-konvensional #bank-syariah #risk-premi-tinggi #pasar-surat-utang-ri #perbankan-hati-hati #pengurangan-kepe