Rupiah Rp18.000 per Dolar AS, ESDM Genjot Migas Nonkonvensional Untuk Tekan Impor

Rupiah Rp18.000 per Dolar AS, ESDM Genjot Migas Nonkonvensional Untuk Tekan Impor

Kementerian ESDM menggenjot migas nonkonvensional untuk kurangi impor di tengah pelemahan rupiah.

(Bisnis.Com) 05/06/26 14:42 241110

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan sejumlah strategi untuk menekan impor minyak di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Adapun, impor minyak dan gas bumi (migas) melonjak 82,52% secara tahunan (yoy) pada April 2026. Di sisi lain, nilai tukar rupiah berada di level Rp18.049 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (4/5/2026).

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan, pelemahan rupiah membuat pemerintah untuk terus mendorong produksi minyak di dalam negeri. Sejumlah langkah pun akan diambil dengan mengerek lifting minyak nasional.

Menurutnya, peningkatan produksi domestik menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak yang berpotensi semakin mahal akibat pelemahan kurs rupiah.

Yuliot menyebut, pemerintah tengah mendorong penerapan teknologi migas nonkonvensional (MNK) pada wilayah kerja yang memiliki potensi cadangan besar berdasarkan hasil survei geologi.

“Yang terkait dengan itu, kami berusaha meningkatkan produksi dalam negeri. Untuk blok-blok yang memiliki cadangan cukup berdasarkan identifikasi survei geologi, kami akan mendapatkan teknologi unconventional,” kata Yuliot di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (5/6/2026).

Dia menjelaskan, wilayah kerja yang dinilai paling siap untuk pengembangan migas nonkonvensional saat ini adalah Blok Rokan. Yuliot mengatakan, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) telah melakukan kajian awal untuk mengembangkan sumber daya tersebut.

Pihaknya berharap penerapan teknologi baru itu dapat memberikan tambahan produksi yang signifikan. Dengan begitu, membantu mengejar target lifting minyak nasional sekaligus menekan kebutuhan impor.

Yuliot mencontohkan keberhasilan Amerika Serikat (AS) dalam meningkatkan produksi migas melalui pengembangan sumber daya nonkonvensional. Menurutnya, penerapan teknologi tersebut berhasil membalikkan tren penurunan produksi yang sebelumnya terjadi di Negeri Paman Sam.

“Pengalaman dari Amerika, justru pada saat terjadi decline produksi mereka menerapkan produksi unconventional. Jadi sehingga pada saat terjadi peningkatan di beberapa wilayah kerja, justru Amerika sendiri surplus untuk produksi migasnya sendiri sehingga Amerika melakukan peningkatan ekspor,” jelas Yuliot.

Oleh karena itu, untuk mempercepat implementasi program tersebut, pemerintah telah menjembatani sejumlah penyedia teknologi migas nonkonvensional dengan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).

Saat ini, SKK Migas mendorong agar kerangka regulasi pengembangan migas nonkonvensional dapat diselesaikan pada akhir Juni 2026. Dengan demikian, implementasi awal proyek dapat dimulai pada Juli 2026.

“SKK Migas meminta kalau bisa akhir Juni kerangka regulasinya sudah selesai dan bisa diimplementasikan awal Juli. Jadi ini kami sedang berkejaran dengan waktu,” kata Yuliot.

Dia menegaskan, peningkatan produksi minyak domestik akan memberikan manfaat ganda bagi perekonomian nasional. Selain memperkuat ketahanan energi, tambahan produksi juga dapat mengurangi kebutuhan impor minyak yang selama ini menjadi salah satu sumber tekanan terhadap neraca perdagangan migas.

“Kalau tingkat produksi dalam negeri meningkat, berarti kita juga akan mengurangi impor dan tidak terlalu terpengaruh terhadap perubahan atau fluktuasi mata uang,” ujarnya.

SKK Migas mencatat realisasi produksi minyak mencapai 576.200 barel per hari (bph) per 31 Mei 2026. Perinciannya realisasi produksi minyak sebesar 576.200 bph itu terdiri atas minyak sebesar 491.300 bph, kondensat 55.800 bph, dan natural gas liquids (NGL) 29.100 bph. Adapun, angka ini masih jauh dari target produksi minyak dalam APBN 2026, yakni 610.000 bph.

Impor Migas Melonjak

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor sektor migas mencapai US$4,60 miliar atau setara Rp82,99 triliun (asumsi kurs Rp18.041 per US$) pada April 2026. Angka itu melonjak 82,52% yoy.
Adapun, kenaikan impor migas ditopang oleh peningkatan impor minyak mentah sebesar 67,49% dan impor hasil minyak sebesar 87,76%.
Ketiga negara terbesar yang memasok minyak mentah ke Indonesia, yakni Nigeria, Brasil, dan Kazakhstan. Sementara itu, negara pemasok hasil minyak ke Indonesia, yakni Malaysia, Singapura, dan Mesir.
BPS pun mencatat nilai impor migas sepanjang Januari hingga April 2026 mencapai US$12,93 miliar atau setara Rp233,26 triliun. Angka itu naik 17,58% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

#impor-minyak #pelemahan-rupiah #impor-migas #esdm

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260605/44/1978674/rupiah-rp18000-per-dolar-as-esdm-genjot-migas-nonkonvensional-untuk-tekan-impor