SAKA Kantongi Restu Pengembangan Lapangan Ronggolawe, Produksi Diproyeksikan Capai 5.126 BOPD
Lapangan Ronggolawe diperkirakan menyimpan 10 juta barel minyak dan akan dikembangkan melalui empat sumur baru untuk mendukung produksi migas.
(Kompas.com) 11/06/26 14:08 247116
KOMPAS.com – PT Saka Energi Indonesia (SAKA), perusahaan hulu minyak dan gas bumi (migas) yang merupakan bagian dari Subholding Gas Pertamina, memperoleh persetujuan Rencana Pengembangan Lapangan (Plan of Development/POD) Lapangan Ronggolawe–PHE-7 di Wilayah Kerja (WK) Pangkah dari Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas).
Persetujuan tersebut menjadi langkah penting bagi SAKA dalam mengakselerasi pengembangan sumber daya migas menjadi produksi yang memberikan nilai tambah bagi perusahaan sekaligus mendukung peningkatan produksi migas nasional.
Lapangan Ronggolawe diproyeksikan mulai berproduksi (onstream) pada akhir 2029 dengan potensi produksi mencapai 5.126 barel minyak per hari (barrel oil per day/BOPD) pada masa puncak produksinya.
“Persetujuan POD ini merupakan langkah penting dalam upaya SAKA mengakselerasi pengembangan sumber daya migas menjadi produksi yang memberikan nilai tambah bagi perusahaan,” ujar Direktur Eksplorasi dan Pengembangan SAKA Fuji Koesumadewi dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Kamis (11/6/2026).
Selain berpotensi menghasilkan produksi hingga 5.126 BOPD, Lapangan Ronggolawe diperkirakan memiliki sumber daya sekitar 10 juta barel minyak yang dapat dimanfaatkan hingga berakhirnya masa kontrak kerja sama.
Potensi tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan produksi migas nasional sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia.
Didukung Hasil Evaluasi Teknis Komprehensif
Persetujuan POD Ronggolawe didukung hasil analisis komprehensif dari sumur RGL-3 yang menjadi dasar teknis dalam penyusunan rencana pengembangan lapangan.
Sebelumnya, pada 2025 SAKA telah menyerahkan dokumen Penentuan Status Eksplorasi (PSE) Lapangan Ronggolawe sebagai tindak lanjut atas keberhasilan penemuan hidrokarbon pada sumur eksplorasi RGL-1 pada 2012.
Temuan tersebut kemudian dikonfirmasi melalui kegiatan appraisal sumur RGL-3 yang dilakukan pada 2024 di WK Pangkah.
Keberadaan hidrokarbon pada Struktur Ronggolawe teridentifikasi pada lapisan CD Carbonate. Potensi tersebut dibuktikan melalui berbagai evaluasi teknis, mulai dari uji kandung lapisan (drill stem test), pengujian tekanan reservoir, hingga pengambilan dan analisis sampel fluida.
Hasil evaluasi tersebut menunjukkan bahwa Lapangan Ronggolawe memiliki prospek yang layak untuk dikembangkan lebih lanjut.
Dalam rencana pengembangan yang telah disetujui, SAKA akan melakukan pengeboran empat sumur pengembangan yang selanjutnya dihubungkan dengan fasilitas produksi eksisting di WK Pangkah melalui jaringan pipa bawah laut.
Optimalkan Produksi melalui Strategi Unitisasi
Pengembangan Lapangan Ronggolawe–PHE-7 juga menjadi bagian dari strategi unitisasi antara WK Pangkah dan WK West Madura Offshore (WMO) yang dioperasikan Pertamina Hulu Energi WMO.
Strategi tersebut dilakukan untuk mengoptimalkan produksi di WK Pangkah sekaligus mempercepat pengembangan temuan eksplorasi menjadi lapangan yang menghasilkan produksi komersial.
“Dalam pelaksanaannya, SAKA akan terus mengedepankan efisiensi dan efektivitas biaya maupun kegiatan operasional, dengan tetap menjunjung tinggi aspek keselamatan kerja dan perlindungan lingkungan,” ucap Fuji.
Dengan dukungan para pemangku kepentingan dan mitra kerja, pengembangan Lapangan Ronggolawe–PHE-7 diharapkan menjadi salah satu pendorong pertumbuhan produksi migas perusahaan maupun nasional.
Lebih dari itu, SAKA berkomitmen memastikan setiap pengembangan yang dilakukan dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi lingkungan dan masyarakat di sekitar wilayah operasi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#skk-migas #ketahanan-energi #produksi-migas-nasional #saka-energi-indonesia