Pertamax Naik: Mengapa Selalu Membandingkan Harga Negara Tetangga?

Pertamax Naik: Mengapa Selalu Membandingkan Harga Negara Tetangga?

Alih-alih dapaat penjelasan, masyarakat merasa sedang diminta bersyukur atas keadaan yang mereka anggap sudah cukup berat.

(Kompas.com) 15/06/26 06:30 249902

ADA kebiasaan yang kerap muncul setiap kali harga BBM naik di Indonesia. Bukan hanya harga yang berubah, tetapi juga cara menjelaskannya kepada publik.

Ketika masyarakat mulai menghitung ulang pengeluaran bulanan, pemerintah hampir selalu mengajak mereka menoleh ke luar pagar.

Harga BBM di negara lain disebut lebih mahal. Subsidi energi di negara lain disebut lebih kecil. Bahkan tidak jarang Indonesia digambarkan masih lebih beruntung dibanding banyak negara lain.

Seolah-olah keresahan masyarakat dapat berkurang hanya dengan melihat halaman tetangga.

Padahal, pagi hari di Indonesia dimulai dengan persoalan yang jauh lebih dekat daripada perbandingan antarnegara.

Jutaan komuter menyalakan motor, memeriksa sisa bahan bakar, lalu berangkat menuju tempat kerja.

Mereka tidak sedang memikirkan harga bensin di Singapura, Thailand, atau Filipina. Mereka sedang menghitung apakah penghasilan bulan ini masih cukup untuk menutup kebutuhan rumah tangga yang terus bertambah.

Karena itu, ketika harga Pertamax melonjak dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter atau naik lebih dari 32 persen dalam satu kali penyesuaian, respons publik sebenarnya mudah dipahami.

Bagi pengguna kendaraan yang menghabiskan sekitar 40 liter per bulan, kenaikan tersebut berarti tambahan pengeluaran sekitar Rp 158.000 setiap bulan.

Untuk rumah tangga dengan dua kendaraan, beban tambahan dapat mendekati Rp 320.000 per bulan. Angka itu mungkin tampak kecil dalam tabel statistik, tetapi cukup besar dalam catatan pengeluaran keluarga kelas menengah dan pekerja komuter.

Yang menarik, perdebatan yang muncul setelahnya bukan hanya mengenai kenaikan harga itu sendiri. Perdebatan justru bergeser pada cara pemerintah menjelaskan kebijakan tersebut.

Di berbagai kesempatan, narasi yang muncul relatif seragam. Harga BBM Indonesia disebut masih lebih murah dibanding sejumlah negara lain.

Secara faktual, argumen tersebut mungkin tidak salah. Masalahnya, fakta yang benar tidak selalu menghasilkan komunikasi yang efektif.

Dalam ekonomi perilaku terdapat pelajaran penting bahwa manusia tidak menilai kesejahteraannya melalui perbandingan yang jauh dan abstrak. Mereka menilainya melalui pengalaman yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Seorang pengemudi ojek daring di Bekasi tidak membandingkan pengeluarannya dengan warga Singapura.

Seorang pegawai yang setiap hari menempuh perjalanan dari Depok ke Jakarta tidak mengukur kemampuan ekonominya dengan harga bensin di Manila atau Bangkok.

Yang dibandingkan adalah kondisi dirinya hari ini dengan dirinya enam bulan lalu.

Apakah penghasilan bertambah? Apakah biaya hidup semakin berat? Apakah tabungan masih bisa disisihkan?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menentukan persepsi publik.

Di sinilah kelemahan mendasar narasi perbandingan antarnegara. Ketika masyarakat sedang mengeluhkan meningkatnya biaya hidup, lalu yang disampaikan adalah bahwa negara lain membayar lebih mahal, pesan yang diterima sering kali berbeda dari yang dimaksudkan.

Alih-alih memperoleh penjelasan, masyarakat merasa sedang diminta bersyukur atas keadaan yang mereka anggap sudah cukup berat.

Akibatnya, komunikasi yang seharusnya menenangkan justru berpotensi memperlebar jarak emosional antara pemerintah dan publik.

Padahal, terdapat argumentasi yang jauh lebih kuat dan lebih jujur untuk menjelaskan kenaikan harga BBM.

Tekanan terhadap fiskal negara memang nyata. Kenaikan harga energi global, pelemahan nilai tukar rupiah, serta membengkaknya kebutuhan subsidi menciptakan ruang gerak yang semakin sempit bagi anggaran negara.

Persoalannya bukan sekadar harga BBM, melainkan bagaimana menjaga keberlanjutan fiskal tanpa mengorbankan stabilitas ekonomi yang lebih luas.

Argumen ini jauh lebih masuk akal dibanding sekadar mengatakan bahwa harga BBM Indonesia masih murah.

Masyarakat pada dasarnya mampu menerima kenyataan bahwa negara menghadapi keterbatasan fiskal. Yang sering kali sulit diterima adalah ketika kesulitan tersebut dijelaskan dengan cara yang terasa tidak menyentuh realitas kehidupan mereka.

Dalam psikologi komunikasi publik, pengakuan terhadap beban masyarakat sering kali lebih penting daripada penyampaian data statistik yang panjang.

Ketika pemerintah mengatakan bahwa kenaikan harga memang akan menambah pengeluaran rumah tangga, publik merasa pengalaman mereka diakui.

Ketika pemerintah menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil untuk menjaga keberlanjutan fiskal dan mencegah beban yang lebih besar di masa depan, masyarakat memperoleh konteks.

Sebaliknya, ketika yang muncul hanya perbandingan dengan negara lain, yang terdengar bukan penjelasan, melainkan pembelaan.

Bagi para pengambil kebijakan, ada satu pelajaran komunikasi yang layak direnungkan. Jika tujuan utamanya adalah meredakan keresahan publik, berhentilah menjadikan negara lain sebagai cermin utama.

Gunakan rumah tangga Indonesia sebagai titik berangkat narasi. Jelaskan berapa besar tekanan fiskal yang dihadapi negara. Jelaskan risiko jika subsidi terus membengkak.

Jelaskan ke mana penghematan anggaran akan dialihkan. Dan yang paling penting, jelaskan kapan manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat.

Publik jauh lebih mudah menerima pengorbanan apabila mengetahui tujuan akhirnya.

Pada akhirnya, bangsa yang percaya diri tidak selalu mencari pembenaran dengan melihat halaman tetangga.

Bangsa yang percaya diri berani berkaca pada halamannya sendiri, melihat persoalan yang ada dengan jujur, lalu menjelaskan kepada rakyat bagaimana persoalan itu akan diselesaikan.

Karena yang ingin didengar masyarakat bukanlah orang lain membayar lebih mahal. Yang ingin mereka dengar adalah negara memahami beban mereka, memiliki arah yang jelas, dan mampu menunjukkan bahwa setiap rupiah yang dikorbankan hari ini akan kembali dalam bentuk kesejahteraan yang lebih baik di masa depan.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang

#harga-pertamax-naik #kenaikan-pertamax

https://money.kompas.com/read/2026/06/15/063000926/pertamax-naik--mengapa-selalu-membandingkan-harga-negara-tetangga-