Bank Sentral Jepang Kerek Suku Bunga Jadi 1%, Tertinggi Sejak 1995!

Bank Sentral Jepang Kerek Suku Bunga Jadi 1%, Tertinggi Sejak 1995!

Bank of Japan menaikkan suku bunga acuan ke 1%, tertinggi sejak 1995, untuk mendukung ekonomi yang pulih meski ada risiko inflasi akibat harga minyak.

(Bisnis.Com) 17/06/26 13:30 252027

Bisnis.com, JAKARTA — Bank sentral Jepang atau Bank of Japan menaikkan suku bunga acuan ke 1% pada pertemuan kebijakan moneter, Selasa (16/6/2026).

Berdasarkan risalah Rapat Kebijakan Moneter, Bank Sentral Jepang memutuskan dengan suara mayoritas 7-1 untuk menaikkan suku bunga acuan. Level ini merupakan yang tertinggi sejak September 1995 atau dalam kurun waktu 31 tahun.

"Bank Sentral akan mendorong suku bunga pinjaman antar semalam tanpa jaminan untuk tetap berada di sekitar 1,0%," demikian dikutip dari risalah rapat, Rabu (17/6/2026).

Sejalan dengan suku bunga acuan sebesar 1%, otoritas moneter juga menetapkan suku bunga deposito (deposit facility) sebesar 1% dan suku bunga pinjaman (loan rate) 1,25%.

Dalam asesmen bank sentral, perekonomian Jepang sudah pulih secara secara moderat meski terlihat sejumlah kelemahan akibat dampak perang di Timur Tengah.

Harga minyak yang naik diakui berdampak ke kegiatan ekonomi. Namun, kondisi tersebut masih ditopang oleh keuntungan korporasi yang tinggi ddan pemulihan pada situasi ketenagakerjaan dan pendapatan.

Bank of Japan menilai risiko pelambatan ekonomi sudah cukup berkurang sejak beberapa waktu lalu. Hal ini utamanya didukung oleh berbagai langkah kebijakan pemerintah untuk meringankan beban rumah tangan akibat harga energi yang naik.

Kemajuan juga telah dibuat untuk mengamankan sumber data alternatif untuk suplai bahan baku yang sangat bergantung kepada Timur Tengah

"Atas kondisi ini, perekonomian Jepang sudah berkembang secara umum sejalan dengan skenario dasar, yang mana diperkirakan ekonomi bakal terus tumbuh secara moderat meski dengan laju yang melambat," bunyi keputusan bank sentral.

Dari sisi inflasi, Bank of Japan mencatta bahwa inflasi tahunan untuk seluruh barang kecuali makanan segar masih berada di bawah 2% (yoy) berkat bantuan dari pemerintah.

Akan tetapi, risiko dampak rambatan kenaikan harga minyak mentah terhadap transaksi usaha meningkat dalam waktu cepat. Akibatnya, ini bisa memicu peningkatan inflasi pada seluruh barang.

"Atas kondisi ini, ekspektasi inflasi jangka menengah ke panjang juga berlanjut meningkat. Ada risiko inflasi mengalami deviasi ke level atas target stabilitas harga yakni 2%," terang bank sentral Jepang.

Dengan kondisi ekonomi dan inflasi tersebut, pihak bank sentral menilai perlunya penyesuaian kebijakan moneter dari perspektif pencapaian target inflasi 2%. Dengan perubahan kebijakan moneter ini, diprakirakan kondisi keuangan bakal bertahan untuk mendukung aktivitas ekonomi.

Ke depan, sebagai antisipasi terhadap inflasi dan kondisi keuangan yang akomodatif, Bank of Japan menyatakan bakal terus menaikkan suku bunga kebijakan dan menyesuaikan tingkat akomodasi moneter sebagai respons terhadap perkembangan aktivitas ekonomi, stabilitas harga dan kondisi keuangan.

"Dalam hal ini, Bank Sentral akan mempertimbangkan waktu dan kecepatan penyesuaian, sambil memantau secara cermat dampak perkembangan situasi di Timur Tengah di masa mendatang terhadap aktivitas ekonomi dan harga di Jepang, serta memeriksa kemungkinan terwujudnya skenario dasar prospek aktivitas ekonomi dan harga dan risiko terhadap prospek tersebut," bunyi risalah Bank of Japan.

#bank-sentral-jepang #suku-bunga-jepang #bank-of-japan #kenaikan-suku-bunga #suku-bunga-acuan #kebijakan-moneter-jepang #ekonomi-jepang #inflasi-jepang #risiko-ekonomi-jepang #harga-minyak-jepang #damp

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260617/620/1981330/bank-sentral-jepang-kerek-suku-bunga-jadi-1-tertinggi-sejak-1995