Survei Kompas: 59,9 Persen Warga Tak Siap Hadapi Ekonomi yang Memburuk
Survei Litbang Kompas Q2 2026 menunjukkan ekonomi Indonesia memburuk. Pendapatan turun, harga naik, dan mayoritas responden khawatir tak punya dana darurat.
(Kompas.com) 17/06/26 19:41 252548
JAKARTA, KOMPAS.com - Masyarakat Indonesia dinilai menghadapi kondisi ekonomi yang memburuk pada kuartal II-2026 ini.
Hal tersebut tergambar dalam temuan Survei Litbang Kompas terkait Kondisi Ekonomi yang dilakukan pada April lalu.
Survei ini menunjukkan responden menilai ekonomi Indonesia saat ini berada di dalam kondisi buruk dengan persentase 47,3 persen pada April 2026.
SHUTTERSTOCK/TIPPAPATT Ilustrasi ekonomi, perekonomian.Bahkan sebanyak 8,9 persen responden mengkategorikan kondisi ekonomi saat ini sangat buruk.
Sedangkan sebanyak 37,5 persen responden menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini dinilai baik.
Hal tersebut juga tergambar dalam tingkat pendapatan masyarakat yang urung mengalami peningkatan.
Sebanyak 39,7 persen responden mengaku tidak mengalami peningkatan pendapatan.
Di sisi lain, sebanyak 30,5 persen responden justru mengaku pendapatan turun karena iklim usaha yang melambat.
Sekurang-kurangnya, hanya terdapat 5,9 persen responden yang mengaku mengalami peningkatan gaji atau upah.
Sebanyak 6,4 persen responden mengaku mengalami peningkatan pendapatan karena pendapatan usahanya bertambah.
Kondisi ekonomi dinilai memburuk dari awal tahun
SHUTTERSTOCK Ilustrasi ekonomi Indonesia.Peneliti Litbang Kompas Budiawan Sidik A. mengatakan, sekitar 56 persen responden menilai kondisi perekonomian bangsa saat ini sedang buruk.
"Bahkan, jika disandingkan dengan survei serupa pada awal tahun ini, kondisinya justru kian memburuk," kata dia.
Ia menjelaskan, pada survei serupa pada Januari 2026, responden yang menilai kondisi buruk itu masih di kisaran 46 persen.
Kendati demikian, tiga bulan berselang, jumlah responden yang merasakan situasi tersebut melonjak sekitar 10 persen.
Budiawan bilang, terdapat sejumlah indikator yang menggambarkan situasi saat ini memang tidak sebaik awal tahun.
Indikasinya terlihat dari pengakuan responden yang menyatakan adanya perubahan tingkat pendapatan yang mereka peroleh.
Pada survei Januari 2026, jumlah responden yang menyatakan penghasilannya menurun ada sekitar 25 persen.
Jumlah itu terdiri dari 2,4 persen penurunan pendapatan karena terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dan 23,2 persen lainnya karena usaha yang melambat.
Pada survei April lalu, jumlah masyarakat yang menyatakan penghasilannya susut melonjak menjadi 32,5 persen.
Secara perinci, hampir 2 persen karena terkena PHK dan 30-an persen lainnya karena usaha lesu.
"Hal ini mengindikasikan kondisi perekonomian relatif melambat sehingga turut berdampak pada usaha-usaha yang dilakukan masyarakat secara luas," ungkap dia.
Freepik/jcomp Ilustrasi BBM. Kebijakan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax memicu reaksi beragam dari masyarakat di tingkat daerah.Kenaikan harga tiket pesawat dan BBM non subsidi
Seorang karyawan swasta bernama Jenny (25) menganggap situasi ekonomi Indonesia saat ini bisa disebut buruk.
Pasalnya, kenaikan harga bensin subsidi terutama Pertamax membuat sedikit panik.
"Kan berdampak ke pembelian BBM harian, terus harga-harga lainnya juga nanti takutnya naik," kata dia Kompas.com, Rabu (17/6/2026).
Padahal ia bercerita, awal mula berpindah menggunakan Pertamax karena merasa kondisi ekonomi pribadi mulai membaik dan ingin mengurangi beban negara.
Kendati demikian, kenaikan harga kali ini justru terasa membebani pengeluaran bulanannya.
Sebagai seorang perantau, kondisi ekonomi saat ini juga dirasa kian buruk dilihat dari harga tiket pesawat yang semakin tinggi.
"Harga tiket pesawat sampai dua kali lipat, jadi kalau mau pulang kampung berpikir 10 kali, kalau mau healing juga jadi ngerem karena (harga tiket) tidak masuk akal," ucap dia.
Sementara itu, seorang pegawai swasta bernama Amara (25) menceritakan, kondisi ekonomi memang terlihat lebih sulit dibandingkan dengan tahun lalu.
"Keliatannya lebih susah, tidak yang buruk banget dampaknya ke aku," ucap dia.
Kendati demikian, ia mengungkapkan, kondisi ekonomi saat ini memang terasa lebih memburuk dibandingkan awal tahun.
Tak punya tabungan dan dana darurat
Survei Litbang Kompas terkait Kondisi Ekonomi tersebut juga menunjukkan sebanyak 59,9 persen responden mengaku belum siap jika menghadapi kondisi ekonomi yang memburuk di sisa 2026 ini.
SHUTTERSTOCK/BANGOLAND Ilustrasi dana darurat.Jumlah tersebut tidak siap karena tidak memiliki tabungan atau dana darurat.
Hanya sejumlah 37,1 persen nasabah yang mengaku siap menghadapi kondisi ekonomi yang memburuk karena memiliki tabungan dan dana darurat.
Secara lebih perinci, sebanyak 47,7 persen responden mengaku saat ini kondisi ekonomi keluarga berada di kondisi yang tidak menentu (unsettled).
Lalu, sebanyak 28,1 persen responden mengaku memiliki kondisi ekonomi keluarga yang terkendali (calm).
Dari jumlah responden tersebut hanya sebanyak 14,6 persen yang mengaku memiliki keluarga dengan kondisi ekonomi yang kokok terjaga (stable).
Faktor mentalitas jadi pertimbangan
Jenny bilang, potensi kondisi ekonomi yang memburuk di sisa 2026 ini adalah hal yang tidak bisa dihindari.
Untuk itu, bagaimana pun kondisinya, ia hanya bisa mempersiapkan diri.
"Tabungan memang ada, tetapi selain faktor finansial, faktor mental ketika baca berita dan perbicaraan antar rekan kerja buat jadi stress," imbuh dia.
Jenny bilang, untuk mengantisipasi situasi ekonomi yang memburuk, ada hal yang perlu dibatasi seperti memanjakan diri sendiri.
Ia juga mencari lebih banyak pekerjaan sampingan untuk dapat meningkatkan pemasukan meski itu menyita waktu lebih banyak.
"Ya bekerja lebih keras," ucap dia.
Jenny bilang, salah satu hal yang paling dikhawatirkan saat ini adalah kesulitan untuk mengembangkan karier di luar industri yang sedang ia tekuni hari ini.
Selain itu, kenaikan harga kebutuhan pokok juga menjadi hal yang paling diharapkan tidak terjadi.
KOMPAS.com/AZWA SAFRINA Para pedagang bahan-bahan pokok yang mengeluhkan kenaikan harga sejak Lebaran Idul Adha imbas rupiah melemah, Jumat (5/6/2026)."Ya berarti kan pengeluaran sehari-hari jadi lebih banyak, sedangkan gaji tidak naik juga karena kondisi masih sulit sekarang, kantor juga enggak gampang naikin gaji," ucap dia.
Sementara itu, untuk menanggulangi kondisi ekonomi semakin memburuk, Amara mengaku mulai belajar untuk membuat tabungan berjangka dan deposito.
"Uang di bank memang kaya dikit tapi merasa punya simpanan," ucap dia.
Kenaikan bahan pokok buat masyarakat khawatir
Survei Litbang Kompas terkait Ekonomi melaporkan, sebanyak 39,1 persen responden mengaku kenaikan bahan pokok menjadi kekhawatiran utama hingga akhir tahun nanti.
Kemudian, sebanyak 12,9 persen responden juga khawatir terjadi penurunan pada pendapatan usaha dan gaji.
Sedangkan, 10 persen responden mengatakan khawatir kehilangan atau kesulitan mendapatkan pekerjaan dengan akhir tahun nanti.
Pasalnya, sebanyak 61,8 persen responden mengaku saat ini menjadi periode yang sulit untuk mencari kerja di sekitar tempat tinggalnya.
Bahkan 16,1 persen responden mengaku sangat sulit mendapatkan pekerjaan di sekitar tempat tinggalnya saat ini.
Jenny memang tengah berupaya membuka peluang baru memang tengah mencari kantor baru.
Ia bilang, di tengah situasi seperti ini masih banyak pekerja yang berpindah kantor terutama setelah libur Lebaran kemarin.
KOMPAS.com/Omarali Dharmakrisna Soedirman Jakarta Job Fair kembali digelar pada 19-20 Mei di Gelanggang Remaja Jakarta Utara, Selasa (19/5/2026)Di sisi lain, ia juga menyadari banyak calon pekerja yang masih kesulitan untuk menemukan pekerjaan, terlebih di situasi ekonomi seperti ini.
"Ya sulit dan tidak sih, karena masih lihat juga orang-orang punya kerjaan baru dan kariernya masih berkembang," ungkap dia.
Sementara itu, Amara mengamati, saat ini upaya orang untuk mencari kerja menjadi semakin berat.
"Lihat dari orang sekitar, kalau dilihat teman ada yang belum dapet (pekerjaan). Bahkan aku juga sempat menganggur lama sebelum dapat pekerjaan ini, waktu 2024-2025 itu menganggur," ucap dia.
Amara sendiri khawatir ketika ekonomi menjadi lebih buruk akan muncul Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
"Apalagi masih karyawan kontrak masih, belum tetap, ada was-was sendiri," ucap dia.
Generasi Z lebih optimistis terhadap pasar kerja
Pandangan berbeda disampaikan Adel Trisca (22) yang juga seorang mahasiswa mengaku tetap optimistis karena peluang kerja masih terbuka luas.
Namun, ia menilai generasi muda harus terus meningkatkan keterampilan agar mampu bersaing.
"Saya cukup optimistis, tetapi tetap realistis. Peluang kerja memang banyak dan beragam, sehingga saya merasa perlu terus mengembangkan keterampilan," ujar Adel.
Adel menambahkan, selain mencari pekerjaan formal, anak muda saat ini juga perlu memiliki alternatif lain seperti berwirausaha atau membangun usaha sendiri.
Meskipun demikian, Adel juga mengaku terkadang melakukan pengeluaran untuk kebutuhan di luar rencana, tetapi tetap berusaha menjaga tabungan dan tujuan keuangan jangka panjang.
Sebagai informasi, metode penelitian ini dilakukan dengan survei melalui wawancara tatap muka yang dilakukan Litbang Kompas pada 16-22 April 2026.
Sebanyak 1.200 responden dipilih secara acak menggunakan metode pencuplikan sistematis bertingkat di 38 provinsi Indonesia. Adapun tingkat kepercayaan 95 persen.
Margin of error penelitian kurang lebih 2,83 persen dalam kondisi penarikan sampel acak sederhana.
Meskipun demikian, kesalahan di luar pemilihan sampel dimungkinkan terjadi.
Survei ini dibiayai sepenuhnya oleh Harian Kompas (PT Kompas Media Nusantara).
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#survei-litbang-kompas #pendapatan-turun #kondisi-ekonomi-memburuk #kenaikan-harga