Outflow Asing Capai 4,5 Triliun, Ritel Cermati Sentimen Kunci MSCI Pekan Ini
IHSG berada di zona hijau di awal perdagangan Senin (22/6/2026).
(Kompas.com) 22/06/26 09:41 255900
JAKARTA, KOMPAS.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di zona hijau di awal perdagangan Senin (22/6/2026). Per pukul 09.26 WIB indeks naik 32,122 poin atau 0,52 persen ke level 6.209,262.
Pada perdagangan Jumat (19/6/2026), IHSG berada di area 6.177 atau naik 2,82 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Meski demikian, di tengah penguatan tersebut, investor asing masih membukukan aksi jual bersih (outflow) sebesar Rp 4,5 triliun di pasar reguler.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, mengatakan pergerakan positif IHSG selama sepekan terakhir didorong oleh sentimen global dan domestik. Dari sisi global, pasar merespons keputusan Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) yang kembali menahan suku bunga acuan.
Menurutnya, keputusan The Fed mempertahankan suku bunga di level tertinggi dalam dua dekade terakhir bukan lagi sekadar mencerminkan sikap hati-hati, melainkan menunjukkan bahwa inflasi masih sulit dikendalikan.
“Kebijakan menahan ini bukan lagi cerminan dari strategi yang penuh kehati-hatian, melainkan sebuah pengakuan tersirat bahwa inflasi jauh lebih bebal dan sulit ditaklukkan daripada yang mereka perkirakan semula,” ujar David lewat keterangan pers, Senin pagi.
Bagi negara-negara berkembang (emerging markets), narasi higher for longer atau suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama menjadi tantangan yang dihadapi tanpa kepastian kapan dampaknya akan berakhir.
Dari dalam negeri, sentimen datang dari keputusan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate menjadi 5,75 persen. Kenaikan itu melampaui ekspektasi dan proyeksi konsensus pasar.
David menilai langkah agresif dan pre-emptive yang diambil BI memicu penyesuaian harga secara instan (repricing) di pasar keuangan domestik, terutama pada instrumen saham dan obligasi.
Kebijakan moneter yang lebih ketat mengindikasikan adanya peningkatan risiko terhadap stabilitas makroekonomi global serta tekanan pada nilai tukar rupiah yang lebih besar dibandingkan perkiraan sebelumnya.
“Melalui langkah ini, otoritas moneter memprioritaskan stabilitas eksternal dan pengendalian inflasi, meskipun harus memitigasi risiko perlambatan pada momentum pertumbuhan ekonomi domestik dalam jangka pendek,” paparnya.
Memasuki periode perdagangan 22-26 Juni 2026, IPOT mengimbau investor dan trader untuk mencermati sentimen utama yang berkaitan dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Pasar sempat mengalami tekanan tinggi setelah MSCI merilis laporan Global Market Accessibility Review yang menurunkan status indikator Information Flow Indonesia dari positif menjadi negatif.
Penurunan tersebut dipicu oleh catatan terkait transparansi struktur kepemilikan saham (free float) dan indikasi aktivitas perdagangan terkoordinasi (coordinated trading).
“Skenario terburuk mengenai potensi penurunan kasta (downgrade) menjadi Frontier Market sempat membayangi bursa. Namun, mayoritas dari 18 kriteria aksesibilitas lainnya yang tetap terjaga memberikan fondasi bagi pasar untuk merawat optimisme aset-aset berisiko, termasuk pasar saham Indonesia yang memperoleh sentimen positif,” tukar David.
Merespons dinamika pasar tersebut, IPOT merekomendasikan sejumlah saham yang dinilai menarik untuk diperdagangkan pada pekan ini, diantaranya;
PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dengan strategi buy on breakout. Saat ini saham berada di level 16.625 dengan area masuk di 17.475. Target harga berada di level 19.000 atau berpotensi naik 8,73 persen, dengan batas kerugian (stop loss) di level 16.600. Rasio risiko dan imbal hasil (risk to reward ratio) tercatat sebesar 1:1,7.
Menurut IPOT, saham GGRM kembali bergerak di atas MA5 dan MA20 serta berpotensi menembus area konsolidasi dalam jangka pendek.
PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) dengan strategi buy on breakout. Saham MAPI berada di level 1.510 dengan area masuk di 1.520. Target harga ditetapkan di level 1.630 atau berpotensi naik 7,24 persen, sementara stop loss berada di level 1.470 dengan risk to reward ratio sebesar 1:2,2.
IPOT menilai MAPI konsisten bertahan di atas MA5 dan didukung pergerakan harga (price action) yang berpotensi melanjutkan kenaikan.
PT Darma Henwa Tbk (DEWA) direkomendasikan dengan strategi buy on pullback. Saham ini berada di level 368 dengan area masuk pada kisaran 358-362. Target harga dipatok di level 400 atau berpotensi naik 11,73 persen, sedangkan stop loss berada di level 340. Rasio risiko dan imbal hasil saham ini mencapai 1:2,3.
Saham DEWA masih bertahan di atas MA5 dalam jangka pendek dan indikator MACD menunjukkan kecenderungan bullish.
Selain saham, IPOT juga merekomendasikan obligasi PBS038.
Dengan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun Indonesia yang berada di kisaran 7,07 persen, PBS038 dinilai menarik karena menawarkan kupon sebesar 6,87 persen per tahun dengan yield mencapai 7,17 persen.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang