Jelang Putusan MSCI, Dana Asing Kabur Rp 82,77 Triliun, Ke Mana Arah IHSG Pekan Ini?

Jelang Putusan MSCI, Dana Asing Kabur Rp 82,77 Triliun, Ke Mana Arah IHSG Pekan Ini?

IHSG diproyeksikan volatil jelang pengumuman MSCI Annual Review 24 Juni 2026.

(Kompas.com) 23/06/26 10:38 257054

JAKARTA, KOMPAS.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepekan ini diperkirakan masih dibayangi volatilitas menjelang pengumuman MSCI Annual Market Classification Review yang dirilis Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada 24 Juni 2026 waktu Indonesia.

Di tengah aksi jual investor asing yang telah mencapai Rp 82,77 triliun secara year to date (ytd), pelaku pasar masih menanti kejelasan sikap MSCI terkait status pembekuan (freeze) indeks Indonesia yang dinilai menjadi penentu arah pasar saham domestik dalam jangka pendek.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, mengatakan IHSG masih berada dalam fase koreksi yang tergolong wajar setelah membentuk pola bearish outside bar.

Secara teknikal, indeks masih bergerak dalam pola wave (b) yang umumnya bagian dari fase konsolidasi sebelum menentukan arah pergerakan berikutnya.

Meski demikian, indikator Stochastics K_D dan Relative Strength Index (RSI) mulai menunjukkan sinyal positif yang mengindikasikan potensi perbaikan momentum pasar.

Hanya saja, sinyal tersebut belum sepenuhnya kuat karena belum didukung oleh peningkatan volume transaksi, yang justru cenderung menurun.

“Pergerakan IHSG diproyeksikan masih dalam koreksi wajar selama berada di “wave (b)” setelah membentuk pola bearish outside bar. Berdasarkan indicator, Stochastics K_D dan RSI menunjukkan sinyal positif, namun volume mengalami penurunan,” ujar Nafan, Selasa (23/6/2926).

Di tengah ketidakpastian pasar saham, investor asing juga masih membukukan aksi jual bersih atau net sell. Pada perdagangan Senin (22/6/2026), net foreign sell menyentuh Rp 1,11 triliun.

Sementara secara akumulatif sejak awal tahun, dana asing yang keluar dari pasar saham tanah air telah mencapai Rp 82,77 triliun.

Besarnya arus modal keluar tersebut turut menekan kinerja IHSG yang hingga saat ini masih terkoreksi 29,26 persen secara year to date.

Adapun, fokus utama investor tertuju pada hasil MSCI Annual Market Classification Review yang akan diumumkan Selasa dini hari waktu Indonesia.

Dampaknya diperkirakan cukup signifikan bagi IHSG sepekan ini, mengingat pelaku pasar masih menunggu kejelasan terkait status freeze yang diberlakukan MSCI terhadap sejumlah saham Indonesia.

“Seperti yang analis senior sampaikan sebelumnya, adapun pengumuman MSCI Annual Market Classification Review pada 24 Juni 2026 waktu Indonesia akan menjadi sentimen utama yang sangat krusial bagi pergerakan IHSG pekan ini,” paparnya.

“Efeknya diproyeksikan akan sangat signifikan, mengingat pelaku pasar sedang mencermati kejelasan status freeze (pembekuan) pada indeks Indonesia,” pungkas dia.

Sebelumnya, MSCI dalam Global Market Accessibility Review yang dirilis pada 19 Juni 2026 menurunkan penilaian Indonesia pada kriteria Information Flow dari “+” menjadi “-”.

Penurunan tersebut dipicu oleh kekhawatiran terhadap transparansi struktur kepemilikan saham atau free float, keterbatasan informasi berbahasa Inggris, serta indikasi coordinated trading behavior.

Nafan menilai apabila MSCI tetap mempertahankan Indonesia sebagai Emerging Market dan tidak memberikan sinyal penurunan status menjadi Frontier Market, maka respons pasar cenderung netral karena skenario terburuk yang selama ini dikhawatirkan investor tidak terjadi.

Namun, apabila MSCI memberikan sinyal positif terkait peluang pencabutan freeze di masa mendatang seiring peningkatan transparansi pasar modal, kondisi tersebut berpotensi menjadi katalis bagi masuknya kembali dana asing ke pasar saham domestik.

“Namun apabila terdapat kejelasan positif dari MSCI mengenai peluang pencabutan freeze di masa mendatang seiring komitmen transparansi data emiten, hal ini dapat memicu pembalikan capital inflow,” lanjut Nafan.

Selain sentimen MSCI, pasar juga mencermati perkembangan global, khususnya dinamika geopolitik Timur Tengah dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS).

Situasi Timur Tengah yang sempat membaik setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani nota kesepahaman dengan Iran dalam rangkaian KTT G7 di Prancis kembali memanas setelah pecahnya bentrokan baru antara Israel dan Hizbullah di Lebanon.

Di sisi lain, Bank of America (BofA) memperkirakan Federal Reserve masih akan menaikkan suku bunga acuan sebanyak tiga kali masing-masing sebesar 25 basis poin pada September, Oktober, dan Desember 2026.

Dengan skenario tersebut, Fed Fund Rate diproyeksikan naik ke kisaran 4,25 persen hingga 4,50 persen pada akhir tahun ini dan berpotensi dipertahankan hingga sepanjang 2027.

Prospek suku bunga tinggi yang lebih lama dipandang dapat menjadi tantangan bagi aliran modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, karena investor global cenderung mempertahankan aset berbasis dollar AS yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

Dalam kondisi tersebut, Nafan merekomendasikan investor untuk melakukan akumulasi secara selektif pada saham-saham yang memiliki fundamental kuat, valuasi murah, serta mulai menunjukkan indikasi pembalikan tren.

Ia juga mengingatkan pentingnya penerapan manajemen risiko yang disiplin saat tingginya ketidakpastian pasar menjelang keputusan MSCI.

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#aksi-jual-asing #ihsg-volatilitas #msci-annual-review #kebijakan-moneter-as

https://money.kompas.com/read/2026/06/23/103849126/jelang-putusan-msci-dana-asing-kabur-rp-8277-triliun-ke-mana-arah-ihsg-pekan