Dari "Walk Out" ke "Roadmap", Mengapa Harga Minyak Berubah?

Dari "Walk Out" ke "Roadmap", Mengapa Harga Minyak Berubah?

Di era ekonomi global, yang diperdagangkan bukan hanya barel minyak, melainkan persepsi, ekspektasi, dan keyakinan perdamaian mungkin diwujudkan.

(Kompas.com) 24/06/26 07:09 257967

DUNIA kembali diingatkan bahwa harga minyak tidak hanya ditentukan oleh sumur-sumur minyak, tetapi juga oleh meja perundingan.

Beberapa saat lalu, pasar energi global bergejolak ketika Iran memilih walk out dari perundingan dengan Amerika Serikat di Swiss setelah memanasnya perbedaan sikap kedua negara.

Harga minyak dunia pun melonjak hingga mendekati 81 dolar AS per barel. Namun, hanya berselang singkat, arah pasar berbalik.

Ketika Washington dan Teheran kemudian menyepakati sebuah roadmap perundingan selama 60 hari, harga minyak kembali melemah.

Tidak ada ladang minyak baru yang ditemukan. Tidak ada pula produksi minyak yang tiba-tiba meningkat. Yang berubah hanyalah suasana diplomasi.

Mengapa perubahan sikap para diplomat mampu menggerakkan harga minyak dunia dalam hitungan jam?

Pasar Membeli Masa Depan

Di sinilah ekonomi modern bekerja dengan cara yang berbeda dari yang dibayangkan banyak orang. Jika teori klasik Alfred Marshall menjelaskan harga melalui keseimbangan penawaran dan permintaan, pasar global saat ini bergerak jauh sebelum keseimbangan itu benar-benar berubah. Yang diperdagangkan bukan hanya minyak, melainkan juga ekspektasi.

Konsep Expectation Theory yang dikembangkan John F. Muth dan kemudian diperkaya Robert Lucas menjelaskan bahwa pelaku ekonomi mengambil keputusan berdasarkan perkiraan mengenai masa depan.

Ketika Iran meninggalkan meja perundingan, pasar segera membaca peluang konflik semakin besar. Ancaman terhadap distribusi minyak dianggap meningkat sehingga harga langsung melonjak.

Sebaliknya, ketika kedua negara kembali menyepakati peta jalan perundingan selama 60 hari, ekspektasi berubah.

Peluang terciptanya stabilitas kembali terbuka sehingga harga minyak pun turun. Pasar ternyata lebih dahulu memperdagangkan harapan daripada kenyataan.

Perubahan ekspektasi itu kemudian diterjemahkan pasar menjadi perubahan harga melalui apa yang dikenal sebagai risk premium.

Harry Markowitz dan William Sharpe menjelaskan, semakin besar ketidakpastian, semakin tinggi kompensasi risiko yang diminta investor.

Selama Iran walk out, kekhawatiran terhadap keamanan Selat Hormuz kembali meningkat.

Jalur sempit ini menjadi urat nadi sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.

Ancaman sekecil apa pun terhadap kawasan tersebut segera diterjemahkan menjadi kenaikan biaya pengiriman, premi asuransi kapal, dan potensi gangguan logistik. Semua risiko itu akhirnya tercermin dalam harga minyak.

Namun ketika dialog kembali dibuka melalui roadmap 60 hari, premi risiko mulai menyusut.

Risiko yang sebelumnya dihargai mahal oleh pasar perlahan dilepaskan. Harga minyak pun ikut terkoreksi. Yang berubah bukan jumlah minyak, melainkan harga dari rasa cemas.

Fenomena tersebut juga memperlihatkan bahwa pasar tidak selalu bergerak secara rasional.

Daniel Kahneman dan Amos Tversky melalui Prospect Theory menunjukkan bahwa manusia bereaksi lebih cepat terhadap ancaman kerugian daripada peluang keuntungan.

Ketika berita walk out menyebar, investor berbondong-bondong membeli minyak, emas, dan aset aman.

Mereka belum mengetahui apakah konflik benar-benar akan membesar, tetapi rasa takut sudah cukup untuk mendorong transaksi besar-besaran.

Sebaliknya, ketika muncul kabar adanya kesepakatan menuju perundingan lanjutan, rasa takut perlahan digantikan optimisme. Pasar kembali melakukan penyesuaian.

Artinya, harga minyak bukan hanya cermin kondisi ekonomi, melainkan juga cermin psikologi kolektif pelaku pasar.

Diplomasi Menjadi Variabel Ekonomi

Seluruh dinamika tersebut memperlihatkan semakin relevannya konsep Geopolitical Risk yang dikembangkan Dario Caldara dan Matteo Iacoviello.

Dalam ekonomi global, diplomasi kini memiliki nilai ekonomi yang sangat nyata.

Keberhasilan atau kegagalan sebuah perundingan dapat memengaruhi harga energi, inflasi, nilai tukar, suku bunga, hingga biaya hidup masyarakat di berbagai negara.

Dengan kata lain, ruang diplomasi kini menjadi bagian dari mekanisme pasar.

Peristiwa Iran menjadi contoh nyata bahwa satu keputusan politik dapat mengubah persepsi jutaan pelaku pasar di seluruh dunia hanya dalam hitungan jam.

Bagi Indonesia, pelajaran yang paling penting bukan sekadar naik atau turunnya harga minyak, melainkan bagaimana membangun ketahanan menghadapi gejolak global.

Sebagai negara yang masih bergantung pada impor minyak, perubahan sentimen di Timur Tengah dengan cepat menjalar ke biaya transportasi, harga pangan, logistik, inflasi, hingga daya beli masyarakat.

Karena itu, memperkuat cadangan energi strategis, mempercepat diversifikasi menuju bioenergi, gas alam, panas bumi, dan energi terbarukan, serta membangun sistem early warning terhadap risiko geopolitik menjadi semakin mendesak.

Indonesia tidak mungkin mengendalikan konflik dunia, tetapi dapat mengurangi dampaknya terhadap perekonomian nasional.

Perjalanan dari Iran walk out menuju roadmap perundingan 60 hari menunjukkan bahwa harga minyak sesungguhnya mengikuti arah kepercayaan.

Ketika dialog terputus, pasar segera menghitung risiko dan harga melonjak. Ketika komunikasi kembali dibangun, harapan tumbuh dan harga pun turun.

Di era ekonomi global, yang diperdagangkan bukan hanya barel minyak, melainkan juga persepsi, ekspektasi, dan keyakinan bahwa perdamaian masih mungkin diwujudkan.

Karena itu, negara yang ingin menjaga stabilitas ekonominya tidak cukup hanya membangun kilang, memperbesar cadangan energi, atau meningkatkan produksi.

]Yang tidak kalah penting adalah kemampuan membaca dinamika geopolitik dan menjadikan diplomasi sebagai bagian dari strategi ekonomi nasional.

Pada akhirnya, harga minyak tidak lagi hanya ditentukan oleh kedalaman sumur minyak, tetapi juga oleh kedalaman kepercayaan dunia terhadap masa depan yang lebih damai.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang

#harga-minyak #as-iran-damai #perdamaian-as-iran

https://money.kompas.com/read/2026/06/24/070900526/dari-walk-out-ke-roadmap-mengapa-harga-minyak-berubah-