Selat Hormuz Kembali Ramai, Harga Minyak Jatuh ke 70 Dollar AS

Selat Hormuz Kembali Ramai, Harga Minyak Jatuh ke 70 Dollar AS

Harga minyak dunia turun lebih dari 4 persen setelah pasokan dari Selat Hormuz kembali mengalir dan memicu kekhawatiran kelebihan suplai.

(Kompas.com) 25/06/26 08:35 259165

KOMPAS.com – Kekhawatiran pasar terhadap krisis pasokan minyak dari Timur Tengah mulai mereda. Setelah berbulan-bulan terganggu akibat konflik, arus ekspor energi melalui Selat Hormuz kembali meningkat dan memicu penurunan harga minyak dunia lebih dari 4 persen.

Meningkatnya pasokan dari kawasan Teluk membuat pelaku pasar kembali menghadapi risiko kelebihan suplai.

Perubahan sentimen tersebut menekan harga minyak ke level terendah dalam hampir empat bulan sekaligus menghapus sebagian premi risiko geopolitik yang sebelumnya membayangi pasar energi global.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent turun 3,34 dollar AS atau 4,3 persen menjadi 73,74 dollar AS per barrel pada perdagangan Rabu (24/6/2026) waktu setempat.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 2,87 dollar AS atau 3,9 persen menjadi 70,34 dollar AS per barrel.

Harga minyak Brent bahkan sempat menyentuh 73,12 dollar AS per barrel, level terendah sejak 27 Februari 2026 atau sehari sebelum konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran pecah.

Adapun harga minyak WTI sempat turun di bawah 70 dollar AS per barrel untuk pertama kalinya sejak awal Maret.

35 Juta Barrel Kembali Mengalir dari Selat Hormuz

Penurunan harga terjadi seiring membaiknya arus pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi penghubung utama ekspor minyak dari negara-negara Teluk ke pasar global.

Data perusahaan pelacak perdagangan global Kpler menunjukkan, sedikitnya 20 kapal tanker yang mengangkut sekitar 35 juta barrel minyak telah keluar dari Teluk Persia melalui Selat Hormuz.

Pergerakan tersebut terjadi setelah kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran untuk membuka kembali jalur pelayaran itu mulai diberlakukan.

Menurut Kpler, kapal-kapal tersebut bukan berasal dari Iran dan sebelumnya tertahan selama lebih dari tiga bulan setelah penutupan efektif Selat Hormuz pada awal konflik.

Secara keseluruhan, volume pengiriman minyak yang telah terkonfirmasi melalui Selat Hormuz meningkat menjadi sekitar 4,8 juta barrel per hari.

Angka itu menjadi yang tertinggi sejak konflik dimulai pada akhir Februari, meski masih jauh di bawah tingkat sebelum perang yang mencapai sekitar 15 juta barrel per hari.

Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz kini hampir kembali ke tingkat sebelum perang. Ia menyebut kapal-kapal tanker mulai dapat meninggalkan kawasan tersebut dengan pengawalan militer.

"Dalam 24 jam terakhir, sekitar 20 juta barrel minyak mentah telah keluar dari Selat Hormuz," kata Wright dalam Reuters Global Energy Forum di New York.

Shutterstock/Ded Pixto Harga minyak mentah dunia.

Wright menambahkan proses normalisasi pelayaran sempat tertunda akibat keberadaan ranjau yang dipasang Iran di kawasan perairan selat. Namun, menurut dia, Iran tidak akan memiliki kemampuan untuk memblokade Selat Hormuz pada masa mendatang.

Di sisi lain, Oman menyatakan akan tetap menjaga Selat Hormuz terbuka bagi pelayaran internasional. Negara tersebut juga menetapkan dua jalur sementara di utara dan selatan rute utama guna memperlancar pergerakan kapal keluar dari kawasan Teluk.

Pasar Mulai Dibanjiri Pasokan

Pulihnya aktivitas ekspor dari Timur Tengah mulai mengubah kondisi pasar minyak fisik di berbagai wilayah dunia.

Laporan Bloomberg menyebut pasar minyak di Asia dan Eropa kini menghadapi peningkatan pasokan setelah semakin banyak kargo yang keluar dari kawasan Teluk.

Bahkan sebelum kesepakatan AS-Iran tercapai, sejumlah negara produsen telah meningkatkan pengiriman minyak untuk mengantisipasi gangguan pasokan.

Salah satu indikasinya terlihat pada minyak mentah Angola yang diperdagangkan dengan diskon terbesar dalam lebih dari satu dekade. Dalam sejumlah transaksi, harganya tercatat hampir 10 dollar AS per barrel di bawah patokan global Dated Brent.

Para pedagang juga melaporkan sejumlah kilang di China mulai menawarkan kembali kargo minyak ke pasar. Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan pola normal ketika China menjadi salah satu pembeli terbesar minyak mentah dunia.

Analis senior pasar minyak Sparta Commodities June Goh mengatakan kilang-kilang di Asia saat ini telah memiliki pasokan yang cukup hingga Agustus.

"Minyak yang baru keluar dari Selat Hormuz hanya menambah kelebihan pasokan karena permintaan dari China belum meningkat," ujarnya.

Tekanan terhadap harga semakin besar setelah AS kembali mengizinkan penjualan minyak Iran selama 60 hari sebagai bagian dari upaya mencapai kesepakatan damai permanen dengan Teheran.

Kepala Analis Pasar KCM Trade Tim Waterer menilai produksi dan ekspor minyak Iran berpotensi meningkat dengan cepat apabila sanksi benar-benar dilonggarkan.

"Jika sanksi dilonggarkan, produksi dan ekspor Iran dapat meningkat relatif cepat mengingat besarnya volume minyak yang saat ini tersimpan di kapal tanker. Kemungkinan hanya membutuhkan hitungan minggu, bukan bulan," kata Waterer.

ISNA/AMIRHOSSEIN KHORGOOEI via AFP Kapal-kapal terlihat mengantre di Selat Hormuz, saat difoto dari Bandar Abbas, Iran selatan, 4 Mei 2026.

JPMorgan Pangkas Proyeksi Harga Minyak

Meningkatnya pasokan membuat pasar kembali memperhitungkan kemungkinan surplus minyak global dalam beberapa kuartal ke depan.

Badan Energi Internasional (IEA) pekan lalu memperkirakan pasar minyak dunia berpotensi mengalami kelebihan pasokan yang signifikan pada 2027 apabila produksi terus meningkat sementara pertumbuhan permintaan melambat.

Prospek tersebut mendorong JPMorgan memangkas proyeksi harga minyak Brent untuk paruh kedua 2026.

Bank investasi tersebut menilai penurunan persediaan komersial di negara-negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) lebih rendah dari perkiraan, sementara permintaan minyak global menunjukkan tanda-tanda melemah.

JPMorgan kini memperkirakan harga Brent rata-rata berada di level 86 dollar AS per barrel pada kuartal III 2026 dan turun menjadi sekitar 80 dollar AS per barrel pada kuartal IV 2026.

Meski demikian, pasar masih mencermati ketahanan kesepakatan damai antara AS dan Iran. Presiden AS Donald Trump mengklaim Iran telah menyetujui inspeksi program nuklir tanpa batas waktu, namun pernyataan tersebut dibantah oleh pihak Teheran.

Perbedaan sikap kedua negara itu menunjukkan bahwa risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang.

Karena itu, pelaku pasar masih mewaspadai kemungkinan munculnya kembali gangguan pasokan yang dapat mengubah arah pergerakan harga minyak dalam beberapa bulan mendatang.

Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Harga Minyak Dunia Anjlok 4 Persen ke Kisaran 70 Dollar AS, Arus Kapal di Selat Hormuz Mulai Normaldan 35 Juta Barrel Minyak Keluar dari Selat Hormuz Setelah Konflik Mereda

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#minyak-mentah #harga-minyak-dunia #harga-minyak #pasokan-minyak #selat-hormuz #harga-minyak-brent

https://money.kompas.com/read/2026/06/25/083553926/selat-hormuz-kembali-ramai-harga-minyak-jatuh-ke-70-dollar-as