Bahlil Sebut Tabung CNG 3 Kg Mulai Diproduksi Juli 2026
Pemerintah menyiapkan tabung CNG 3 kg sebagai alternatif LPG subsidi. Produksi ditargetkan mulai Juli 2026 usai uji tahap ketiga.
(Kompas.com) 25/06/26 18:44 259943
JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menargetkan produksi tabung compressed natural gas (CNG) ukuran 3 kilogram (kg) untuk rumah tangga mulai berjalan pada Juli 2026.
Pemerintah saat ini masih menjalankan uji coba tahap ketiga terhadap tabungCNG yang disiapkan sebagai alternatif pengganti liquefied petroleum gas (LPG) 3 kg.
Tabung tersebut dilengkapi katup (valve) khusus karena gas CNG memiliki tekanan mencapai 200 hingga 250 bar.
Bahlil mengatakan, masyarakat tidak perlu mengganti kompor yang digunakan saat beralih ke tabung CNG. Pemerintah juga terus menguji aspek keamanan tabung, termasuk ketahanannya terhadap ledakan dan kebakaran.
"Itu bisa menahan peledakan dan kebakaran sampai 1.000 cc. Itu sudah sekarang lagi diuji tahap ketiga, mudah-mudahan bulan Juli sudah bisa produksi," ujar Bahlil dalam Energy Forum di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (25/6/2026).
Pengembangan tabung CNG 3 kg dilakukan pemerintah bersama PT Pertamina (Persero).
Bahlil menjelaskan, teknologi CNG bukan hal baru. Teknologi tersebut sudah digunakan di berbagai sektor, termasuk industri dan kegiatan komersial.
Tabung CNG berkapasitas 12 kg dan 50 kg saat ini sudah dimanfaatkan untuk dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG), hotel, serta restoran.
Karena itu, pemerintah hanya memperluas pemanfaatannya ke rumah tangga penerima subsidi energi.
"Ini bukan barang muncul tiba-tiba dari Fak-Fak datang, tidak, ini sudah ada," kata Bahlil.
Menurut dia, penggunaan CNG didorong oleh ketersediaan gas alam domestik yang melimpah.
Bahlil mencontohkan penemuan cadangan gas oleh perusahaan energi asal Italia, ENI, di Kalimantan Timur. Cadangan tersebut diperkirakan mencapai sekitar 5 triliun kaki kubik (TCF), ditambah sekitar 2 TCF lainnya.
Lapangan gas tersebut diperkirakan mulai berproduksi pada 2028 hingga 2029 dengan kapasitas mencapai 3.000 million standard cubic feet per day (MMSCFD).
Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan kebutuhan gas untuk menggantikan konsumsi LPG nasional yang diperkirakan kurang dari 800 MMSCFD.
"Maka kita dorong sekarang CNG. CNG itu gasnya pakai C1, C2 dan itu melimpah di Indonesia," ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang