IHSG Masih Bergejolak, Analis Sarankan Emiten Pasang Harga IPO Lebih Realistis

IHSG Masih Bergejolak, Analis Sarankan Emiten Pasang Harga IPO Lebih Realistis

Pasar saham bergejolak bukan alasan tunda IPO. Kuncinya? Harga realistis dan fundamental kuat. Raih dana, tingkatkan citra, hindari opportunity cost.

(Kompas.com) 26/06/26 09:01 260317

JAKARTA, KOMPAS.com - Kondisi pasar saham yang masih bergejolak dinilai bukan menjadi alasan bagi perusahaan untuk menunda penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO).

Kendati begitu, saat volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), emiten justru disarankan menetapkan harga saham secara realistis agar tetap menarik minat investor dan meningkatkan peluang penyerapan saham ketika perusahaan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Terdapat enam perusahaan dari berbagai sektor yang bakal melantai di pasar modal tanah air, baik sektor consumer non-cyclicals, consumer cyclicals, industri hingga kesehatan.

Keenam calon emiten tersebut terdiri dari PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk (RANS), PT Bach Multi Global Tbk (BACH), PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI), PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) dan PT Niramas Utama Tbk (JELI). Perusahaan-perusahaan ini mulai mencatatkan sahamnya pada awal Juli 2026.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan pergerakan IHSG berpengaruh signifikan terhadap keberhasilan IPO suatu perusahaan, terutama dari sisi sentiment jangka pendek dan likuiditas saat saham mulai diperdagangkan di bursa.

Volatilitas pasar berpotensi menurunkan minat investor untuk berpartisipasi dalam IPO. Pasalnya, investor khawatir harga saham akan langsung terkoreksi setelah resmi melantai di bursa.

“Biasanya kualitas IHSG itu memang memiliki pengaruh yang signifikan, terutama pada sentiment jangka pendek dan likuiditas saat melantai (IPO). Ini takutnya minat partisipasi itu, IPO bisa menyusut karena kekhawatiran harga saham langsung terkoreksi saat listing,” ujar Nafan saat dihubungi Kompas.com, Kamis malam (25/6/2026).

Meski demikian, ia menilai kondisi tersebut tidak selalu menjadi penghalang bagi investor institusi yang berorientasi jangka panjang.

Selama emiten memiliki fundamental yang kuat, prospek bisnis yang jelas, serta tingkat profitabilitas yang tinggi, saham perusahaan masih layak dipertimbangkan sebagai investasi.

Namun, investor institusi umumnya menginginkan valuasi IPO yang lebih menarik.

Mereka cenderung meminta discount valuasi yang lebih besar agar memiliki kepastian margin of safety (MOS) yang memadai sehingga risiko investasi dapat ditekan.

“Tapi yang jelas si investor institusi jangka panjang itu, tentu menghendaki discount. Discount valuasi yang lebih besar, supaya bisa mendapatkan kepastian margin of safety,” paparnya.

Karena itu, harga penawaran saham perdana sebaiknya dipatok pada valuasi yang relatif murah, terutama ketika kondisi pasar masih bergejolak.

Valuasi IPO sangat dipengaruhi oleh kondisi pasar. Ketika pasar sedang fluktuatif, harga saham perdana umumnya ditawarkan dengan valuasi yang lebih rendah atau terdiskon agar tetap menarik minat investor.

Sebaliknya, saat pasar berada dalam tren bullish, emiten memiliki posisi tawar yang lebih kuat untuk menetapkan harga saham pada kisaran atas, bahkan menggunakan valuasi premium.

Oleh sebab itu, Nafan mengatakan penjamin emisi efek (underwriter) umumnya akan menyarankan emiten untuk bersikap realistis dalam menentukan harga penawaran apabila kondisi pasar masih berfluktuasi.

Strategi tersebut dapat meningkatkan peluang keberhasilan IPO, sekaligus menjaga minat investor terhadap saham yang ditawarkan.

“Tapi sebaiknya jika pasar fluktuatif, maka underwriter itu menyarankan emiten, itu biasanya disarankan emiten itu ke realistis dalam pricing,” kata Nafan.

Tunda IPO?

Nafan menilai keputusan perusahaan untuk tetap melaksanakan go public bergantung pada tujuan strategis, serta tingkat urgensi kebutuhan pendanaan masing-masing calon emiten.

Bagi perusahaan yang tengah menjalankan ekspansi atau memiliki kewajiban refinancing yang sudah mendekati jatuh tempo, menunda IPO justru dapat menimbulkan opportunity cost yang lebih besar dibandingkan risiko yang muncul akibat volatilitas pasar.

Salah satu pertimbangan utama calon emiten tetap mengambil momentum IPO saat ini adalah kebutuhan modal yang bersifat mendesak.

Pasalnya, ekspansi usaha membutuhkan tambahan dana untuk membiayai belanja modal (capital expenditure/capex) dan berbagai rencana pengembangan bisnis.

Selain itu, IPO juga memberikan kepastian pendanaan bagi perusahaan.

Di tengah era suku bunga yang masih tinggi, pendanaan melalui pasar modal dinilai lebih efisien dibandingkan mengandalkan pinjaman perbankan yang akan menambah beban bunga perusahaan.

“Kalau lebih mengandalkan pinjaman bank tentu akan ada beban bunga. Sementara melalui IPO, perusahaan tidak memiliki beban bunga seperti pembiayaan utang,” ucap dia.

Ia menambahkan, menjadi perusahaan terbuka juga menunjukkan komitmen emiten dalam menerapkan tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance (GCG).

Di saat yang sama, status sebagai perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia juga dapat meningkatkan eksposur merek (brand exposure) dan memperkuat citra perusahaan di mata investor maupun publik.

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor.

Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#ipo #volatilitas-pasar #harga-saham-realistis #pendanaan-perusahaan

https://money.kompas.com/read/2026/06/26/090100926/ihsg-masih-bergejolak-analis-sarankan-emiten-pasang-harga-ipo-lebih-realistis