Komut Pertamina Dorong Direksi Bahas Penurunan Harga BBM Non Subsidi
Arahan itu menyusul harga minyak mentah (crude oil) yang berangsur turun seiring kesepakatan damai Amerika Serikat (AS) dengan Iran di Swiss.
(Kompas.com) 26/06/26 13:55 260649
JAKARTA, KOMPAS.com - Komisaris Utama (Komut) PT Pertamina (Persero) Mochamad Iriawan alias Iwan Bule mendorong jajaran direksi untuk membahas penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi secara bertahap mulai awal Juli.
Iwan mengatakan, arahan itu menyusul harga minyak mentah (crude oil) yang berangsur turun seiring kesepakatan damai Amerika Serikat (AS) dengan Iran di Swiss.
“Yang pasti kami dari jajaran dewan komisaris mendorong direksi manajemen untuk segera menyesuaikan dengan harga minyak yang di dunia sudah mulai turun,” kata Iwan saat ditemui di Kompleks Masjid Darussalam, Taman Patra XV, Kuningan, Jakarta, Jumat (26/6/2026).
Iwan mengatakan, harga BBM non subsidi yang saat ini berlaku ditetapkan berdasarkan harga crude oil beberapa waktu lalu ketika harga crude oil naik dengan rata-rata 80 dollar AS (Rp1.433.760) per bareel imbas perang di Kawasan Teluk.
Data The Economics menyebut, harga minyak mentah WTI terpantau di 71 dollar AS (Rp1.272.462) per barrel.
“Kita sedang memformulasikan, mendiskusikan. Yang jelas harga minyak hari ini kan diprosesnya bulan kemarin,” ujar Iwan.
Menurutnya, meskipun harga minyak mentah sudah turun Pertamina tidak bisa langsung menurunkan harga BBM non subsidi dalam waktu yang sama.
Sebab, BBM yang saat ini beredar menggunakan stok pembelian ketika minyak dunia masih tinggi.
Di sisi lain, Pertamina memiliki prosedur atau mekanisme dalam menurunkan harga BBM non subsidi.
Iwan berharap, harga BBM non subsidi bisa turun sesuai harapan masyarakat meskipun harga minyak mentah saat ini belum kembali seperti sebelum perang.
Untuk di ketahui, sebelum pernag meletus pada 28 Februari harga minyak dunia di kisaran 60 dollar AS (Rp1.075.440) per barrel.
“Karena minyak yang sekarang ini diproses bulan yang lalu gitu dengan harga yang lalu. Dan tentunya kalau turunnya kemarin beberapa hari yang lalu, kita akan menyesuaikan nanti,” jelas Iwan.
Ia mengaku memberikan arahan itu karena menjalankan amanat Presiden Prabowo Subianto untuk memperhatikan kepentingan masyarakat luas.
Beberapa waktu udai dilantik sebagai Komut PT Pertamina, dirinya dipanggil Prabowo dan mendaoatkan sejumlah wejangan.
“Pesan itu saya maknai sebagai kewajiban mutlak untuk mengutamakan kepentingan bangsa, menjaga integritas, dan memastikan Pertamina benar-benar bekerja untuk masyarakat Indonesia," tutur Iwan.
Purnawirawan jenderal bintang tiga Polri itu menangkap kegelisahan masyarakat terkait BBM non subsidi yang belum disesuaikan meski harga minyak mentah dunia sudah turun.
Oleh karena itu, ia memberikan penjelasan kepada masyarakat bahwa penyesuaian harga BBM non subsidi tidak bisa seketika dilakukan.
“minyak yang kita proses dan distribusikan saat ini sebenarnya adalah hasil pembelian dengan harga rata-rata bulan lalu, yang posisinya saat itu memang masih relatif tinggi, di atas USD 80 per barel. Ada jeda waktu dalam proses pengadaan hingga produksi,” tuturnya.
Diketahui, perusahaan minyak dan gas negara, PT Pertamina (Persero) akhirnya menaikkan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green pada dini hari tadi.
Harga Pertamax yang sebelumnya Rp 12.300 per liter naik Rp 3.950 menjadi Rp 16.250 per liter. Sementara, Pertamax Green naik Rp 4.100 dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter,
Pertamina akhirnya memutuskan menaikkan harga BBM non-subsidi setelah menahan kenaikan harga minyak dunia beberapa bulan terakhir.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#harga-minyak #pertamina #harga-bbm-turun #bbm-non-subsidi #harga-bbm-non-subsidi