IMF: Harga Minyak Turun, Ancaman Ekonomi Global Belum Hilang

IMF: Harga Minyak Turun, Ancaman Ekonomi Global Belum Hilang

IMF mengingatkan proses normalisasi belum akan berlangsung cepat dan sejumlah risiko masih membayangi, terutama bagi negara-negara pengimpor energi.

(Kompas.com) 29/06/26 09:19 262394

KOMPAS.com – Dana Moneter Internasional (IMF) menilai gencatan senjata di Timur Tengah dan langkah menuju pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi perkembangan positif bagi perekonomian global.

Meski demikian, lembaga tersebut mengingatkan proses normalisasi belum akan berlangsung cepat dan sejumlah risiko masih membayangi, terutama bagi negara-negara pengimpor energi.

Konflik di Timur Tengah yang pecah pada 28 Februari 2026 sempat memicu guncangan besar terhadap ekonomi global.

ISNA/AMIRHOSSEIN KHORGOOEI via AFP Kapal-kapal terlihat mengantre di Selat Hormuz, saat difoto dari Bandar Abbas, Iran selatan, 4 Mei 2026.

Perang yang melibatkan Amerika Serikat (AS) Israel, dan Iran mengganggu lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.

Gangguan tersebut memicu lonjakan harga minyak, gas alam, pupuk, hingga biaya pengiriman internasional.

Selain pasar energi, konflik juga mengganggu perdagangan pupuk dunia.

Reuters melaporkan, selama sekitar tiga setengah bulan perang berlangsung, ekspor pupuk urea dan sulfur melalui Selat Hormuz merosot tajam.

Padahal, kawasan Teluk menyumbang sekitar sepertiga perdagangan urea dunia dan hampir setengah perdagangan sulfur melalui jalur laut.

Kondisi itu sempat meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan pangan global karena harga pupuk melonjak dan sebagian petani mengurangi penggunaan pupuk.

Seiring tercapainya gencatan senjata dan dimulainya kembali aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, tekanan terhadap pasar energi mulai mereda.

Namun, arus perdagangan belum sepenuhnya pulih karena masih banyak kapal yang tertahan serta infrastruktur energi yang rusak akibat perang.

SEPAH NEWS via AFP Kapal-kapal perahu bermanuver mengelilingi kapal militer dalam latihan Garda Revolusi Iran (IRGC) di Selat Hormuz, 17 Februari 2026.

Dalam konferensi pers IMF, Kamis (25/6/2026) pekan lalu, Direktur Departemen Komunikasi IMF Julie Kozack mengatakan perang di Timur Tengah kembali menguji ketahanan ekonomi global.

Menurut dia, kerangka penilaian yang digunakan IMF sejak April lalu masih tetap relevan dalam melihat dampak konflik tersebut terhadap perekonomian dunia.

"Apa yang kami lihat adalah perang di Timur Tengah kembali menguji ketahanan ekonomi global," kata Kozack, dikutip dari laman resmi IMF, Senin (29/6/2026).

Ia menjelaskan, IMF masih menggunakan tiga jalur utama dalam menilai dampak perang terhadap ekonomi global, yakni melalui pergerakan harga komoditas terutama minyak, dampak lanjutan terhadap inflasi dan ekspektasi inflasi, serta kondisi keuangan global.

Selain itu, IMF juga tetap menaruh perhatian pada dampak yang tidak merata di berbagai negara, terutama negara-negara berkembang yang rentan.

"Kami juga sangat fokus pada dampak perang yang tidak merata, dengan banyak negara, terutama di Afrika, menjadi yang paling rentan karena merupakan pengimpor bersih minyak dan memiliki ruang fiskal atau bantalan ekonomi yang terbatas untuk merespons krisis," ujar Kozack.

Harga minyak dunia mulai turun

Menurut IMF, penghentian sementara konflik dan jalur menuju pembukaan kembali Selat Hormuz merupakan perkembangan yang disambut baik.

"Kami menyambut baik penghentian permusuhan, langkah menuju pembukaan kembali Selat Hormuz, serta gencatan senjata. Jika kondisi ini dapat dipertahankan, tentu akan mendukung perekonomian global," terang Kozack.

Dari sisi harga komoditas, IMF mencatat harga minyak dunia mulai bergerak turun dari level tertingginya. Meski demikian, harga minyak masih berada sekitar 10 persen di atas level sebelum perang pecah.

FREEPIK/ARTPHOTO_STUDIO Ilustrasi harga minyak dunia.

"Apa yang kita lihat saat ini adalah harga minyak telah turun dari puncaknya dan kini berada sekitar 10 persen di atas level sebelum perang," tutur dia.

Penurunan juga terjadi pada sejumlah komoditas lain yang sebelumnya sempat mengganggu aktivitas ekonomi global.

Kozack mengatakan harga bahan bakar pesawat (jet fuel) alias avtur telah turun meskipun masih lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik berlangsung. Harga gas alam juga mengalami penurunan, demikian pula harga logam dasar.

"Kita juga melihat penurunan pada banyak harga komoditas lainnya. Harga gas alam turun, harga logam dasar mulai menurun. Kita pun melihat penurunan pada harga urea dan beberapa jenis pupuk," ucap dia.

Menurut Kozack, penurunan tersebut menunjukkan tekanan pada pasar komoditas mulai berkurang.

Namun, proses normalisasi penuh masih memerlukan waktu karena distribusi barang melalui jalur pelayaran internasional belum sepenuhnya pulih.

Normalisasi masih membutuhkan waktu

Meski tekanan harga komoditas mulai mereda, IMF mengingatkan proses normalisasi rantai pasok tidak dapat berlangsung secara instan.

Menurut Kozack, kapal-kapal yang sempat terdampak gangguan pelayaran di Selat Hormuz masih membutuhkan waktu untuk mencapai tujuan, membongkar muatan, hingga barang akhirnya sampai kepada konsumen maupun pelaku usaha.

"Masih diperlukan waktu sebelum kita benar-benar kembali ke kondisi normal. Tentu semua itu juga bergantung pada apakah gencatan senjata dapat terus dipertahankan," ujar dia.

Inflasi dan suku bunga tetap menjadi perhatian

Selain harga komoditas, IMF juga terus memantau perkembangan inflasi dan ekspektasi inflasi.

Kozack mengatakan sejumlah bank sentral telah memilih menaikkan suku bunga sebagai respons terhadap tekanan yang muncul, sementara bank sentral lainnya masih mempertahankan kebijakan moneternya.

SHUTTERSTOCK/JANEWS Ilustrasi suku bunga, suku bunga acuan.

"Kami melihat beberapa bank sentral mengambil langkah menaikkan suku bunga, sementara yang lain tetap mempertahankan posisinya," kata dia.

Secara umum, IMF menilai ekspektasi inflasi global masih terjaga.

"Secara umum kami melihat ekspektasi inflasi masih tetap terjangkar dengan baik. Namun kami tetap merekomendasikan agar bank-bank sentral waspada terhadap kemungkinan ekspektasi inflasi menjadi tidak lagi terjangkar," ungkap Kozack.

Kondisi keuangan masih longgar

IMF juga menilai kondisi keuangan global hingga kini masih relatif akomodatif, baik di negara maju maupun negara berkembang.

Menurut Kozack, premi risiko pembiayaan masih rendah, sehingga akses pendanaan internasional masih tersedia bagi banyak negara.

"Kami melihat kondisi keuangan tetap cukup akomodatif, tidak hanya di negara maju tetapi juga di negara berkembang, di mana spread masih cukup rendah dan pembiayaan masih tersedia. Kami juga melihat negara-negara masih mampu menerbitkan surat utang di pasar internasional," katanya.

Negara pengimpor energi tetap paling rentan

Meski situasi mulai membaik, IMF menilai negara-negara pengimpor bersih energi masih menjadi kelompok yang paling berisiko apabila kembali terjadi gejolak.

Kozack mengatakan perhatian utama IMF tetap tertuju pada negara-negara yang memiliki ruang fiskal terbatas maupun cadangan energi yang minim.

"Yang paling kami khawatirkan adalah negara-negara pengimpor net energi yang memiliki bantalan fiskal terbatas atau cadangan lain yang terbatas, seperti stok cadangan minyak. Di sanalah kami melihat perbedaan dampak yang paling nyata, sehingga kami terus memfokuskan dukungan kepada kelompok negara tersebut," sebut Kozack.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#selat-hormuz #harga-minyak #imf #ekonomi-global #suku-bunga #gencatan-senjata-di-timur-tengah

https://money.kompas.com/read/2026/06/29/091900226/imf--harga-minyak-turun-ancaman-ekonomi-global-belum-hilang