Kredibilitas Jajaran Direksi BEI dan Ambisi Tembus Top 10 Bursa Dunia
BEI menetapkan direksi baru 2026-2030 dengan target masuk 10 besar bursa dunia. Fokus pada kredibilitas, inklusi investor, dan modernisasi teknologi.
(Bisnis.Com) 30/06/26 15:34 263856
Bisnis.com, JAKARTA – Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menetapkan jajaran direksi baru masa jabatan 2026-2030. Nama-nama yang mengisi jabatan tersebut dinilai memiliki kapasitas untuk membawa bursa Indonesia semakin berkembang.
Target yang dipasang tak tanggung-tanggung, BEI membidik target membawa bursa Indonesia masuk 10 besar bursa global dari ukuran kapitalisasi pasar dan/atau nilai transaksi.
Posisi Direktur Utama diisi oleh Jeffrey Hendrik yang memiliki karier panjang di industri keuangan sejak 1994. Sementara posisi Direktur Penilaian Perusahaan dijabat oleh Saidu Solihin yang jabatan terakhirnya sebagai Direktur Pengembangan Bisnis dan Operasional PT Kliring Berjangka Indonesia.
Kemudian, ada Irvan Susandy yang tetap dipercaya menjadi Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa. Sementara itu, Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan dijabat oleh Yulianto Aji Sadono yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Divisi Pengawasan Transaksi.
Selanjutnya, posisi Direktur Teknologi Informasi dan Manajemen Risiko dijabat oleh Abdul Munim yang sebelumnya dipercaya menjadi Konsultan Project Manager Pembaruan Sistem Perdagangan dan Pengawasan (PSPP) BEI.
Sementara itu, Iding Pardi yang sebelumnya mengisi posisi Direktur Utama PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dipercaya membantu Jeffrey sebagai Direktur Pengembangan. Terakhir, ada nama Umi Kulsum yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Teknologi Informasi dan Dukungan Bisnis PT KPEI dipercaya menjadi Direktur Keuangan dan Sumber Daya Manusia.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta melihat dari sisi kapabilitas direksi, jajaran direksi baru saat ini diisi oleh kombinasi regulator dan profesional yang sangat memahami seluk-beluk pasar keuangan Indonesia.
"Jeffrey Hendrik yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Pengembangan BEI memiliki modal kuat dalam aspek pendalaman pasar (market deepening). Selain itu, kehadiran figur-figur berpengalaman di bidang penilaian perusahaan seperti Saidu Solihin serta perdagangan, Irvan Susandy, memberikan keyakinan bahwa infrastruktur pasar akan dikelola secara kompeten," kata Nafan, Senin (30/6/2026).
Nafan melihat, proyeksi dan harapan publik terhadap kepemimpinan Jeffrey Hendrik Cs membawa bursa Indonesia ke top 10 bursa dunia meliputi bagaimana direksi baru menjaga kepercayaan global pasca-isu kredibilitas imbas penilaian MSCI dan FTSE.
Menurutnya, tantangan terdekat direksi baru adalah meyakinkan kembali lembaga pembuat indeks internasional seperti MSCI atau FTSE, bahwa pasar modal Indonesia tetap likuid, efisien, dan memiliki aksesibilitas yang wajar tanpa hambatan struktural.
Kedua adalah faktor inklusi yang berkualitas. Nafan bilang, target pertumbuhan jumlah investor ke angka 35 juta tidak boleh sekadar menjadi angka statistik dormant account (akun pasif). Harapannya, direksi baru dapat menyeimbangkan antara program literasi keuangan yang masif dan mitigasi risiko investasi, agar pertumbuhan investor berjalan selaras dengan peningkatan nilai transaksi harian yang stabil.
"Ketiga adalah modernisasi teknologi dan infrastruktur pasar. Dengan target RNTH Rp31 triliun, sistem perdagangan bursa (JATS) dan manajemen risiko harus dipastikan memiliki ketahanan teknologi yang tinggi terhadap lonjakan frekuensi transaksi guna menghindari system downtime," tandasnya.
#bursa-efek-indonesia #direksi-baru-bei #top-10-bursa-dunia #kapitalisasi-pasar #nilai-transaksi #jeffrey-hendrik #saidu-solihin #irvan-susandy #yulianto-aji-sadono #abdul-munim #umi-kulsum #iding-pard